
"Mati kau, Victor!"
Valerie berlari sekuat tenaga ke arah Victor. Tanpa berpikir, ia langsung menghadang cairan yang di tumpahkan kepada Victor.
"Ahh! Sakit!!" jeritnya kesakitan.
Valerie hanya merasa wajahnya di sengat oleh rasa sakit yang kuat. Seketika suasana ribut setelah mereka tercengang oleh pemandangan di depan mereka. Apalagi, wajah Valerie yang cantik langsung rusak begitu saja.
Victor belum bereaksi saat mendengar teriakan kejam seseorang yang menginginkannya mati, tapi jantungnya langsung menegang saat teriakan kesakitan Valerie yang ia dengar setelahnya. Victor memeluk Valerie dengan panik dan langsung menendang keras orang yang berniat mencelakainya itu hingga tersungkur kesakitan.
"Sakit! Wajahku sakit, Victor!" ratap Valerie seraya mencengkeram pakaian Victor erat untuk menahan rasa sakitnya.
Wajah putih dan mulus sebelah kanan Valerie, kini melepuh dan mengeriput. Sensasi terbakar di wajahnya membuat seluruh tubuhnya gemetar, matanya memerah.
__ADS_1
Victor memeluknya erat dengan ketegangan hati yang semakin menguat. Matanya seolah membeku karena suhunya yang teramat dingin, ekspresinya menakutkan. Tubuh gemetar di pelukannya hanya membuat jantungnya terkepal kuat, bau asam sulfat menyengat di hidungnya. Tanpa melihat, Victor bisa tahu dengan jelas apa yang terjadi.
"Ayo pergi ke rumah sakit." Nada suaranya tenang, tapi hanya dirinya sendiri yang tahu badai yang terjadi di dalam hatinya.
"Valerie! Apa yang terjadi?!"
Suara panik Javier tiba-tiba datang. Di belakang pria itu, ada Nuella dengan wajah aneh. Saat mereka melihat wajah Valerie, keduanya terbelalak terkejut.
"Wajahmu! Valerie ... ada apa dengan wajahmu?" Nuella bertanya dengan prihatin.
Ekspresi Nuella berubah gelap. Sedangkan Javier sama sekali tidak menyadari perintahnya menyinggung Nuella, karena yang hanya ingin ia lakukan saat ini yaitu merebut Valerie dari pelukan Victor. Tapi, sepertinya pria buta itu tidak melepaskan istrinya sama sekali.
Suaranya teramat dingin. "Tidak perlu. Aku akan mengantarkannya sendiri."
__ADS_1
"Paman, kau ....."
"Aku buta? Tapi telinga, kaki dan seluruh tubuhku masih berfungsi. Jangan meremehkanku," potong Victor dengan ekspresi menakutkan.
Victor langsung menggendong Valerie ke pelukannya. "Pimpin jalan."
Javier hanya bisa menggertakkan gigi. Lalu, ia melihat Nuella yang masih berdiri dengan cemberut. Tanpa sadar Javier mbentak. "Mengapa kamu masih di sini?! Bukanlah aku sudah memerintahkanmu untuk menyiapkan mobil?! Luka Valerie akan semakin buruk!"
Bahu Nuella tersentak. Matanya langsung berkaca-kaca. "Ma-af."
Bukan karena kepura-puraan, tapi memang karena ini adalah pertama kalinya Javier yang lembut meninggikan suara kepadanya, apalagi itu demi wanita lain. Kebencian di hatinya mengakar. Nuella hanya merasa tenggorokannya tercekik, kedua tangannya terkepal, dengan enggan Nuella pergi dari pada harus menanggung amarah Javier.
Berdiri di antara kerumunan, Chelsea merasa kakinya melembut. Ia bepikir bahwa dirinya beruntung karena Valerie lebih dulu melindungi Victor, karena kalau tidak, ia pasti akan bertindak dan mengalami takdir yang sama di mana wajahnya hancur.
__ADS_1
Tapi di sisi lain, ia juga menyesal karena tidak bisa menyelamatkan protagonis dunia novel ini. Ia sangat tahu bahwa plotnya di ubah, yang awalnya harus Javier yang mengalami itu, tapi karena di ganti, Victor lah yang akan mengalaminya. Tapi, Valerie malah datang lebih dulu untuk menyelamatkannya. Chelsea telah kehilangan kesempatan yang bagus. Dirinya sendiri adalah protagonis wanita, jadi seharusnya ia yang menyelamatkannya, Victor bisa mengubah pandangan tentang dirinya sendiri.
Apa yang sudah terjadi saat ini, jauh dari harapannya.