
"Archa, Valerie ...."
Kedua orang yang di panggil itu menoleh ke arah Rea. Melihat wajah merah dan malu-malu nya, Valerie dan Archa saling pandang.
"Ada apa?" tanya Archa dengan mata menyipit.
"Em ... aku ...." Rea tidak berani menatap mata kedua sahabatnya. "Aku dan Alta sudah berpacaran. Maukah kalian datang untuk merayakannya di luar?"
"Ah! Bukankah kalian memang sudah berpacaran?!" Archa menatapnya heran.
"Tidak!" sangkal Rea lugas. "Sebelumnya ... kita hanya dekat. Kamu saja yang menyimpulkan sendiri bahwa kami berpacaran ...."
Archa langsung tertawa. Sedangkan Valerie hanya geleng-geleng kepala.
"Begitu ya ... maafkan aku." Archa terkikik geli. "Baiklah, tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakan hidangan gratis."
Tatapan Archa beralih pada Valerie. "Bagaimana denganmu? Ataukah kamu akan segera pulang menemui Victor? Ayolah, Valerie. Sekali-kali kamu harus ikut dengan kami untuk pergi keluar. Apalagi, ini hanya pesta jadian temanmu sendiri."
Valerie tersenyum kecil. "Baiklah, baiklah. Aku akan ikut bersama."
Archa dan Rea saling pandang dan tersenyum senang.
***
Tempat mereka makan adalah tempat dengan dekorasi klasik yang elegan. Di samping itu, ada danau kecil yang indah dengan beberapa teratai di atasnya. Lalu, di setiap dinding ada dekorasi dengan lukisan yang unik.
"Tempat ini cukup bagus," ujar Alta yang merupakan pacar baru Rea.
Pria itu berumur sekitar 22 tahun dengan wajah cukup tampan dan tubuh tinggi. Dia adalah senior mereka.
Archa memgangguk. "Ya. Ini benar-benar tempat yang unik."
Tempat itu di rekomendasikan oleh Rea sendiri. Wajah gadis itu memerah saat pacar barunya memuji tempat yang ia pilih.
Keempat orang itu memilih tempat agak dekat pemandangan danau. Valerie duduk di samping Archa, sedangkan di depan kedua orang itu Rea dan Alta yang duduk berdampingan.
"Valerie, apakah kamu audah meminta izin kepada suamimu?" tanya Archa.
Valerie langsung tersadar dan menepuk dahinya. "Ah, iya! Aku lupa ...." Dia berdiri dan berkata. "Kalian pesan saja, aku akan ke sana untuk menelepon."
Ketiganya mengangguk. Valerie langsung pergi ke koridor restoran yang agak sepi. Valerie langsung menelepon Victor. Hanya beberapa detik untuk di angkat, tetapi orang di seberang tidak berbicara, jelas pria itu menunggunya untuk berbicara terlebih dahulu.
"Hallo, Victor?"
"Ya." Suara dingin Victor terdengar.
Valerie bersandar di dinding yang dingin. "Sekarang aku sedang berada di luar dengan kedua temman ku, dan aku tidak akan pulang untuk makan malam. Kamu dan Lucher tidak perlu menungguku."
"Siapa yang menunggumu?" katanya dengan jijik.
Valerie memutar bola matanya. "Ya, ya. Kamu tidak harus menungguku."
__ADS_1
Hening.
Kedua orang itu tidak berbicara dan membiarkan keheningan menyelimuti. Lalu beberapa detik kemudian, suara magnetis pria itu datang. "Jam berapa kamu pulang?"
Valerie mengulum senyum, tetapi suaranya acuh tak acuh. "Bagaimana aku tahu kapan selesai makan? Aku tidak bisa menentukannya."
"Tidak menginap?"
"Apakah kamu ingin aku menginap dI luar?"
"Tidak." Victor langsung menolak keras dan dingin. "Valerie, tidurlah di rumah."
Valerie menutup mulut dan berusaha untuk menahan tawanya. "Hei, siapa yang bilang aku akan menginap? Tentu saja aku akan tidur di rumah."
"Bagus," ucapnya puas. "Aku akan menjemputmu."
Valerie sedikit terkejut. "Benarkah? Kamu akan menjemputku?"
"Hmm."
Valerie tidak bisa menahan senyum. "Baiklah, aku akan mengirim alamatnya."
Setelah menutup telepon dan mengirim alamatnya, Valerie berjalan kembali ke mejanya. Yang ia lihat adalah meja yang sudah di penuhi makanan dan minuman. Sedangkan ketiga orang itu tengah mengobrol, dan sepertinya menunggu dia datang.
Rea yang menyadari kedatangannya langsung bertanya. "Sudah selesai?"
Valerie mengangguk dan duduk di tempat sebelumnya. Makanan di meja sangat kaya. Ada ikan dan hidangan lainnya. Piring tersusun unik, indah, dan rapi.
Mereka berempat mulai makan dengan khidmat. Saat sedang makan enak, tiba-tiba Valerie menemukan minuman yang beralkohol di meja. "Siapa yang memesan ini?"
