
Setelah Valerie kembali ke rumah kecilnya, ia berniat pergi ke taman belakang, namun tidak menduga akan melihat Victor yang tengah terbaring santai di bangku paviliun. Dia berjemur di bawah sinar matahari dengan mata tertutup.
Sebelumnya, Victor sangat enggan turun dari kamar atau ruang kerjanya, namun setelah beberapa hari terus memaksanya untuk keluar ruangan, akhirnya saat ini dia berinisiatif datang sendiri.
Di samping Victor di bangku yang lain, ada Lucher yang tengah bermain dengan Brownie. Saat pria kecil itu menyadari kehadiran Valerie, mata besarnya langsung berbinar cerah. Ia meletakkan Brownie dan berlari ke arah Valerie dengan dua kaki kecilnya.
Valerie berjongkok dan menyambut kedekatannya. Ia mengangkat alis dan bertanya. "Ada apa?"
Lucher melirik ayahnya yang masih terbaring malas, lalu beralih kembali pada Valerie dengan ekspresi misterius. "Aku ingin mengatakan sesuatu."
Valerie tidak bisa menahan senyum melihat wajah lucunya yang serius. Si kecil membungkuk dan meletakkan tangannya di telinga Valerie. Lalu berbisik. "Ulang tahun ayah akan segera datang, aku ingin membeli hadiah untuk ayah."
Valerie tersenyum kecil. "Apakah kamu akan memberikannya hadiah?"
Lucher menganggukkan kepalanya. Ia terlalu kecil untuk membeli hadiah, dan ia tidak pernah keluar rumah sehingga tidak tahu jalannya. Lucher berharap Valerie menyetujuinya. "Apakah kamu mau membantuku untuk membelinya?"
Takut Valerie tidak akan setuju, Lucher merasa agak gugup. "Aku kaya! aku juga mempunyai banyak uang! Apakah kamu bisa?"
Valerie tidak bisa menahan tawanya lagi akan kelucuannya. Ia menyentuh kepalanya lembut. "Ya. Aku akan mengajakmu membeli hadiah untuk ayah."
Mata Lucher mencerah. Ia hampir melompat kegirangan.
Valerie mengambil dan memegang tangan kecilnya. Mereka berjalan mendekat ke arah Victor yang bergeming. "Victor, aku dan Lucher akan melakukan perjalanan hari ini. Apakah kamu akan mengizinkan kami?"
Di samping, Lucher menatap ayahnya gugup.
Victor langsung membuka matanya yang tanpa fokus. Ia berkata acuh tak acuh. "Terserah. Pergilah jika kamu ingin keluar."
Lucher melompat karena kegembiraan.
"Ayo, ganti pakaian dan sepatumu. Kita akan keluar sebentar lagi," ucap Valerie.
Lucher dengan semangat berlari ke dalam rumah untuk mengganti pakaian dan sepatunya.
Setelah beberapa saat, si kecil kembali dengan pakaian bagus dan sepatu kets biru kecil. Lucher berbisik. "Aku sudah membawa semua uangnya di saku."
Valerie tertawa dan mengusap kepalanya. "Oke. Ayo pergi."
"Ayah, aku akan pergi dahulu. Tunggulah aku kembali!" Lucher melambai ke arah Victor yang acuh tak acuh.
Valerie meliriknya juga. Sebelum pergi, ia berniat menggodanya. "Apakah kamu tidak ingin ikut dengan kami?"
Namun tidak menduga jawabannya berikutnya.
"Aku akan pergi juga."
__ADS_1
"Kalau begitu kita akan per--APA?!" Valerie terbalalak kaget.
"Aku akan ikut. Kenapa kamu begitu terkejut? Apakah aku tidak bisa keluar?" Victor memiringkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya yang kusam dan gelap ke arah Valerie. Ia mencibir malas. "Atau.. menurutmu aku memalukan bagimu?"
"Tentu saja tidak!" sangkalnya terburu-buru.
Valerie merasa kepribadiannya tidak terduga. Untungnya ia tahu kapan pria ini marah, kalau tidak ia tidak akan tahu kapan dia tersinggung.
Victor selalu tinggal di rumah, dan Valerie merasa sangat baik jika Victor ingin berjalan-jalan keluar. Melihat bekas luka si wajahnya, ia berkata lembut. "Saat ini matahari terlalu terik, maukah kamu memakai topi?"
Valerie merasa wajahnya terlalu menarik di matanya dan harus tutup.
"Nilai marah: 5."
Bibir Victor melengkung menjadi senyuman berbahaya. "Apakah menurutmu aku jelek?"
Kepala Valerie mati rasa, ia yakin berat badannya akan turun lagi. Walaupun ia senang, namun itu akan menarik perhatian orang lain jika terlalu cepat.
Ia dengan cepat berkata jujur. "Bukan karena kamu jelek, tapi aku tidak mau orang lain melihatmu."
Alasan yang buruk! Victor mengerutkan kening, namun itu membuat hatinya nyaman tanpa sadar.
"Nilai marah: 0."
Valerie tertawa pelan. Ia merasa Victor agak lucu. Jika ia memuji atau membujuk, kemarahanya akan dengan mudah hilang begitu saja.
"Merepotkan!" kata Victor dingin, namun kepalanya yang tinggi agak tertunduk.
Valerie langsung mengenakkan topinya. Bagian atas wajahnya tertutup, bahkan luka di pelipis dan dekat alisnya tertutup. Meskipun bekas luka di pipi sisi kiri setengah bagian wajahnya masuh terekspos, namun itu tidak terlalu mencolok.
