
"Tuan, sarapan Anda sudah siap."
Pelayan muda itu meletakkan sarapan di atas meja dengan tangan gemetar.
Ia mengingat instruksi pengurus rumah tangga. Jangan terlalu dekat, jangan memakai parfum yg menyengat, jangan berbicara dengan suara keras, jangan sampai menyentuh tangan Victor.
Lucher datang dan duduk seraya mengapa ayahnya. "Pagi, Ayah."
"Pagi."
Lucher memandang kue di atas meja. Tapi menurutnya, kue ini tidak seimut dan seindah milik Valerie. Ia merindukannya. Diam-diam Lucher selalu menghitung Valerie pergi selama beberapa hari, dan selalu bertanya-tanya apakah dia akan kembali?
"Carikan aku bantal di lantai dekat tempat tidur." Suara dingin Victor datang tiba-tiba.
"... hah?" Pelayan itu bereaksi lambat.
Suara Victor semakin dingin. "Apakah aku harus mengulangi ucapanku?"
"Ba-baik, Tuan," jawab pelayan dengan gemetar.
Ia mulai mencarinya dan melihat sekeliling ruangan. Akhirnya ia menemukan sebuah bantal merah muda yang tersangkut di bawah meja. Ia segera mengulurkan tangan dan mengambilnya. Hanya saja, pelayan muda itu merasa sedikit kesusahan, dan ia menariknya dengan keras.
Detik berikutnya, suara robek terdengar. Bantal itu tergores sesuatu di bawah meja.
Tangannya tidak bisa menahan gemetar lebih hebat. Ia menatap Victor dengan keringat dingin. "Tu-tuan ... bantalnya sudah di temukan."
"Berikan padaku."
Pelayan memandang Victor dengan panik dan pucat. "Tap-pi, Tuan ... saat saya menarik bantal di bawah meja, bantal ini sedikit robek karena paku."
Ruangan menjadi sunyi. Pelayan itu hanya berpikir kematiannya akan segera datang.
Victor yang tanpa ekspresi mengangkat sedikit sudut bibirnya. Entah apa yang di pikirkan. "Buang."
"Ah, apa? Buang?" Pelayan menatap Victor tidak percaya. Ia kira bantal ini sangat penting.
"Apakah menurutmu aku akan menggunakan sesuatu yang sudah rusak?"
"Ti-dak." Ia segera bergegas keluar berniat membuangnya.
"Ayah, bantal itu miliknya." Lucher mengenali bantal merah muda milik Valerie, dan abu-abu milik Victor. "Aku yakin dia akan kembali. Jika bantalnya hilang tiba-tiba, aku takut dia akan marah."
Victor mendengus. Wajahnya sedikit menoleh ke arah pelayan yang menghentikan langkahnya di pintu. "Jangan di buang."
Pelayan hanya mengangguk patuh dan meletakkan bantal itu di sofa.
"Jika dia marah, dia tidak akan membuatkan kue untukku sama Ayah."
Victor termenung. Setelahnya, bibir tipisnya terangkat. Dengan acuh tak acuh ia berkata malas. "Dia bukanlah satu-satunya orang yang bisa membuat kue."
Setelah mengatakan itu, Victor mengambil kue di sampingnya. Jarinya memegang sendok perak kecil dan langsung menyendoknya. Bagian kecil kue di masukkan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Victor langsung mengerutkan kening. Kuenya memang seperti dulu, tapi rasanya sudah berubah. Tidak enak.
"Kue terlalu manis. Katakan kepada pelayan di dapur untuk membuatnya kembali," titah Victor kepada pelayan yang masih berdiri.
Pelayan segera setuju dan berjalan ke dapur.
Sampai di mana, kue yang kedua sama-sama tidak cocok di lidah Victor. Ia memerintah pelayan untuk mengulanginya kembali sampai beberapa kali. Namun tetap saja, rasanya tidak cocok.
Karena yang sebenarnya Victor inginkan adalah kue yang selalu Valerie buatkan.
***
"Nilai marah: 5."
Valerie yang tengah berbelanja baju dengan ibunya tiba-tiba mendengar deringan ini. Senyum di wajahnya menghilang dengan di gantikan wajah berkerut kesakitan.
"Sayang? Ada apa denganmu?" tanya Riana cemas saat melihat ada yang salah dengan putrinya.
Valerie berusaha tenang dan tersenyum. "Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya sedikit pusing."
"Ah! Apakah kita harus pergi ke dokter?" Riana langsung memegang tangan Valerie. Ekspresinya panik.
"Tidak perlu, Bu. Aku hanya ingin beristirahat."
"Baiklah, baiklah. Kalau begitu ayo kita pulang." Riana mengemas belanjaannya. Ia menatap Valerie. "Apakah ada gaun lain yang kamu inginkan?"
Valerie memandang banyak belanjaan di tangan ibunya. Ia menggeleng pelan. "Ini semua sudah cukup, Bu."
***
"Ulangi!"
Sudah hampir lima kali koki mengulangi membuat kue. Ia sudah sangat kelelahan, begitu pun pelayan muda sebelumnya yang sangat lelah mondar-mandir. Namun mereka tidak bisa membantah perintah Victor.