"Aku." Archa tersenyum. "Setelah makan, sekali-kali kita minum itu."
Valerie hanya mengangguk. "Tapi aku tidak akan minum."
Bahu Archa langsung terkulai. "Valerie ... Ayolah. Sekali ini saja. Aku ingat saat di bar hari itu. Kamu minum banyak, tetapi tidak mabuk sama sekali, jadi mengapa kami tidak mau minum hari ini?"
Archa mengambil gelas kaca kecil dan menuangkan minuman itu ke dalamnya. Setelah itu dia menyerahkannya kepada Valerie. Archa melakukan hal sama dan menyerahkannya kepada kedua orang di depannya. "Cobalah. Aku melihat menu dan memesan minuman ini karena bukan anggur biasanya. Jadi, aku yakin ini lebih enak."
Valerie dengan ragu mengambil dan menyesapnya. Rasanya segar dan manis. Ia terkejut dengan rasanya yang cukup lezat. Tidak seperti anggur biasanya.
Kehidupan sebelumnya, Valerie jarang minum karena ia sadar akan karirnya yang selalu naik daun. Jika minum, dia akan mabuk dan para wartawan akan mengambil kesempatan serta mengambil fotonya. Tetapi sekarang, Valerie tidak merasa terhalangi lagi.
Karena rasanya yang enak, Valerie menyesapnya lagi. Kelezatan yang sama mengalir ke tenggorokannya. Ia menyesap kembali.
"Apakah enak?" Archa tersenyum.
"Ya." Valerie mengangguk dan memfokuskan untuk minum.
Atensi Archa beralih pada Alta. "Alta, ku pikir kalian sudah berpacaran sejak awal."
Alta yang sedang menyajikan makanan untuk pacarnya langsung menatap Archa dengan senyum ramah. "Tidak. Sebelumnya aku tidak berani mengungkapkan perasaanku. Jadi, kita hanya dekat saat itu."
__ADS_1
Rea memiliki kepribadian yang cukup lembut, pemalu dan pendiam. Berbeda jauh dengan Valerie dan Archa yang berkepribadian terbalik dan agresif. Tetapi, sesekali Rea selalu membantu Valerie sehingga mereka menjadi teman dekat sampai sekarang. Archa dan Valerie ikut senang saat ada pria yang di sukai Rea ternyata sama-sama menyukai temannya itu.
"Aku saja Valerie merestui kalian berdua karena kamu adalah pria yang di sukai Rea sejak lama. Jika aku tahu bahwa kamu menyakiti Rea, kami akan bertindak," ancam Archa dengan nada sedikit bercanda.
Alta hanya tertawa pelan. Ia menunduk dan menatap Rea lembut. "Apakah kamu sangat menyukaiku sebelumnya?"
Rea terlihat salah tingkah dengan wajah memerah. Ia memelototi Archa dengan malu. Alta menyentuh kepalanya. "Tidak apa-apa. Aku juga menyukaimu."
Alta memeluk gadis itu membuatnya semakin tersipu. Lalu ia menatap Archa. "Aku akan selaku menghargai dan mencintainya. Tenang saja."
Archa mengangguk puas.
"Ugh ... aku ingin lagi ...."
Ketiga atensi orang itu langsung teralih saat mendengar suara lembut dan lemah di samping. Mereka terkejut melihat wajah Valerie yang sudah memerah dan meracau. Dia mencoba menjangkau minuman yang berada di sisi Archa.
Archa langsung memegang wajahnya dan menepuk pipinya. "Valerie! Apakah kamu mabuk?!"
Valerie langsung menepis tangannya dengan wajah bodoh. "Singkirkan tanganmu ...."
Archa terkejut. Ia menatap Rea dan Alta. "Sepertinya dia memang mabuk. Ku kira dia akan tahan ...."
Rea menatapnya cemas. "Archa, jangan beri dia minum lagi."
"Aku--"
"Beri aku minum ... beri aku ...," racaunya tidak jelas.
Meskipun berwajah bodoh saja mabuk, tapi Valerie terlihat lebih cantik. Wajahnya memerah, matanya berair, dan bibirnya bersinar menggoda.
Archa langsung menjauhkan minumannya dan memegang tangan Valerie untuk menahannya. "Kamu tidak boleh minum lagi!"
Walaupun Valerie merasa pusing, kesadarannya masih ada. "Baiklah ... Aku ... Aku akan pulang ...."
"Bagaimana kamu pulang? Apakah perlu di antarkan?" Rea merasa khawatir.
"Tidak ... tidak." Valerie memegang kepalanya.
"Valerie? Apakah kamu benar-benar mabuk? Apakah kamu baik-baik saja?" Archa mengguncang bahunya.
"Aku ... hanya sedikit pusing."
"Ku rasa, sebelumnya kamu tahan mabuk. Mengapa sekarang ...."
Valerie berdiri dengan gontai. "Ayo antarkan aku keluar. Victor akan menjemputku."
"Victor?" Rea dan Archa terkejut.
Detik berikutnya, telepon Valerie berdering. Archa membantu mengangkatnya.
"Aku ada di depan."
__ADS_1