Dagu dan garis rahangnya yang sempurna dan tegas terlihat jelas. Tatapan Valerie jatuh pada bibirnya yang tipis tampak pucat, itu sama-sama indah menurutnya.
Valerie menarik pinggiran topi dan berkata lembut. "Kamu sudah sangat tampan."
Mencium aroma suau familier yang dekat, Victor meggerakkan sudut bibirnya. "Apakah kamu menyenangkanku?"
"Kamu adalah suamiku, apakah aku salah jika memujimu?" Valerie meraih tangan Victor untuk menariknya pergi. "Kita akan keluar, jangan menolak peganganya. Kamu harus patuh, aku takut kehilanganmu."
Victor menunduk. Walaupun ia tidak bisa melihat, namun ia bisa merasakan kelembutan tangannya.
Selain itu, Victor selalu merasa setiap kata pujiannya sangat manis dan menyenangkan.
***
"Paman, tolong siapkan mobil. Kami akan keluar."
__ADS_1
Sopir itu memandang nyonyanya yang tengah memegang Victor dengan ekspresi terkejut. Setelah beberapa saat, ia segera pulih dan bertanya ragu. "Nyonya, apakah Anda dengan Tuan akan menggunakan mobil juga?"
Valerie langsung mengernyit. "... Apa? Siapa yang akan menggunakan mobil?"
"Paman, bisakah kita pergi sekarang?" Tiba-tiba ada suara lembut seseorang dari belakang.
Sopir itu merasa malu dan canggung. "Nyonya.. ini.."
Nuella yang tengah memeriksa tasnya langsung mengangkat kepala. Ia terkejut mendapati Valerie, ia berniat menyapa, namun melihat sosok tinggi di sebelah Valerie, matanya langsung di penuhi keterkejutan dan ketakutan.
Victor!
Kenapa dia keluar?! Bukankah dia selalu tinggal di bangunan itu sepanjang waktu dan tidak pernah mau keluar?
Senyum di wajah Nuella tidak bisa di pertahankan, tangannya yang memegang tas agak mengerat dan gemetar.
Sejak Nuella menikah dengan Javier, Victor pindah ke bangunan kecil di belakang villa, jadi ia tidak pernah bertemu Victor sejak saat itu. Melihatnya sekarang, perasaan suram dan rasa sakit masa lalu tanpa sadar muncul kembali.
Dalam kehidupan ini, Nuella hanya ingin menjauh dari pria ini.
Valerie melihat wajah panik dan pucat Nuella, jelas bahwa Nuella sangat takut dengan Victor setelah kelahirannya kembali. Di novel di jelaskan bahwa Nuella sangat muak dengan Victor, karena mereka tinggal dalam satu atap, Nuella selalu ingin melarikan diri darinya kapan saja.
Valerie mengangkat kepalanya untuk memandang Victor di sebelahnya. Karena dia memakai topi, ia hanya bisa melihat dagu tegasnya, dan Valerie tidak tahu bagaimana perasaan Victor saat bertemu mantan tunangannya. Di novel pun tidak terlalu menjelaskan tentang bagaimana perasaan Victor pada Nuella sebelum kelahirannya kembali.
"Ka-mu ingin keluar?" Suara Nuella agak lemah dan memandang Valerie dengan wajah pucat.
Tatapan Valerie tertuju pada naskah di tangan Nuella. Sepertinya dia akan syuting. Ia menjawab santai. "Ya. Kami akan keluar. Apakah kamu akan menggunakan mobilnya?"
Yang ingin Nuella lakukan sekarang adalah menjauh dari Victor. Jadi ia segera menjawab. "Kamu boleh menggunakan mobilnya. Lagipula, aku sedang tidak terburu-buru."
"Baiklah." Valerie tidak menolak. Ia membuka pintu mobil dan menoleh ke arah pria yang sedari tadi bergeming. "Victor, kamu masuk mobil duluan."
Tanpa sepatah katapun, Victor melangkah dan masuk ke dalam mobil.
Kemudian Valerie mengangkat Lucher dan memasukannya ke dalam mobil. Setelahnya giliran ia yang masuk. Valerie membuka jendela dan memandang Nuella seraya tersenyum. "Kami pergi dulu."
Nuella mengangguk kikuk.
Melihat mobil putih itu pergi menjauh, wajah pucat Nuella berangsur-angsur normal.
Karakter Victor tidak terlihat, seperti orang gila. Nuella menyaksikan sebelumnya, begitu seseorang tidak sengaja menyentuh tangannya, pria itu akan menyuruh orang lain untuk memotong jarinya. Lalu, pernah ada pelayan yang mengejek kebutaannya serta memakan kue yang di buat untuknya, setelahnya Victor menjahit mulut pelayan itu.
Bagaimana mungkin orang gila dan kejam seperti dia tidak membuatnya takut? Tapi, melihat Valerie yang memegang tangan Victor dengan santai, Nuella merasa aneh dan heran. Bukankah seharusnya pria itu akan menolak dengan kejam?
Itu bukanlah urusannya. Nuella menghela nafas lega. Ia benar-benar merasa beruntung karena di lahirkan kembali sehingga ia bisa menata hidupnya dan memilih Javier sebagai suaminya. Jika tidak, saat ini ia pasti akan sama seperti dulu, tinggal di gedung kecil dan menghadapi iblis itu sepanjang hari.
__ADS_1
Hatinya yang kacau secara bertahap tenang. Nuella tersenyum dengan pikiran lega.