Ketika Nuella turun, ia mendengar kesibukan di dapur. Lalu ia menghentikan salah satu pelayan yang kebetulan yang bolak-balik membawa kue yang berulang di buat.
"Ada apa?" tanya Nuella.
"I-tu, Nyonya. Tuan Victor sepertinya tidak menyukai kue yang biasa koki buat di dapur. Kami sudah mengulangi beberap kali membuat agar sesuai dengan seleranya. Namun sudah lebih lima kali, Tuan Victor terus memerintahkan kami untuk mengulang."
Sepertinya pelayan itu terlalu lelah, ia mengeluh begitu saja di depan Nuella.
Nuella mengernyit. "Di mana istrinya?"
Pelayan itu sedikit terkejut. "Bukankah Nyonya sudah tahu bahwa dia di usir oleh Tuan Victor?"
Nuella tertegun. "... apa?"
"Ya, Nyonya. Bahkan, bantal yang di gunakan Nyonya Valerie Tuan perintahkan untuk di buang. Namun, Tuan Muda melarangnya."
Setelah pulih beberapa saat, Nuella berkata." Ah, begitu. Terima kasih. Kamu sudah boleh kembali bekerja."
__ADS_1
"Baik, Nyonya." Pelayan itu menunduk sopan dan kembali ke dapur.
***
"Apa yang terjadi?" monolog Nuella dengan tatapan tertuju pada hutan bambu dari jauh.
Di kehidupan terakhir, meskipun Victor memperlakukannya seperti orang asing, dia tidak pernah mengusir dirinya.
Tapi kenapa sekarang pria itu mengusir Valerie begitu saja? Nuella merasa bingung.
Selain itu ... Nuella merasa ini tidak bisa di biarkan.
"Aku harus berbicara dengannya."
Nuella mengumpulkan banyak keberanian dan pergi ke tempat Victor berada.
Saat ia sampai di dalamnya, Nuella menggigit bibir dengan rasa takut di matanya. Tapi ia tidak boleh menyerah. Kehidupan Valerie terlalu mudah jika Victor mengusirnya.
Ketika Nuella datang ke kamar Victor, ruangan familier memasuki pandangannya. Hati Nuella bergetar. Ia berjalan masuk dengan berani.
Mata Nuella menangkap seorang pria yang tengah duduk di kursi dengan posisi yang sama dan memejamkan mata seperti kebiasaan di kehidupan sebelumnya.
"Vi-ctor ...," panggil Nuella dengan suara rendah.
Victor membuka matanya. "Apakah kuenya sudah jadi?"
Nuella segera menggeleng. "Ti-tidak, tidak. Aku Nu-ella. Aku ingin berbicara sesuatu denganmu."
Wajah Victor tetap tanpa ekspresi. Ia bersandar malas. "Siapa kamu? Dan mengapa aku harus berbicara denganmu?"
Wajah Nuella langsung pucat. Tapi ia tidak boleh menyerah. "A-aku mendengar bahwa Valerie sudah pergi. Victor, bisakah kamu membawanya kembali?"
"Sebelumnya kucing itu sudah pergi, lalu sekarang anjing keponakanku yang datang. Apakah kamu begitu berani menggangguku?"
Wajah Nuella semakin pucat. Matanya langsung mengalir air mata. Ia merasa terhina dan marah. Bibirnya di gigit keras. "Aku datang berniat baik. Aku hanya khawatir tentang Valerie. Kenapa kamu menghinaku seperti ini? Aku manusia, bukan anjing."
"Menghina?" Bibir Victor penuh cibiran. Wajahnya arogan. "Kedatanganmu ke sini pun merupakan penghinaan untukku. Apakah Javier sudah mati sehingga membebaskan anjingnya berkeliaran di sini?"
Nuella tercengang dengan mata menatap Victor tidak percaya. Matanya memerah karena marah. Ia mengira, pria jelek ini tidak hanya ganas, tapi apa yang dia katakan terlalu kejam dan tanpa ampun.
"Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Nuella dengan lirih.
Sepertinya Nuella tidak terlalu banyak tahu tentangnya walaupun ia sudah hidup beberap tahun bersamanya di kehidupan terakhir. Melihat sikapnya yang lebih kejam Nuella semakin merasa beruntung di kehidupan ini karena ia bisa menyingkirkannya.
Victor tidak bisa memakan kue karena beberapa kue yang di buat koki tidak sesuai seleranya. Suasana hatinya sangat buruk. Lalu sekarang kedatangan wanita ini membuat hatinya semakin buruk. Kesabarannya hilang. Ekspresinya sedingin es. "Terlalu banyak omong kosong! Pergi kau, S*alan!"
Nuella tersentak kaget. Penampilan dingin Victor terlalu menakutkan sehingga ia menyusut mundur. Nuella langsung berlari keluar dan pergi meninggalkan tepat mengerikan itu.
***
Maaf karena cerita ini jrg up, akunya fokus ujian dulu><
__ADS_1