
"Aku ingin menunggang kuda kayu. Bolehkah?" Lucher menunjuk ke kuda kayu itu.
"Kamu boleh memainkan apapun hari ini," kata Valerie lembut.
Ada banyak orang yang berbaris di komidi putar, tapi Valerie membeli VIP, jadi ketiganya berjalan langsung di jalur cepat tanpa antri.
"Victor, apakah kamu ingin bermain sesuatu?" tanya Valerie di saat melihat Lucher yang tengah menunggang kayu.
Namun, bahkan Victor tidak tertarik untuk melirik permainan yang tengah Lucher mainkan itu. Ia menarik sudut bibirnya, mengulurkan tangan dan menyentuh pipinya. "Bagaimana menurutmu?"
Valerie berpikir sebentar. Matanya berbinar. "Aku tahu!" Ia berjalan menuju seseorang. Dia adalah petugas kuda kayu di sana. Ia berkata menitipkan Lucher sebentar. Pria itu setuju dengan ramah.
Valerie kembali ke Victor dan melihat ekspresinya sudah berubah dengan mengerutkan kening. "Apa yang kamu lakukan?"
Valerie tidak tahu Victor menyaksikan dia berbicara dengan seseorang, ia hanya menanggapi santai. "Aku menitipkan Lucher sebentar. Kita akan pergi ke sana berdua."
Kata 'berdua' langsung memulihkan suasana hatinya yang sempat masam. Ia membiarkan Valerie menggandeng tangannya dan masuk ke mesin stiker foto merah muda yang tidak jauh. Membuka tirai hitam, Valerie membawa Victor masuk.
"Ke mana kamu membawaku?" Victor melihat sekeliling. Ruangnya sempit.
"Ini ruang foto. Jadi, biarkan aku berfoto denganmu."
"Berfoto?"
"Ya." Valerie melihat tutorial dan mempelajarinya.
Di ruang sesempit itu, sosok jangkung Victor menempati hampir separuh Raung. Ia bersandar di dinding dan teringat jawaban bawahan kemarin. Tidak di sebutkan bahwa pengambilan foto termasuk hal yang di lakukan selama berkencan. Jadi, perlahan ia bertanya. "Apakah berfoto termasuk kencan?"
Valerie telah mengerti fungsi mesin bekerja. Saat mendengar pertanyaannya, ia menjawab dengan nada menggoda. "Tentu saja. Sepasang kekasih suka berfoto."
__ADS_1
Victor langsung berdiri tegak. Matanya yang gelap agak bersinar. Valerie yang sibuk mengutak-atik tidak memerhatikan tatapannya. Ia memilih mode, dan tampilan layar segera menunjukan wajah keduanya.
"Kamu harus tersenyum saat berfoto seperti ini," ujar Valerie saat melihat Victor yang tanpa ekspresi depan kamera. Ia memiringkan kepala dan menguraikan tangan untuk menarik kedua sisi sudut bibir pria itu. "Seperti ini. Kamu tidak bisa mengambil gambar dengan wajah lurus."
Victor meliriknya. "Aku tidak bisa terenyum."
Valerie memandangnya dengan geli. Ia mengulurkan tangan untuk menggelitik pinggangnya. "Bagaimana dengan ini?"
Victor menurunkan pandangannya. "Jika kamu menggelitik ku lagi, aku akan menggigitmu."
Valerie tersedak dengan wajah tersipu. Degup jantungnya mencepat, dan ia segera berkata. "Lupakan. Kamu tidak perlu tersenyum."
Dengan cara ini. keduanya mengambil banyak foto terus-menerus. Valerie mengubah gayanya dari waktu ke waktu, sementara Victor seperti papan latar.
Saat bidikan terakhir, Valerie memandang Victor di layar dan berkata. "Victor, kamu terlalu tinggi, jadi membungkuklah."
Victor dengan patuh membungkuk. Namun, tiba-tiba Valerie mencondongkan tubuh ke dekat wajahnya dan mencium pipinya. Foto itu di ambil seketika. Victor sedikit terkejut, ia bereaksi setelah mendengar tembakan gambar di depannya.
