Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 42


__ADS_3

Di tempat tidur besar, sebuah kaki putih ramping terentang di atas selimut, sedikit di tekan oleh kaki pria itu. Di bawah selimut tipis abu-abu, dua sosok bersandar satu sama lain.


Valerie membuka matanya yang mengantuk. Ia masih belum sadar sepenuhnya. Ia merasakan sesuatu menekan, Valerie menunduk dan melihat sebuah tangan memeluk pinggangnya secara horizontal.


Setelah beberapa saat, ia mengingat bahwa tadi malam Victor berbagi bantal dengannya. Dengan hati-hati, Valerie mencoba mengambil tangan Victor.


"Bangun?"


Suara serak khas bangun tidur terdengar malas di atas kepalanya. Valerie sedikit terkejut. Ia segera berkata. "Pagi, Victor. Maukah kamu melepaskan tanganmu? Aku ingin bangun."


"Tapi aku masih ingin tidur." Victor memejamkan matanya kembali. "Valerie, aku merasa jika tidur denganmu, maka kualitas tidurku akan sangat tinggi dan baik."


"... hah?" Valerie menatapnya tidak mengerti.


Victor menekan tangannya untuk mengencangkan tubuh lembut Valerie ke pelukannya. Ujung jarinya mencubit pelan pinggang ramping Valerie. Suara tawa rendah terdengar. "Ini sangat lembut."


Valerie tersipu hingga wajahnya memerah. Ia tidak merasakan sakit, namun sangat geli. "Jangan mencubitku!"


Victor tidak melepaskan tangannya. Karena Valerie membelakangi Victor, pria itu meletakkan dagunya di leher Valerie. Posturnya terlihat sangat intim. Victor mengangkat sebelah alis dan berkata terus terang. "Valerie. Tubuhmu benar-benar lembut."


Valerie sangat malu dan agak tegang dengan posisi intim seperti ini. Wajahnya putihnya memerah. "Kamu ... jangan berbicara omong kosong!"

__ADS_1


Rahang Victor bergesekan dengan kulit leher Valerie. Ia berkata jujur. "Tahukah kamu? Tidurku akan sangat nyenyak jika memelukmu."


Valerie begitu malu dan tersipu sehingga ia segera menyingkirkan tangan Victor yang memeluknya. Apalagi suaranya yang seksi memenuhi telinganya. "Lepaskan!"


Victor mengangkat alis. "Apakah kamu malu? Kenapa nada suaramu seperti itu?"


Kalimatnya seolah menggodanya, tetapi nadanya terdengar santai dan malas. Valerie melototinya dengan pipi memerah. "Siapa yang malu!"


Tubuh Valerie sudah lepas darinya, Victor merasa kosong. "Kemarilah, aku ingin memelukmu lagi."


"Peluk saja dirimu sendiri!" Valerie segera menjauh. Gerakannya terlihat salah tingkah.


"Membosankan," dengus Victor. "Aku tidak akan memelukmu lagi, tetapi kamu harus segera membuatkanku kue."


Victor diam. Valerie lega karena dia tidak marah. Ia membungkuk dan bersandar dekat telinganya. "Jangan terlalu banyak memakan makanan manis, itu tidak baik untuk kesehatanmu. Selain itu, nanti kamu akan menjadi gemuk di masa depan."


Meskipun Valerie sudah mengurangi kadar gula dalam kuenya, tetapi tetap saja kuenya memiliki kalori yang tinggi. Terlalu banyak makan gula akan berdampak pada tubuh.


Victor tidak hanya peka terhadap penciuman, tetapi peka terhadap pendengaran. Dan pada saat pagi ini, suara bisikan rendah lembut Valerie memasuki telinganya, terdengar sangat menyenangkan. Sebelumnya, perawat yang merawatnya tidak hanya tidak bau, tapi suaranya harus enak di dengar, jadi sangat sulit menemukan perawat yang cocok.


Lalu Valerie, selain mempunyai bau tubuh yang harum, suaranya sangat lembut dan menyenangkan jika di dengar. Itulah mengapa ia tidak menolak pendekatan dan sentuhannya.

__ADS_1


"Victor, aku akan membuatkannya hanya dalam dua kali seminggu, oke?"


Sangat melelahkan jika harus membuat kue setiap hari, tetapi Valerie tidak keberatan jika membuatnya dua kali selama seminggu.


"Kamu tidak mau memelukku, kamu juga tidak mau membuatkanku kue. Bukankah kamu terlalu berlebihan?"


Valerie menatapnya tidak percaya. Melihat ekspresi dan mendengar nada suaranya, ia hanya merasa dia terlalu menyedihkan. Seolah dirinya adalah penipu pria ini.


"... tapi aku sudah bilang, bukannya aku tidak mau. Tidak baik memakan terlalu banyak kue ...."


Victor berbalik memunggunginya dan menutup mata untuk tidur kembali. Sepertinya tidak mau mendengar alasannya. Valerie menatap punggungnya dengan helaan nafas.


Valerie turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Aku malas membujuk pria besar ini.


***


Cuaca pagi hari belum terlalu panas, sesekali ada angin sejuk. Mendengar suara gemericik dari hutan bambu, hanya merasa suasana hati tenang dan menyenangkan.


Saat Valerie sudah selesai dengan ritual mandinya, ia melihat Victor yang baru bangun.


"Victor, cuaca sangat bagus hari ini. Mari kita makan di paviliun."

__ADS_1


"Terserah."


Victor terlihat segar, kantung mata sebelumnya berangsur-angsur menghilang. Selama dua hari terakhir, ada Valerie yang tidur di sampingnya. Dan ia selalu tidur nyenyak sampai fajar muncul. Sepanjang pagi ia hanya merasa tidak ingin bangun karena kenyamanan.


__ADS_2