
"Ayah."
Suaranya terdengar imut.
Sosok kecil yang melewati Valerie itu adalah anak lelaki bernama Lucher berusia sekitar 3-4 tahun.
Lucher berjalan ke sudut dinding. Ia menggeser kursi dengan susah payah dan duduk di bangku.
Hanya sepiring bubur dan semangkuk roti yang tersisa di meja makan. Mata anak itu berputar-putar untuk mencari kue, namun bahunya langsur terkulai. Ia tahu kuenya sudah di makan ayahnya. Ia hanya mengambil bubur dan memakannya diam-diam dengan kepala tertunduk.
Pria buta, bocah yang kejam, dan kucing gemuk yang terbaring malas, kombinasi itu tak terlukiskan. Namun, Valerie sedang tidak mood untuk memerhatikan mereka, saat ini yang ia pikirkan hanya rumah sakit.
Begitu ia melangkah ke pintu kamar, langkahnya langsung berhenti dengan terkejut. Kepalanya... tidak sakit lagi. Nada dering itu menghilang.. sangat aneh..
Valerie mematung. Ia menyentuh dahinya yang memar. Logikanya, ia akan merasakan rasa sakit saat menyentuh lukanya, namun saat ini ia tidak merasakannya sama sekali.
Valerie menggerakkan tangan dan kakinya, ia merasa tubuhnya yang berguling dari tangga benar-benar tidak sakit lagi. Apa yang salah?
Valerie tertegun. Ia menoleh untuk melihat Lucher yang duduk di samping Victor. Pria kecil itu sangat imut seperti malaikat kecil. Mungkin merasakan tatapannya, Lucher menatapnya galak, alisnya mengerut, dia langsung kembali pada sarapannya.
Apakah karena dia? Setelah dia masuk, rasa sakitnya langsung hilang. Apakah si kecil ini mempunyai kemampuan khusus?
Valerie mengingat plot, sebagian besar novel ini menceritakan tentang perkembangan protagonis pria dan wanita. Tidak banyak plot yang menyebutkan Victor atau antagonis. Di novel hanya menjelaskan bahwa Victor dan Lucher tidak berakhir dengan baik, apalagi sama sekali tidak menjelaskan sesuatu yang istimewa tentang pria kecil itu.
Nasib Valerie asli tidak lebih baik dari dua orang di depannya.
Tiba-tiba perutnya berbunyi. Valerie memegang perutnya kelaparan.
__ADS_1
Tadi malam ia terombang-ambing akan rasa sakit, sama sekali tidak memikirkan makan. Melihat pria kecil itu tengah sarapan, Valerie melemparkan tasnya dan melangkah menuju meja makan. Karena ia sudah baik-baik saja, ia tidak jadi ke rumah sakit. Berpikir untuk mengisi perutnya terlebih dahulu.
Melihat wanita itu duduk nyaman di seberang dan mengambil roti, wajah Lucher berkerut tidak bahagia dan berkata tegas. "Ini milikku!"
Valerie dengan santai merobek roti menjadi sepotong kecil dan memasukannya ke dalam mulutnya. Ia menoleh ke arah Lucher dengan sebelah alis terangkat. "Kenapa? Ini sarapan dari dapur, kenapa aku tidak boleh memakannya?"
Jika bukan karena pria dingin di sampingnya, Valerie yang merasa tangannya gatal akan langsung mencubit pipi gembul si kecil yang pemarah.
Di dalam novel, setelah Victor meninggal, akhir dari Valerie asli tidak jauh lebih baik. Setelah protagonis pria--Javier mengambil alih sepenuhnya perusahaan Spare, dia lebih kejam kepada Valerie asli yang sering mengganggu dan mencelakai Nuella. Javier langsung membuat bangkrut keluarga Valerie asli dan melemparkannya ke rumah sakit jiwa.
Memikirkan itu, kunyahan Valerie berhenti dan menggigit bibirnya.
Walaupun sebelumnya ia merupakan tunangan protagonis itu, tapi saat ini sesuai plot, Javier sangat mencintai Nuella. Dan dengan reputasinya sampai saat ini, ia tidak berarti lagi bagi Javier. Walaupun juga dengan perilaku Nuella yang membuat kehidupan Valerie asli menderita, namun saat ini ia tidak mau terlibat dengan kedua protagonis lagi.
Valerie tidak tahu, apakah protagonis itu akan menyerangnya lagi walaupun ia diam, tapi agar tidak berakhir menyedihkan seperti dalam novel, ia harus mempertahankan Victor agar tidak mati, ia harus bersamanya. Bahkan walaupun Victor buta, Javier akan cemburu pada Victor akan kemampuannya.
