Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 66


__ADS_3

"Aku ada di depan."


Suara dingin Victor membuat Archa tersentak. Ia menyerahkannya kepada Valerie. "Suamimu sudah tiba di depan."


Valerie mengambil ponselnya dengan acuh tak acuh. "Ya."


Rea ikut berdiri. "Aku juga akan mengantarmu ke depan."


Akhirnya ketiga orang itu ikut ke depan. Saat tiba di dekat pintu, mereka melihat mobil hitam menarik perhatian. Lalu, keluarlah seorang pria tinggi dengan bekas luka di wajahnya.


Mata kabur Valerie langsung berbinar saat melihat Victor. "Aku akan pergi duluan. Sampai jumpa!"


"Baiklah. Sampai jumpa." Archa melihat tatapan Valerie dan menggeleng pelan. Apakah temannya ini sudah benar-benar menyukai pria itu?


"Hati-hati, Valerie. Jika kamu sakit kepala, kamu harus segera meminum sup penghilang mabuk," tutur Rea.


"Ya." Valerie melambai. "By."


Alta masih terkejut saat melihat Victor. Ia sangat mengenal siapa pria ini, tetapi masih saja terkejut saat melihatnya walaupun ia sudah tahu kalau dia adalah suami teman pacarnya. Ia segera mengalihkan pandangan ke arah Rea. "Ayo kembali."


***


Saat Valerie duduk di sampingnya, Victor bisa mencium alkohol dari wanita itu. Ia langsung mengerutkan kening. "Apakah Kamu minum?"


Valerie merasa pipinya panas, kepalanya pusing, dan penglihatannya kabur. Saat mendengar pertanyaan Victor, ia menyangkal. "Tidak."


Tiba-tiba Victor mencondongkan tubuh ke arah Valerie. Ia mengendus dan mencoba untuk memastikan dengan indra penciumannya. Aroma susu dan anggur mengalir ke hidungnya. Victor mencibir. "Sudah jelas bahwa kamu memang minum."


Valerie hanya merasa wajahnya semakin panas saat Victor mendekat dan mendengar suaranya yang magnetik. Kepalanya yang pusing dan matanya yang kurang jelas melihat membuat Valerie hanya diam tanpa menjauh atau menyangkal.


"Apakah kamu benar-benar mabuk?" tanyanya curiga.

__ADS_1


"Hmm ... Aku tidak tahu," balas Valeri linglung. "Aku hanya minum sedikit ... tapi kepalaku pusing. Aku ..."


"Jangan minum lagi," potongnya dingin.


Mata Valerie berkedip mencoba menjernihkan pikiran dan penglihatannya. "Apakah kamu marah jika aku minum lagi lain kali?"


"Aku marah." Alis Victor berkerut erat dengan ekspresi tidak senang.


Valerie menyenderkan kepalanya begitu saja di bahu Victor. Suaranya lembut dengan keluhan. "Jangan marah. Aku tidak akan minum lagi."


Jelas Victor tersentak saat merasakan sesuatu yang berat di bahunya. Ia mengulurkan tangan untuk menyingkirkan, tetapi tangannya menyentuh pipinya yang lembut. Valerie langsung menumpu tangan besar itu menutupi seluruh pipinya. "Jangan marah lagi, oke?"


Victor menekan tombol di dalam mobil untuk menaikan penghalang antara co-pilot dan kursi belakang. Setelah aman dari penglihatan sopir, Victor menoleh ke sisi Valerie. "Kamu semakin berani."


"Ah? Benarkah?" tanyanya dengan bingung.


Victor mencubit pipinya lembut dan bertanya rendah. "Kenapa kamu sangat khawatir aku akan marah?"


"Aku ..." Valerie yang mengantuk mencoba untuk tetap pada kesadarannya. "Aku merasa tidak nyaman jika kamu marah. Tapi jika kamu ingin marah, marah saja. Lagi pula kamu udah di bujuk."


"Kamu mudah di bujuk olehku," ulangnya dengan ekspresi polos.


"Apakah kamu menganggapku bodoh?" tanyanya dingin.


Valerie bingung. Apakah ia salah berkata?


"Aku ... tidak ...."


"Nilai marah: 5."


Rasa sakit dan deringan di kepala membuat Valerie terkejut. Ia duduk tegak dan menatap pria itu sedih. "Mengapa kamu marah?"

__ADS_1


Victor bergeming. Valerie langsung mengulurkan tangan memegang kedua sisi wajahnya hingga mereka berjarak dekat. "Tolong, jangan marah. Aku ... aku hanya bercanda!"


Telapak tangan itu lembut dan hangat membuat luka di sisi wajahnya berkedut keras. "Kamu mabuk! Jangan melakukan hal bodoh!"


"Aku tidak mabuk!" sanggahnya keras. "Jangan marah lagi. Aku merasa tidak nyaman, Victor."


Suara memohonnya membuat Victor menyipitkan mata penuh arti. "Baiklah. Aku tidak akan marah jika kamu berhasil membujuk atau memujiku."


Valerie segera tersenyum. Ia membelai lembut bekas luka di wajahnya yang semakin membaik. "Victor, kamu sangat tampan, dan kamu yang terbaik untukku."


Victor sedikit terkejut. Lalu ia mengangkat alis dengan senyum mengejek. "Benarkah? Jangan munafik. Sebelumnya kamu sangat muak dan sangat jijik padaku."


"Aku tidak berbohong. Aku mengatakan yang sebenarnya bagiku. Aku juga tidak membahas sebelumnya, tapi sekarang. Kamu benar-benar tampan di mataku ...." Seolah membual, tetapi nada suara ValerIe terdengar sangat tulus.


Victor mengangkat sudut mulutnya dengan puas. Valerie melihat senyumnya, tapi deringan di benaknya tidak kunjung berhenti.


Tiba-tiba, tubuhnya di tarik ke pelukan dingin pria itu. Ia bisa merasakan pria itu mengendus dan menghirup rakus aroma tubuhnya. Lalu suara rendahnya terdengar. "Sepertinya kamu memang mabuk, sehingga kamu membual tentangku. Tapi tidak apa-apa, aku menyukai kata-katamu."


Valerie ingin mengatakan sesuatu, tapi tertelan kembali. Suasana menjadi hening. Pelukan dingin itu me jadi hangat untuk Vlaerie.


"Valerie," panggilnya tiba-tiba.


"Ah, ya?" sahutnya Refleks.


Pria itu terdiam sejenak. Ekspresinya yang serius tidak sesuai dengan permintaannya. "Jika aku ingin menciummu, apakah kamu akan memberikannya?"


Valerie tertegun. Lalu segera wajahnya menjadi panas. "Tapi kamu ... kamu jangan marah lagi."


Victor melepaskan pelukannya. Valerie mengangkat kepala dan menatap wajahnya yang tersorot samar-samar cahaya lampu dari luar jendela mobil.


"Oke."

__ADS_1


Tepat saat suara jatuh, wajah di depannya di perbesar. Lalu bibirnya bersentuhan dengan sesuatu yang hangat.


"Nilai marah: 0."


__ADS_2