Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 38


__ADS_3

"Victor! Jika kamu berani melawan lagi, aku akan menyakiti anakmu!"


Awalnya, Sean sama sekali tidak ingin menyakiti anak kecil ini. Lagu pula, dendamnya tertuju pada Victor. Tetapi, tidak menduga Victor masih bisa mengalahkan mereka walaupun buta. Sean marah


Wajah Victor tenggelam. "Jika kamu menggerakkan bahkan satu rambutnya saja, kamu hanya perlu menunggu kebangkrutan keluargamu."


Selain itu, kesombongan Victor seperti inilah yang paling membuat Sean geram dan benci. Ia memegang Lucher erat. Tanpa peduli dengan ancaman Victor, ia berkata kejam. "Jika kamu tidak melawan, maka putramu akan baik-baik saja.


Sean melirik teman-temannya yang sudah berdiri. "Pukul dia."


Pria bernama Zero memukul dada Victor. Sebelumnya dadanya sangat sakit, dan ia sedikit puas membalas. Selain itu, dia memukul Victor di tempat sebelumnya ia di pukul.


Suara tinju mengenai tulang terdengar, tapi ekspresi Victor tidak berubah. Ia hanya sedikit mundur, tapi masih berdiri kokoh. Yang lainnya menendang Victor dengan senyum puas di wajah mereka.


Victor tidak berucap sepatah kata pun, tetapi ekspresinya yang berkerut menunjukkan bahwa dia kesakitan.


"Ayah ... jangan sakiti ayahku ...." Lucher berjuang mati-matian untuk keluar dari pegangan Sean. Air mata terus mengalir.


Di aula, lampu yang bersinar agak redup, dan lagu merdu pernikahan memenuhi ruangan.


Jian menuangkan segelas jus kepada Riana dengan mesra. "Sebentar lagi pesta akan di mulai."

__ADS_1


"Ya." Riana tersenyum dan mengambil gelas itu.


Valerie di samping mereka terduduk linglung. Hatinya semakin cemas, dan matanya terus berputar berharap Victor segera datang. Tetapi sudah beberapa menit lamanya, pria itu tidak datang. Sedangkan pesta pernikahan sudah di mulai, bahkan pengantin sudah masuk.


"Nilai marah: 30."


Semburan rasa sakit tiba-tiba muncul. Deringan yang bahkan menutupi musik di sekitarnya berdering keras di kepalanya. Mata Valerie terbelalak. Ia yakin, pasti terjadi sesuatu pada Victor.


Valerie menahan rasa sakit. Ia berdiri dan berkata kepada Jian. "Ayah, aku akan pergi dahulu mencari Victor. Aku takut dia tersesat, aku akan menemukannya."


Tanpa menunggu jawaban Jian, Valerie langsung bergegas pergi. Valerie melihat seorang pelayan yang baru saja masuk ke aula. Ia segera menghentikannya dan bertanya. "Maaf, aku mengganggumu. Apakah kamu melihat seorang pria tinggi dengan bekas luka di wajahnya bersama anak lelaki?"


Pelayan itu terdiam sejenak. Lalu mengangguk. "Aku melihatnya. Ia bertanya di mana letak kamar mandi, dan seorang anak kecil membawanya ke sana."


"Sama-sama."


Valerie langsung berlari ke arah kamar mandi. Hatinya semakin kalut. Saat sampai, ia langsung berteriak. "Victor? Lucher? Apakah kalian ada di dalam?"


Tidak ada tanggapan dari kamar mandi pria.


"Victor?! Apakah kamu di dalam?!" Valerie lebih mengeraskan suaranya.

__ADS_1


Tetap saja tidak ada jawaban. Sangat sunyi. Valerie menggigit bibirnya karena kecemasan yang semakin menyebar. Ia mengambil ponsel dan mencari nomor Victor yang sudah ia simpan.


Setelah menghubungi, Valerie menunggu lama sampai ponselnya mati sendiri dan tidak ada jawaban. Valerie mencengkeram ponsel erat saat merasakan tangannya bergetar.


"Ke mana mereka pergi?" monolog Valerie cemas.


Saat akan berbalik, ia mendengar suara ribut yang cukup jelas. Ia melihat ke tanda pintu dan segera berbalik lari. Ia berlari ke luar pintu aula dan terus mencarinya di sepanjang dinding luar.


Nafasnya berangsur-angsur berat karena lelah, ia sangat jarang berolahraga, jadi tentu saja sejauh ini nafasnya langsung terengah-engah. Tetapi ia terus mengitari tembok hotel untuk menemukannya. Sampai di sudut hotel, langkahnya tiba-tiba berhenti.


Valerie terperangah melihat pemandangan di depannya. Dadanya berdenyut sakit. Ia melihat Lucher yang menangis keras di pegang oleh seorang pria, lalu tidak jauh, seorang pria lainnya memegang gagang sapu dan memukuli Victor dengan kejam.


"Berhenti! Apa yang kalian lakukan!" teriak Valerie marah seraya berlari ke arah mereka.


Mereka menoleh dengan terkejut. Bahkan orang yang memukuli Victor, sapunya menggantung di udara. Sean langsung mengerutkan kening. "Berani sekali kamu menghentikan kami?! Pergi dan jangan menganggu!"


Seolah menemukan penyelamat, Lucher mengulurkan tangan ke arah Valerie dan menangis menyedihkan. "Hiks, lepaskan aku ..."


"Diam!" bentak Sean membuat Lucher langsung diam ketakutan.


Valerie mendekat dan mendorong serta menendang orang yang memukuli Victor dengan sepatu hak tingginya. Mungkin tak menduga wanita lembut seperti Valerie akan mendorongnya, ia langsung terjatuh ke lantai

__ADS_1


Setelah itu, Valerie berjongkok di samping Victor dan bertanya dengan suara gemetar. "Apakah kamu baik-baik saja?"


Valerie mengambil lengannya dan membantunya berdiri teguh. Victor tanpa sadar ingin menghindari tangannya, namun merasakan tubuhnya gemetar, ia hanya mendengus. "Aku baik-baik saja."


__ADS_2