Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 40


__ADS_3

Valerie ingin membawa Victor ke rumah sakit untuk pemeriksaan, tetapi pria itu lebih tidak patuh dari Lucher. Jadi, Valerie hanya membawa Victor pulang ke kediaman Spare.


Di perjalanan, Valerie menelepon ayahnya dan menjelaskan situasi dan alasan pulang terlebih dahulu. Jian yang cemas hanya menekan kekhawatirannya. Ia akan membantu menyelidiki pengawasnya dan menanganinya.


Saat Valerie sampai, ia tidak menduga bahwa kamar Victor akan kembali suram tak bernyawa. Sama seperti pertama kali ia datang ke dunia ini. Valerie membuka tirai yang tertutup rapat.


Lalu ia berbalik mencari kotak obat. Setelah menemukannya, ia berjalan mendekat ke arah pria yang terdiam bersandar di kursi. Setelan hitam masih tertempel di tubuhnya.


"Ulurkan tanganmu," pinta Valerie setelah menyimpan kotak obat di meja. Sedangkan ia duduk di depan Victor.


Victor mengulurkan tangan tanpa sepatah kata pun. Valerie menunduk dan mulai mengobati tangannya. Ia menggunakan disinfektan mengoleskan kapas.


Di bandingkan dengan tangannya, tangan Victor sangat besar. Valerie diam-diam mengulurkan telapak tangan dan membandingkannya. Setiap jari Victor yang ramping lebih panjang darinya. Tulang di setiap bagian menonjol, urat-urat biru terlihat di punggung tangannya yang putih.


Menghentikan gerakan konyolnya, Valerie mengoleskan obat dan dengan lembut meniup lukanya. Valerie mendongak dan menatapnya. "Apakah kamu masih marah?"


Punggung tangannya terasa gatal, dingin dan nyaman. Tetapi ia mengerutkan kening tidak mengakui. "Tidak."


"Aku sudah memberi tahu ayahku untuk mengajari orang-orang yang menyakitimu. Jangan marah lagi."


"Apakah kamu menganggap perkelahian itu antara anak kecil? Dan kamu mengadu pada ayahmu?"


Valerie mengerucutkan bibirnya sedikit kesal. Ia membuang kapas di tangannya. "Jika aku tidak muncul, kamu mungkin terluka lebih parah oleh mereka.  Aku tidak akan membantumu mengobati lagi, jangan harap untuk makan kue buatanku."


Valerie berdiri dan mengemasi kotak obat, tiba-tiba tangannya di tarik, tubuh Valerie jatuh terjun ke pelukan Victor. "Ah!"


Di pergelangan tangannya, tangan besar pria itu terasa dingin. Tanganga berada di pinggang Valerie, dan Victor tertegun.


Victor tidak menyangka bahwa Valerie sangat lemah lembut, ia hanya menggunakan sedikit kekuatan untuk menariknya, seperti bola kapas, tubuh wanita itu langsung jatuh ke pelukannya.


"Apa yang kamu lakukan! Kenapa menarikku?!"  Tangan Valerie bertumpu pada dada lebar pria itu. Walaupun nadanya kesal, wajahnya sangat panas.


Dengan orang di pelukannya, kecemasan yang sempat ia rasakan menghilang. Ia mengangkat alis dan tersenyum. Tangan di pinggangnya sedikit mengerat. "Aku ingin kue yang kamu janjikan sebelumnya."


"Tidak. Kamu mengejekku tadi." Valerie ingin bangun.


Victor tidak membiarkannya bangun. Ia menundukkan kepala mencium aroma susu dari tubuhnya, hanya merasa memeluk Valerie sangat nyaman, harum dan lembut. ""Baiklah, maafkan aku. Aku tidak memakan kue pagi hari, di tambah tidak ada kue di pesta. Aku ingin dua kue."

__ADS_1


Valerie memalingkan wajahnya dan berkata. "Kalau begitu jangan marah lagi."


Victor menekan lembut pinggang Valerie dan mencengkeramnya sedikit. "Aku tidak marah."


"Kamu berbohong." Valerie memegangi tangannya ingin bangun. "Jangan cengkeram pinggangku!"


"Valerie, apakah kamu begitu kurus sekarang? Apakah beberapa bulan lagi kamu akan menjadi tulang?"


"Jika kamu tidak marah, aku tidak akan kurus!" Valerie sedikit takut jika terus-menerus berat badannya turun. Ia berbaring di pelukan Victor dan berkata menyedihkan. "Victor, bisakah kamu tidak mudah marah di hari-hari yang akan datang? Jika kamu marah, aku merasa tidak baik."


