
Pagi hari yang cerah, matahari hangat bersinar, hanya saja sinarnya terhalang oleh sebuah tirai saat menyorot sebuah kamar membuat ruangan itu redup.
Seorang wanita dengan wajah jelek karena banyak jerawat tengah tertidur lelap di sebuah sofa. Tubuhnya yang agak gemuk membuat sofa itu tertindih sepenuhnya tanpa celah.
Wanita itu mengernyit saat mendengar suara seseorang yang agak menyebalkan di telinganya. Wanita itu berbalik mencoba menghindari suara yang mengganggu, tapi karena sofa tidak mempunyai celah lagi, di tambah karena bentuk tubuhnya, Valerie langsung terjatuh ke tanah.
Di samping, wanita yang mengganggu tidur Valerie melengkungkan sudut mulutnya mengejek saat melihat Valerie jatuh.
"Tuan, Nyonya Muda sudah bangun."
Liana merupakan pembantu rumah ini sejak lama, namun ia sangat tidak menyukai Valerie. Saat ini ia tengah membawa sarapan untuk Victor dan memberitahunya setelah melihat Valerie sudah bangun.
Liana mendengar dari pelayan lain tentang Valerie yang membuat masalah tercela lagi kemarin dengan membius tuan Javier. Valerie begitu bodoh dan berani, Liana mencibir.
Liana mengalihkan pandangan, tanpa sadar matanya tertuju pada Victor. Ia langsung menunduk dengan gemetar. Sekarang di sini hanya ada wanita jelek yang cocok dengan tuan muda di depannya.
"Keluar!" teriak dingin pria itu tiba-tiba membuat Liana dan Valerie yang masih terduduk di lantai kesakitan langsung tersentak kaget.
Valerie pikir kata-kata itu untuknya, namun selanjutnya ia mendengar suara gemetar wanita tadi.
"Tu-an.. maafkan sa-ya.. saya tidak sengaja, Tuan.. maaf.." Liana menarik tangannya dengan cepat, karena tadi ia tidak sengaja menyentuh ujung jari pria itu setelah menyimpan makanan di sampingnya.
Liana semakin gemetar ketakutan setelah mengingat orang terakhir yang bertemu dengan Victor hanya memiliki delapan jari tersisa, sedangkan dua orang lainnya..
Liana semakin memucat dengan keringat dingin. "Tuan.. t-olong.. jangan potong jari sa-ya..."
"Aku bilang keluar!" Suaranya semakin dingin dengan wajah tanpa ekspresi.
Liana mengangguk gemetar. Saking takutnya ia lupa bahwa tuannya tidak bisa melihat anggukannya. Ia langsung bergegas keluar tergesa-gesa.
Di lantai, Valerie meringis kesakitan. Ia berpikir, dengan tertidur tubuhnya akan menjadi lebih baik, namun tidak menduga seluruh tubuhnya bertambah sakit.
__ADS_1
Valerie mengangkat kepalanya melihat pria itu memakan sarapan dengan santai seolah tidak mendengar ringisannya yang lumayan keras.
Valerie menggertakkan gigi menahan rasa sakit. Ia berniat naik ke sofa, namun suara aneh berdering di benaknya seperti suara bel. Valerie jatuh kembali dan menutup kedua telinganya untuk menghilangkan suara berisik itu.
Tetap saja, suara itu terus berdering membuat seakan-akan kepalanya terbelah karena rasa sakit.
Rasa sakit itu semakin kuat, Valerie merasa akan mati di detik berikutnya. Karena putus asa, Valerie berteriak. "Victor! Bisakah kamu memanggil dokter untukku?! Kepalaku sangat sakit!"
Di meja, Seolah tidak mendengar apapun, Victor yang sedang makan sarapan sangat acuh tak acuh.
Akhirnya Valerie mengangkat kepalanya untuk menatapnya. Karena cahaya yang terang, ia bisa dengan jelas melihat penampilannya. Matanya tiba-tiba menyusut.
Valerie menatap pria itu kosong seakan-akan melupakan rasa sakitnya. Gerakan pria itu metodis dengan kegagahan dan keindahan yang tak terlukiskan. Saat melihat wajahnya, semua keindahan itu langsung memudar.
Pupil matanya semakin menyusut. Hati Valerie menegang.
Di jelaskan dalam novel, sebagian wajah Victor terbakar api. Valerie bisa melihat bekas luka di wajah kirinya menyebar ke pelipis di samping rambut, sampai ke rahang bawah, terlihat merah, bergelombang, dan wajahnya seolah di tempeli serangga daging yang agak bengkok, mengerikan dan menjijikkan.
