Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 11


__ADS_3

Valerie membuat kue dengan lihai tanpa memerdulikan pandangan pelayan di sekitarnya.


Tentu saja para pelayan terkejut. Mereka sangat tahu, nyonya mereka adalah orang yang malas. Bukan hanya tidak pernah memasak, bahkan menginjak dapur pun sangat jarang.


Yang membuat Valeri begitu rajin, tentu saja bukan hanya untuk menyenangkan Victor, namun sebenarnya kepalanya terus berdering. Tentu saja penyebabnya karena mood Victor yang buruk. Ia bereaksi tenang karena sudah terbiasa akan rasa sakit familier ini.


Setiap sarapan pagi, biasanya selalu tersedia kue Victoria spange sebagai favorit Victor dan Lucher, namun pagi tadi tidak ada kue di karenakan kokinya mengambil cuti beberapa hari. Sepertinya tiada hari tanpa kue itu, ekspresi Victor langsung muram selama sarapan dan mungkin sampai saat ini. Bel itu membuat Valerie sangat risih.


Valerie mempercepat gerakannya saat kepalanya semakin sakit. Lalu setelah menghabiskan waktu lamanya, akhirnya kuenya sudah jadi. Ia langsung membawa kue itu menuju ruangan tempat Victor berada.


Di ruangan yang redup dan sunyi, seorang pria berbaju hitam duduk diam tak bergerak. Pria itu seolah sudah menyatu dengan kegelapan.


Valerie menyalakan lampu membuat sinar menyilaukan dari lampu tersebut menyinari seluruh sudut ruangan. Ia melangkah mendekat ke arah Victor dengan nampan di tangannya.


"Victor, aku membuatkan kue untukmu. Apakah kamu mau memakannya untukku?" Suara lembut Valerie memecahkan keheningan.


Victor yang tengah menikmati kegelapan dan kesunyian langsung kehilangan fokus. Ia merasa terganggu dan menjawab dingin. "Tidak."


Valerie tidak peduli. Ia membawa nampan dan meletakkan kue harum itu di depannya. Ekspresi Victor agak melunak. Valerie tersenyum kemenangan. Sudah ia duga, kue ini sudah menjadi makanan yang paling ia minati.


Valerie meletakkan piring kecil dan memotong kue itu dengan pisau menjadi bagian-bagian kecil. "Kamu harus menghargainya dengan mencobanya sedikit. Aku sudah membuatnya dengan sepenuh hati."


Melihatnya diam, Valerie tersenyum menggoda. "Jangan di tahan. Aku tau kamu sudah tergoda. Aku tidak keberatan jika kamu menghabiskan semuanya." 


Valerie memasukan garpu ke dalam kepalan tangan Victor dengan tidak hati-hati. Tangan Victor sedikit menegang karena kulit mereka bersentuhan hanya dalam satu detik. Valerie yang tidak memerhatikan terus mengoceh. "Koki yang biasanya membuat kue ini sudah mengambil cuti beberapa hari, jadi aku membuatnya sendiri untukmu. Atau.. apakah kamu khawatir aku membuatnya tidak enak?"


Valerie mengambil garpu perak lain dan memakan kue itu dengan santai. Rasa manis stroberi meleleh di lidahnya. "Hmm. Sangat enak."


Victor tergerak. Ia sedikitnya menoleh ke arah Valerie. "Aku hanya khawatir kue ini beracun."


"... Apa?" Valerie menatapnya terbelalak tidak percaya.


Ia sudah benar-benar membuatnya sepenuh hati, namun dengan santainya dia berkata kue ini di racun? Ekspresi Valerie manjadi agak marah. "Baik. Kalau begitu, aku akan mengambil kuenya kembali!"

__ADS_1


Valerie mengulurkan tangan untuk mengambil kembali kue di depannya, namun Victor langsung menahan sisi piring dan mengambil kue dengan garpu di tangannya. Kue itu langsung masuk ke dalam mulutnya.


Valerie mendengus. Ia berkata ketus. "Apakah kamu tidak takut mati karena keracunan kue ini? Kenapa sekarang kamu memakannya, hah?"


"Kamu sudah mencobanya. Aku tidak khawatir lagi."


"Nilai marah: 0."


Suara itu membuat kekesalan Valerie langsung lenyap. Sepertinya pria ini puas dengan kuenya.


Dengan senyuman, Valerie bertanya penuh harapan. "Apakah kue buatanku enak?"


Victor tidak berhenti makan kue. Krim merah muda tertempel di bibirnya. "Tidak buruk."