Valerie memalingkan wajahnya untuk melihat Victor. Ia bisa dengan jelas melihat wajahnya yang menjijikkan. Namun Valerie memandangnya santai penuh kerinduan. Sudut mulutnya di tarik menjadi lengkungan lembut.
"Ini sarapan aku dan ayahku! Sarapanmu ada di sana, di aula!"
Saat ini, suara imut itu membuyarkan lamunan Valerie.
Melihat Valerie terus memakannya, Lucher merasa kesal dan marah. Ia menatap ayahnya dengan sedih. Walaupun tanpa keluhan, mata besarnya melihat Victor dengan menyedihkan.
Valerie sangat tahu bahwa hubungan Valerie asli dengan Victor dan Lucher sangat buruk. Ia tidak tersinggung dengan kalimat si kecil. Ia menggigit sebagian roti dan tersenyum pada Lucher. "Aku ingin makan denganmu. Apakah kamu menerimanya?"
Pipi gembul Lucher yang mengembung tiba-tiba memerah.
__ADS_1
Lucher menundukkan kepalanya dan menenggelamkan wajahnya di mangkuk bubur. Ia berpikir, wanita di depannya sepertinya telah berubah. Padahal, sehari sebelum kemarin dia memarahinya dan memerintah untuk menjauh darinya. Selain itu, dia menyebutnya spesies liar.
Lucher mengepalkan sendoknya dengan erat dan mengerutkan kening. Wanita di depanku pasti membuat ide buruk, dan aku tidak akan tertipu lagi.
Di samping, Victor diam tanpa ekspresi dari awal hingga akhir. Lalu ia mengambil tisu dan menyeka sudut mulutnya. Victor berdiri dan berjalan menuju ruang belajar yang terpisah dari belakang.
Ketika Lucher melihat ayahnya pergi, ia segera mengangkat kepala lecilnya. Ia menatap Valerie dengan galak, lalu melompat dari kursi dan mengambil kucing itu di lantai. "Brownie, ayo pergi!"
Si kecil berpikir, tidak bisa tinggal dengan wanita itu lagi, ia takut di pukul.
Setelah itu, Lucher memeluk kucing di gendongannya dan berlari pergi setelah mendengus ke arahnya.
Valerie melihat belakang punggungnya yang kecil seraya menggigit roti. Pria kecil yang sangat menyebalkan.
***
Valerie berdiri di depan cermin dengan ekspresi jelek dan suasana hati yang buruk. Ia tahu, di novel di ceritakan bahwa si antagonis memang tidak cantik. Benar-benar menonjolkan kecantikan bersinar dan kebaikan protagonis wanita. Jika di bandingkan dengan Valerie asli yang jelek, tak berotak.
Walaupun ia sudah tahu, namun melihat dirinya di cermin, Valerie masih kaget.
Valerie ingin menangis tanpa air mata. Tubuhnya saat ini berbanding jauh dengan tubuh seksi idealnya sebelumnya! Apalagi wajahnya yang cantik, jika di bandingkan dengan wajah ini bagaikan langit dan bumi.
Sebelumnya, penampilannya sangat menonjol di lingkaran model. Ia juga di sebut model paling cantik dan indah di antara yang lain, banyak yang mengejarnya. Namun saat ini..
Tingginya hampir sama dengan tubuh dulu sekitar 1,68 meter, hanya saja mungkin tubuhnya dulu lebih tinggi. Saat ini pun tubuhnya jauh dari kata seksi, namun murni gemuk, kulitnya kusam dan gelap, sangat tidak nyaman di pandang. Apalagi, fitur wajahnya, tidak ada yang perlu di lihat, sangat jelek dan penuh jerawat. Wajahnya yang bulat dan pipinya yang berisi, sangat jauh dari kata 'cantik'.
Valeri benar-benar menangis setelah melihat keseluruhan dengan detail. Tubuhnya langsung runtuh di bawah cermin. "Hiks.. kenapa aku sangat jelek? Aku sangat sedih.. hiks.. kembalikan diriku dulu, oh.. Tuhan.."
__ADS_1
Memikirkan sesuatu, Valerie berdiri kembali dan mengusp air matanya dengan mata di penuhi tekad. "Ah, mungkin tubuhku sudah terbakar menjadi debu. Tidak jadi Tuhan.. aku bersyukur saat ini.."
Meskipun kulitnya gelap, namun tetap utuh dan sehat. Itu akan lebih baik jika di rawat, apalagi jika menurunkan berat badan. Berpikir seperti itu, kesedihan Valerie langsung terhapus dan tersenyum semangat. Aku pasti bisa menjadi cantik lagi!