Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 72


__ADS_3

Valerie tidak menduga ia akan ketiduran karena pelukan nyaman Victor. Lalu, tengah malam ia merasa perutnya sangat lapar sehingga ia terbangun. Di perjamuan, ia sama sekali belum makan apapun dan malah terjadi kejadian yang tak di inginkan.


Tepat saat ia membuka mata, Valerie mencium aroma kue. Valerie menoleh ke samping. Ada Victor yang duduk di dengan tenang di samping ranjang rumah sakit, ada kelelahan di wajahnya. Mungkin peka terhadapnya yang telah bangun, pria itu berkata. "Makanlah dahulu. Kamu pasti lapar."


Mata Valerie beralih pada sebuah kotak di samping Victor yang ia duga berisi makanan. Ia langsung bangkit duduk setelah menelan air liurnya. "Siapa yang membelinya?"


"Aku menyuruh seseorang," balasnya seraya mengambil kotak itu dan memberikannya kepada Valerie.


Valerie menerima dan membukanya. Kotak itu berisi kue favorit Victor. Valerie yang lapar langsung mengambil dan memakannya. Hanya dalam dua kunyahan, wajahnya langsung merasakan sakit karena gerakan rahangnya. Valerie mendesis.


Victor mendengar desisannya dan mengernyit. "Sakit?"


Dengan cemberut dan keluhan Valerie mengangguk. "Ya. Wajahku sakit saat mengunyah."


Ia meletakkan kotaknya kembali dan nafsu makannya langsung menghilang. Lalu, Valerie melihat Victor mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.


Hanya dalam beberapa menit, pintu bangsal di buka. Beberapa orang berpakaian hitam masuk membawa sesuatu di dalam tas. Meletakkan benda itu di atas meja, mereka bergegas pergi dengan cepat.


"Apa ini?" tanya Valerie setelah pulih dari keterkejutannya.

__ADS_1


"Buka saja."


Valerie mengambil salah satu tas itu dan membukanya. Di dalamnya terdapat bubur dalam dalam kotak makanan dan beberapa makanan yang mudah dikunyah lainnya.


Victor mengambil kue yang tidak jadi Valerie makan, lalu ia memakannya sendiri. "Kamu tidak perlu mengunyah saat makan bubur, dan wajahnya mu tidak akan terlalu sakit."


Valerie memandang beberapa tas lainnya. "Ini terlalu banyak. Aku tidak bisa memakan semuanya."


"Aku tidak menyuruhmu untuk memakan semuanya."


Valerie mengerutkan bibir dan membuka kotak makanan berisi bubur itu. Memakannya benar-benar tidak menimbulkan banyak rasa sakit sehingga Valerie menjadi lebih rileks.


Tetap saja, Valerie masih terkejut dan sedih. Rasanya ingin menangis lagi melihat wajahnya sekarang. Pipinya yang mulus dan putih, kini menghitam karena asam sulfat, lalu dua bekas luka seukuran ibu jari di bagian tengah pipinya lebih serius. Operasi cangkok kulit bagaimana pun, tetap saja sulit untuk mencapai tekstur kulit asli dan mengembalikan warna asli sebelumnya.


"Wajahku benar-benar cacat." Valerie menahan air matanya dan pergi mandi dengan ketidaknyamanan di hatinya.


Saat keluar kamar mandi, jam sudah melewati tengah malam, dan Valerie melihat Victor masih duduk di tempat yang sama. Jas hitamnya sudah di buka menyisakan kemeja putih yang melekat di tubuh kokohnya.


Valerie melihat ranjangnya yan sempit dan berpikiran di mana Victor akan tidur. Tatapannya beralih pada sofa, ia merasa tidak memungkinkan dia tidak di sana.

__ADS_1


"Victor, kamu bisa pulang, aku akan kembali besok." Valerie pikir ini lebih baik.


Gerakan Victor menggulung lengan bajunya berhenti. Ia menoleh dengan eskpresi muram. "Kamu menyuruhku pulang di tengah malam?"


Valerie merasa tidak nyaman melihat ekspresi dinginnya. "Maksudku ... Aku hanya berpikir di mana kamu akan tidur. Mungkin jika pulang lebih baik ...."


"Pemikiranmu terlalu sempit. Tentu saja aku akan tidur denganmu."


Mata Valerie membulat. "Itu ... Ranjangku terlalu sempit ...."


Victor menarik sudut mulutnya. "Apakah kamu tidak ingat bahwa sebelumnya kita tidur di ranjang ini? Itu cukup untuk berdua."


Valerie mengingat ucapan lembut Victor sebelum ia ketiduran, wajahnya langsung memanas. Tetapi menyaksikan suara Victor kembali dingin seperti biasa, seolah itu hanyalah ilusi, Valerie berekspresi kesal dan berhenti berdebat.


"Kamu akan sendirian di sini jika aku pulang. Selain itu, ada banyak pasien yang meninggal di bangsal tanpa di ketahui penyebabnya, apakah kamu yakin tidak akan takut?"


Valerie langsung merinding di sekujur tubuhnya. Tanpa sadar menoleh ke belakang, kanan dan kiri dengan ngeri, ia langsung berjalan mendekat ke arah Victor dengan marah. "Omong kosong! Jangan menakutiku! Aku tidak pernah mendengar tentang itu!"


Victor mengangkat alis. Ia tersenyum dan menggodanya. "Baiklah jika kamu tidak percaya. Kalau begitu akan pulang sa--"

__ADS_1


"Tidak!" Valerie langsung menahan tangannya untuk tidak pergi. Wajahnya ngeri dan ketakutan. "Jangan pergi, oke? Temani aku tidur!"


__ADS_2