Senyum Valerie lenyap. Ia menatapnya datar. "Jawaban macam apa itu?"


Victor asik memakan kue tanpa menanggapi. Valerie menatapnya dengan ekspresi penuh kesabaran.


"Aku meminta pujianmu, bukan penilaianmu. Hmmp! Aku tidak yakin akan membuatkannya lagi lain kali."


Victor dengan jelas mendengar gumamannya walaupun Valerie sudah menjauh. Saat langkah kakinya sudah benar-benar menjauh dan menghilang, Victor menghentikan gerakan makannya.


Wajahnya menoleh ke tempat Valerie pergi dengan sudut bibir sedikit terangkat.


Ia memasukan kembali bagian kue ke dalam mulutnya. Walaupun tidak menunjukan banyak, sangat jelas bahwa ekspresinya tidak terlalu dingin seperti biasanya.


"Kenapa kue buatannya sangat enak?"


***


Valerie sudah membeli timbangan baru. Ia memakan sepotong kue dengan Victor tadi, ia tidak tahu berapa banyak makanan lagi yang harus ia diet untuk menguranginya kembali


Valerie menarik nafas dalam-dalam, lalu ia langsung naik ke atas timbangan. Saat menunduk dan melihat angkanya, matanya melebar terkejut.

__ADS_1


Apakah secepat ini? Ia sangat ingat berapa angka timbangan yang ia ukur saat malam, dan saat ini berkurang lima kati. Awalnya ia mengira bahwa timbangan sebelumnya rusak, namun ia sudah mencoba beberapa kali timbangan baru ini, dan hasilnya selalu sama.


Jadi.. ia benar-benar turun lima kati setiap hari?


Valerie langsung tersenyum cerah. Siapa yang tidak menginginkan ini? Dengan kecepatan ini, maka ia benar-benar bisa menurunkan berat badan dalam waktu sebulan. Selain itu, warna kulitnya lebih cerah. Valerie merasa bingung dengan dirinya sendiri, padahal ia belum merawat diri seekstrem itu, namun kenapa semuanya seolah di mudahkan begitu saja?


Keesokan harinya, dengan senang hati Valerie mengambil timbangan dan mengukur berat badannya. Namun tidak sesuai harapannya, ia kira akan turun lima kati seperti kemarin-kemarin, tapi hari ini angkanya sama dengan semalam.


Valerie mengerutkan kening. Apa yang terjadi?


Ia selalu merasa ada yang salah dan terlewatkan.


***


Pada malam hari, Valerie sudah bersiap akan tidur, namun matanya terus-menerus menatap ke tempat tidur besar abu-abu gelap.


Meskipun ia sudah pernah meminta untuk tidur di sana, tapi ia tidak mempunyai keberanian untuk sementara waktu. Lagi pula, dirinya tidak pernah tidur dengan seorang pria.


Ruangan sangat sunyi, Victor sudah berbaring lurus di ranjang. Sepertinya sudah siap untuk beristirahat.


Valerie menggigit bibirnya. Ia memandang pria yang terbaring di tengah tempat tidur. Setelah menarik nafas sebentar, Valerie berkata pelan. "Kamu bergeser sedikit. Beri ruang untukku."


Setelah itu, ia mengambil bantal di sofa dan dengan cepat berjalan ke tempat tidur itu. Ia tidak mau tidur di sofa sempit lagi!


"Ku kira kamu tidak mempunyai keberanian untuk tidur di sini," terka Victor dengan mata yang terpejam.


Valerie memeluk bantal dan mencengkeramnya kuat, wajahnya agak panas. Ia memang pemalu. Victor buta, tapi ia tidak yakin bahwa pria itu akan selalu acuh tak acuh jika tidur bersama.


Valerie akan mengatakan sesuatu, namun Victor mencibir. Suaranya yang magnetis bergema. "Kamu jelek, apa yang kamu takutkan? Apakah kamu takut aku akan melakukan sesuatu kepadamu?"


Valerie tercengang dengan ekspresi terhina. Kau sama-sama jelek dan buta!


Ingin sekali Valerie mengutuk, namun ia tidak berani. Untuk menghadapinya, sepertinya ia harus menyediakan stok kesabaran di hari-hari yang akan datang.

__ADS_1


Dengan wajah cemberut, Valerie menjatuhkan bantal di tempat tidur. Lalu ia melepaskan sandal dan menendangnya asal. Ia mulai membaringkan badannya.


__ADS_2