Suaranya yang lembut mencapai telinganya, dan tubuhnya yang lembut berada di pelukannya, Victor hanya menundukkan kepalanya diam. Tetapi, ekspresinya sedikit lembut.


"Nilai marah: 0."


Valerie tersenyum indah dengan mata berbinar. Ia segera menarik kembali tangan yang tergeletak di pelukannya. "Victor, aku akan bangun. Lepaskan aku."


Victor tetap diam. Ia hanya merasa di buang setelah di gunakan.


"Victor?" Valerie ingin menarik tangan besar di oingganya, tapi ia tidak berani dan takut melukai punggung tangan Victor.


Tiba-tiba ada suara seorang wanita yang datang. Di pintu, mata wanita itu di penuhi keterkejutan saat melihat Victor memeluk Valerie yang terbaring di atasnya.


Valerie sangat terkejut dan menoleh. Ia mengernyit melihat keberadaan wanita itu. Dia adalah Chelsea yang pernah datang sesekali mengunjungi Victor.


Tanpa sadar Valerie ingin berdiri dan lepas dari Victor, tetapi pria itu sangat keras kepala Tidka melepaskannya. "Victor, lepaskan! Ada Chelsea mengunjungimu!"


Dengan enggan Victor melepaskan Valerie. "Ck. Pengganggu."


***


Chelsea memandang wanita di depannya yang sama sekali berbeda dari terakhir kali bertemu. Mengapa dia begitu cantik?


Ia selalu merasa tidak aman karena Valerie lebih cantik darinya. Tangan yang memegang cangkir teh mengencang.


"Silahkan di minum tehnya." Valerie tersenyum indah.


"Ah, iya." Chelsea tersenyum paksa dan menyesap teh.

__ADS_1


Adegan di mana Victor memeluk Valerie masih teringat jelas di benaknya. Dan keterkejutan masih mengguncang hatinya. Chelsea sangat tahu karakter Victor yang arogan, muram dan kesepian. Dia memandang siapapun seperti barang mati, dan dia tidak akan membiarkan siapapun mendekat atau menyentuhnya.


Dengan karakter Victor yang sudah Chelsea sangat ketahui, ia tidak khawatir Victor akan menyukai Valerie. Lalu, mengapa Victor memeluk Valerie? Apakah karena mereka suami-istri, dan Valerie di masukkan ke dalam ruang lingkup pribadinya?


Chelsea menatap Victor dan tersenyum menyenangkan. "Victor, aku sangat khawatir saat mendengar kamu di bawa ke rumah sakit karena alergi. Saat itu aku tidak bisa menjenguk karena berada di luar negeri. Sebagai gantinya, aku membawamu salep terbaik untuk obat alergimu. Selain itu, aku membawa kue favoritmu."


Bintik merah di wajah Victor sudah banyak menghilang, tetapi bekas luka masih terlihat menjijikan. Chelsea membuang muka dengan sedikit menyesal.


Victor tidak menjawab. Jelas suasana hatinya tidak baik karena di mengganggu di tengah kenyamanan memeluk Valerie.


Chelsea berkata lagi. "Victor, akhir-akhir ini aku bebas, maukah kamu menemaniku jalan-jalan?"


"Mengapa aku harus keluar denganmu?"


Chelsea sepertinya sudah terbiasa dengan sikapnya. Ia hanya tersenyum. "Tidak baik jika terus-menerus diam di rumah. Keluar dan berjalan-jalan cukup baik untuk kesehatanmu."


"Ck. Terlalu banyak bicara," dengus Victor.


Chelsea sedikit kecewa. "Cobalah kue yang aku bawa. Aku telah belajar membuat kue favoritmu sebelumnya, dan kamu jangan menyia-nyiakan kue itu."


"Ya." Victor dengan enggan menjawab karena terlalu berisik.


Chelsea tersenyum. "Ku dengar ibumu ada di rumah, maka aku akan pergi dulu untuk menyapanya."


Tatapan Chelsea beralih pada Valerie. "Kalau begitu, aku pergi dahulu. Jangan lupa potong kue yang aku bawa untuk Victor."


Valerie hanya tersenyum santai dan mengangguk. "Baiklah."


"Sampai jumpa, Victor."


Victor diam seperti patung. Setelah Chelsea benar-benar pergi, ia menoleh ke arah Valerie dan berkata. "Kemarilah."


"Ada apa?" Valerie menatap Victor.


"Beri aku pelukan," pinta Victor dengan santai.


Mata Valerie terbelalak. Apakah orang ini kecanduan berpelukan? Mengapa dia ingin memeluknya?

__ADS_1


__ADS_2