Itu.. mirip pria yang sangat mencintainya!
Bibir Valerie bergetar tanpa sadar. Saat ini, ia hanya berpikir sangat bodoh karena menyia-nyiakan pria itu, karena pria itu sangat tampan dan sempurna dalam segi apapun, hanya saja ia terlalu acuh tak acuh kepadanya. Hampir setiap hari pria itu membelikannya bunga, bertanya apa yang di inginkannya, hanya saja ia terlalu sibuk dan tidak terlalu memerhatikannya.
Sebelum ia keluar negeri, ia mendengar pria itu kecelakaan, Valerie sempat terkejut, namun dirinya yang sama sekali tidak mempunyai perasaan melanjutkan perjalannya dengan lancar, bahkan sampai di luar negeri Valerie tidak pernah memikirkannya lagi.
Sekarang.. melihat pria di depannya begitu acuh tak acuh, hati Valerie sakit. Ia merindukan mata lembut pria itu.. ia merindukan perhatiannya.. walaupun ada kemiripan hanya dengan melihat setengah wajahnya, namun tubuhnya agak beda. Pria itu agak lebih berisi dan tinggi, sedangkan pria di depannya terlihat sangat kurus dan pucat.
Victor mengunyah makanannya perlahan, matanya yang gelap tanpa fokus apapun, wajahnya yang jelek tanpa ekspresi. Walaupun sekilas tampak pucat dan lemah, namun seluruh tubuhnya seolah memancarkan aura dingin membuat siapapun yang berada di dekatnya akan gemetar.
Valerie yang menarik akal pikirannya merasakan rasa sakit itu kembali, suara aneh itu terus berdering membuat keringat dingin mengalir di dahinya karena sakit.
Valerie menatapnya dan memohon dengan suara lemah. "Victor.. tolong aku.."
__ADS_1
Valerie tahu Victor mempunyai dokter pribadi untuk perawatan matanya, jika dokter di panggil kapan saja, maka akan langsung datang.
Valerie asli pasti tidak sengaja membenturkan kepalanya, dan ia miliki rasa sakit yang kuat di kepalanya. Valerie mengira bahwa deringan aneh di benaknya hanya halusinasi pendengaran karena gejala sisa.
"Apakah kamu sakit kepala?" Akhirnya Victor menjawab dengan suaranya yang dingin.
Hanya saja dia tidak menoleh sedikit pun seolah berbicara dengan udara, namun Valerie marasa senang mendapatkan jawabannya.
Dengan air mata yang mengalir, Valerie berkata lirih. " Hmm.. aku sekarat kesakitan.. tolong panggilkan dokter untukku.."
Victor mengambil sepotong kue manis dan memasukan ke dalam mulutnya. Setelah beberapa saat, ia berkata santai. "Kalau begitu, tunggu saja sampai kamu mati."
Valerie termangu dengan hati bergetar sakit. Bulu matanya bergetar, matanya yang berkaca-kaca langsung mengalir. Valerie memandang pria tanpa ekspresi itu dengan punggung dingin.
Pria itu sama sekali tidak peduli dengan dirinya sendiri.
Valerie menggigit bibirnya. Sepertinya ia harus benar-benar mengingat di benaknya bahwa memang dalam novel Victor sangat acuh tak acuh pada Valerie asli. Pada kenyataan ini, kenapa ia masih berharap? Apakah karena Victor mirip pria itu?
Wajah Valerie berkerut kesakitan saat rasa sakit yang merobek karena deringan yang terus-menerus. Sangat tidak nyaman.
Tidak. Ia tidak bisa menunggu dan terus berharap padanya. Ia harus pergi ke rumah sakit sendiri. Jika tidak, ia benar-benar akan mati di sini.
Valeri menguatkan dirinya dan menyangga untuk berdiri dari sofa. Ia mengambil tas kecil yang ada di sebelah sofa dan pergi keluar.
Pada saat ini, ada sosok kecil dengan seekor kucing di pelukannya. Dia berjalan sedikit goyah.
"Huh!"
Ketika sosok itu melewati Valerie, ia mendengus dingin. Ia berjalan ke meja yang terdapat Victor dan mengangkat kepala kecilnya seraya berteriak lucu untuk menyapa. "Ayah."
Victor memasukan gigitan terakhirnya dan menjawab dingin. "Ya."
__ADS_1