
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Victor duduk di kursi belakang dengan Valerie di pelukannya. Wanita itu terus menangis kesakitan. Ia ingin menyentuh wajahnya yang terluka, tapi takut akan infeksi bakteri, Valerie hanya bisa menangis sedih.
"Aku akan menjadi jelek, hiks ... aku akan cacat ...."
Bukan hanya karena rasa sakit yang membakar, tetapi berpikir bahwa nanti wajahnya terdapat bekas luka jelek, tangisannya Valerie lebih keras. Tanpa melihat cermin pun, ia tahu wajahnya sudah memburuk.
Victor tidak mengatakan sepatah kata pun dari awal memasuki mobil. Jika bukan karena pelukannya yang erat, di tambah tubuhnya tegang sepanjang jalan,Valerie akan menyangka bahwa pria ini kejam karena ketidakpeduliannya.
"Siapa yang menyuruhmu untuk melindungiku?" Suaranya sangat dingin.
Valerie tersentak oleh suara dinginnya. Ia mendongak menatap ekspresinya yang menakutkan. Tubuhnya semakin gemetar, ia hanya merasa lebih di aniaya oleh tekanan pria ini. "A-ku ... aku melihat ada pelayan yang menumpahkan cairan aneh ke arahmu. Aku hanya mengikuti dorongan hati untuk melindungimu ...."
"Nilai marah: 50."
Cengkeraman tangan di pinggangnya menguat. "Apakah aku memintamu untuk melakukan itu?"
Rasanya Valerie ingin mati saja. Ia merasakan sakit di mana-mana. Apalagi, nilai marahnya sangat tinggi sehingga rasa sakit itu melebihi luka di wajahnya. Ia memegang kerah pakaian pria itu dengan lemah. Isakannya keras. "Hiks ... kenapa ... kenapa kamu marah? Aku ... aku sudah menyelamatkanmu. Sakit ....."
Suara lembutnya semakin mengecil, lalu senyap dalam beberapa detik. Victor merasakan kepalanya jatuh bersandar di dadanya, gerakan sebelumnya berhenti. Victor mengeraskan rahang, mengguncang tubuh orang di pelukannya, tapi tetap tidak bergerak.
"Valerie."
Tidak ada jawaban. Ekspresi Victor semakin menakutkan, tapi tangan besarnya yang memegang Valerie agak gemetar. Ternyata dia pingsan.
__ADS_1
"Percepat!" titahnya dingin ke arah sopir.
"Y-ya! Tuan!"
***
Valerie terbangun karena dering bel aneh yang terus-menerus berbunyi di kepalanya, lalu rasa sakit yang kuat, di tambah kedutan perih yang terasa di wajahnya. Saat membuka mata, langit-langit putihlah yang menyambut, bau disinfektan memasuki indera penciumannya. Dalam satu tebakan, ia sudah tahu di mana dirinya sekarang.
Merasakan wajahnya yang sakit, ia langsung teringat semuanya. Tanpa sadar air mata yang hangat mengalir, isakan kecil keluar dari mulutnya.
"Bangun?"
Suara Victor yang sedingin biasanya datang dari arah samping. Valerie meliriknya dalam diam. Ia hanya merasakan semakin sedih karena pria ini belum menghentikan kemarahannya. Untuk sementara waktu, ia merasa kesal dan malas meladeninya. Rasa sakit membakar sebelumnya telah meringan saat ini. Valerie tahu dokter pasti sudah memeriksa dan merawatnya. Saat ini, Valerie tidak mau menatap cermin langsung. Ia harus mempersiapkan mentalnya terlebih dahulu.
"Valerie."
"Vale--"
"Apa?!" sahut Valerie dengan cetus.
"Apa kamu menyesal?"
Wajahnya berubah bingung. "Hah?"
__ADS_1
"Apakah kamu menyesal karena wajahmu terluka setelah melindungiku?"
"Tidak," jawab Valerie jujur.
Wajah cantiknya menjadi rusak memang sangat di sayangkan, tapi tidak ada penyesalan sedikit pun di hati Valerie karena melindungi Victor.
"Benarkah?" Suara pria itu merendah. "Dokter sudah mendiagnosis lukamu. Dia mengatakan bahwa bekas luka pasti ada walaupun sudah sembuh. Apakah kamu benar-benar tidak menyesal?"
Valerie sudah menduga ini, jadi ia tidak terlalu sedih dan terkejut.
Merasakan keheningannya, Victor berkata rendah. "Jika kamu tidak menyelamatkanku, saat ini kamu pasti akan baik-baik saja. Sekarang kamu pasti menyesal, kan?"
Valerie menghela nafas pelan, lalu ia bangun untuk duduk dan menatap serius pria di hadapannya. "Aku tidak menyesal. Bahkan jika ada kedua kalinya melihat kamu dalam bahaya, aku tetap akan menyelamatkanmu."
"Nilai marah: 0."
Valerie terkejut. Ia menatap ekspresi terdiam Victor, lalu pria itu mendengus dingin. "Lalu, jangan menyesal nanti, Aku tidak pernah menginginkannya."
Valerie memelototinya. Ia mengambil bantal dan menempatkan ke Victor. "Kamu memang pria yang tidak berperasaan! Bahkan, tidak ada simpati dan rasa terima kasih! Hmmp!"
Valerie terbaring kembali dengan membelakanginya, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, ia merasakan tidak nyaman tidak ada sanggahan kepala karena bantalnya malah ia lempar. Tapi ia berusaha untuk tidak melirik pria itu lagi, hatinya di liputi kekesalan.
Suasana hening beberapa saat. Valerie tidak tahu apakah dia masih di sana, tapi jika pergi mengapa tidak mendengar langkah kaki?
__ADS_1
Tiba-tiba, kepalanya di angkat oleh dua tangan dengan gerakan lembut, lalu sebuah bantal di letakan di bawah dan kepalanya di letakan dengan nyaman. Valerie masih terkejut sehingga ia masih belum bereaksi bahkan setelah kepalanya di letakan di bantal. Detik berikutnya, ia merasakan pria itu membuka selimut dan berbaring di belakangnya. sebuah tangan menyelinap melingkari perutnya dan memeluknya, nafas hangat menyembur ke lehernya, dada bidang keras menempel di punggungnya, semua itu membuat Valerie tegang dan berusaha untuk setenang mungkin.
Tapi, ketenangannya goyah oleh suara lembut pria itu yang Valerie dengar untuk pertama kalinya. "Terima kasih karena telah melindungiku. Aku tidak menginginkanmu menyelamatkanku untuk kedua kalinya karena aku tidak mau melihatmu kembali terluka."