Victor melihat foto itu juga, dan hatinya merasa gatal. Setelah Valerie mengirim foto kamera ke ponselnya, Victor tiba-tiba berkata. "Valerie, aku ingin menciummu."
Ponsel di tangan Valerie hampir terjatuh. Ia tersipu sang langsung menolak. "Tidak. Ini di luar."
Victor melirik tirai hitam tebal di sebelahnya dan tersenyum. "Tidak akan ada yang melihatnya."
Valerie sendiru tahu bahwa orang lain tidak dapat melihat situasi di dalam, tetapi ada banyak orang yang datang dan pergi, dan pasti seseorang akan menarik kain dan mengambil foto kapan saja.
"Valerie, aku ingin menciummu." Victor membungkuk. Ruang yang awalnya sempit, membuat Valerie tidak bisa bergerak karena tersudut.
Detak jntungnya semakin cepat. Dengan mata gugup ia melihat wajah yang membesar di depannya. Pipinya panas dan berkata malu. "Bisakah kamu berhenti bertanya ...."
__ADS_1
Victor mengambil pinggangnya untuk lebih dekat, dan dagu Valerie di angkat dengan jarinya. Lalu, bibir pria itu jatuh ke bibirnya. Valerie tidak tahu, apakah ruangnya yang telah kecil, atau suhu di luar secara tahap meningkat, Valerie merasa sangat panas. Apalagi, bibirnya terjalin dengan ujung lidah terjerat. Ia hanya merasa wajahnya begitu panas.
"Sepertinya ini tempat berfoto." Suara gadis di luar tiba-tiba terdengar.
Valerie sangat panik dan ketakutan sehingga tubuhnya bergetar. Ia yang tenggelam dan ciuman itu langsung berpikir jernih. Valerie mencoba mendorong Victor, tetapi pria itu tetap tidak bergerak. Pinggangnya di ikat erat, dan badannya di tekan di dinding
Di ruang kecil itu, Valerie nahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri. "Em .. ada orang di lu--Hmmp!"
Valerie sama sejali tidak Victor biarkan untuk bicara. Hanya mengeluarkan beberapa kata, ia sudah di makan pria itu detik berikutnya. Tubuh Valerie tegang, dan ia merasa jantungnya akan keluar. Ia mencoba mendorong Victor lagi, tetapi dadanya terlalu kuat, tubuhnya tinggi. Kekuatannya yang lembut tidak menggerakkan Victor sama sekali.
"Sepertinya ada orang di dalam. Ayo datang nanti. Bukankah kamu ingin bermain roller coaster?" Suara lain yang merupakan seorang pria terdengar.
"Baiklah." Gadis itu menyahut.
Sepertinya mereka pergi. Tubuh gugup dan tegang Valerie langsung melunak. matanya memelototi Victor dengan tajam. Ia menggigit bibir pria itu dengan kesal, dan Valerie di lepaskan saat mendengar geramannya yang menyakitkan.
"Kamu sangat galak." Victor mengusap sudut bibirnya, matanya yang gelap melengkung oleh senyuman.
"Seseorang hampir masuk, apakah kamu tidak mendengar?" Valerie membelai pipinya yang panas.
Victor melihat bibir Valerie sedikit bengkak dengan warna merah cerah. Jakunnya meluncur ke atas dan bawah. Baru saja ia berpikir bahwa bibir lembut itu akan meleleh seperti permen ketika di makan di mulutnya.
"Apakah kamu mendengarku?!" sergah Valerie saat melihatnya malah terdiam.
Victor terkekeh rendah, dan itu membuat Valerie tersipu. Pria itu berkata bodoh. "Tapi aku tidak ingin berhenti ...."
Wajah Valerie memerah karena malu dan kesal. "Kamu! Sangat menyebalkan!"
Victor melihat ekspresinya yang imut dan lucu. Ia menarik orang itu ke dalam pelukannya. "Bolehkan aku ...."
__ADS_1
"Tidak!"
***