Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 35


__ADS_3

Pada saat tengah malam, Valerie merasa dirinya di pegang erat, bahkan di tekan yang membuatnya sesak dan terengah-engah. Tetapi, karena rasa kantuknya, ia tertidur lagi.


Keesokan harinya pada saat matahari terbit, Valerie terbangun dan membuka matanya yang di sambut jakun menonjol. Setelah tertegun beberapa detik, Valerie menyadari situasi.


Mengapa ia tidur di pelukan Banyak Banyak Victor lagi? Tadi malam jelas-jelas dirinya sudah menempatkan selimut di tengah. Lalu, di mana selimutnya?


Valerie bisa merasakan hangatnya kulit Victor yang bersentuhan dengan pipinya. Ia juga bisa mencium aroma dari pria itu, sangat jelas dia memakai shower gelnya tadi malam.


Valerie mencoba melepaskan pelukannya. Dengan hati-hati ia mencoba bangun sebelum pria ini bangun.


"Jangan bergerak." Suara serak di atas kepalanya membuat Valerie agak tersentak. Tangan Victor yang bertumpu di pinggangnya menegang. Suara lesu dan mengantuk terdengar lagi. "Aku masih mengantuk."


Valerie tercengang. Apakah pria ini berbicara dalam mimpinya? Apakah dia tahu bahwa ia memeluknya tadi malam?


"Victor ...."


"Jangan berbicara. Apakah kamu tahu bahwa aku tidak bisa tidur beberapa hari ini?" kata Victor dengan suara bodoh. Kekuatan tangan yang menggenggam pinggangnya meningkat. "Diam. Aku akan tidur sebentar lagi."


Kemudian, Victor tertidur kembali dengan puas.


Kepala Valerie terkubur di dada pria itu. Seluruh tubuhnya di peluk Victor, dan sama sekali tidak bisa bergerak.


Matahari berangsur-angsur naik. Entah berapa lama Valerie menunggu, ia tidak bisa tidur lagi. Akhirnya Valerie menjadi tidak sabar. Ia mendorong tubuh pria itu. "Lepaskan. Aku ingin bangun."


Victor tidak bergerak.


"Victor ...."


"Ck. Berisik sekali." Jelas suaranya terdengar jengkel. Victor mengambil tangannya, dan berbalik untuk tidur kembali.


"Kamu sendiri yang memelukku begitu lama. Lihat keluar, matahari sudah naik," keluh Valerie.


Victor membuka matanya yang tanpa fokus, dan berkata lugas. "Kamu sendiri yang berinisiatif memelukku tadi malam. Karena itu, jangan menolakku jika aku ingin memelukmu juga. Itu adil."


Valerie memutar bola matanya. Ia turun dari tempat tidur. Tiba-tiba matanya menangkap selimut di lantai. Mengapa itu jatuh? Apakah ia yang menjatuhkannya?


Valerie mengerutkan kening, ia mengulurkan tangan dan mengambil selimut itu. Setelah menepuk-nepuk bagian atasnya, ia meletakkannya di sofa.


Setelah memakai sandalnya, Valerie berjalan ke kamar mandi. Melihat dirinya sendiri di sebuah cermin besar, Valerie terkagum-kagum.

__ADS_1


Semenjak ia pindah ke sini, Victor sering marah. Dan tentu saja berat badannya semakin turun. Terakhir kali ketika di rumah sakit, berat badannya sekitar 115 kg, dan sekarang ia bisa memperkirakan sekitar 105 kg. Untuk tinggi badannya saat ini 1, 68 meter. Bobotnya sudah dia anggap kurus.


Lalu pada wajah, di bandingkan dengan penampilan sebelumnya, sangat banyak perubahan. Kulit halus, mata aprikot cerah dan berair, jika ia mengedipkan mata, terlihat sangat indah. Lalu, hidungnya yang lurus, kecil dan imut, bibirnya yang tanpa lipstik berwarna merah muda dan kecil. Ini benar-benar cantik


Yang paling memuaskan Valerie adalah, perubahan warna kulitnya yang semakin cerah. Suasana hati Valerie sangat baik.


"Lihatlah dirimu sendiri, Valerie. Kamu tidak akan insecure lagi."


Valerie keluar dari kamar mandi dengan ekspresi puas. Melihat Victor yang sudah duduk di tepi kasur, ia berkata lembut. "Victor, aku sudah menyiapkan air hangat, aku juga sudah mengambilkan pasta gigi untukmu. Nanti aku akan menunjukkan jalannya, sekarang aku akan membangunkan Lucher dahulu."


Tanpa menunggu jawabannya, Valerie keluar kamar dengan senyum yang terpatri di wajahnya.


Victor yang tertinggal, sedikit bingung. Mengapa ia merasa sikap wanita itu lebih lembut dari pada saat sebelum masuk ke kamar mandi?


***


Selain alasan ingin lebih lama tinggal bersama orang tuanya, Valerie belum ingin pulang ke kediaman Spare karena hari ini di adakan perjamuan pesta pernikahan. Keluarganya di undang, dan tentu saja Riana akan membawa putrinya ke pesta.


Di meja makan, saat Valerie turun bersama Victor di genggamannya, semua orang menoleh ke arahnya dan hanya merasa Valerie lebih cantik.


Aska menatap kakaknya terperangah. "Aku merasa kakak lebih cantik dalam semalam."


Aska memutar bola matanya tanpa menyangkal.


Saat Valerie menatap kedua orang tuanya, mereka sama-sama menatapnya dengan menganga. Ia menjelaskan. "Aku memakai masker pemutih akhir-akhir ini, karena aku akan menghadiri perjamuan makan bersama kalian. Tampaknya, efeknya datang."


Riana mengangguk dengan senyum cerah. "Putriku benar-benar semakin cantik saat ini."


"Kamu terlalu kurus, jika lebih berisi seperti sebelumnya, itu akan lebih cantik." Jian menambahkan


Riana meliriknya. "Lebih kurus atau lebih ramping, maka akan terlihat lebih cantik. Apa yang kamu tahu tentang wanita?"


***


Setelah sarapan, Valerie berniat mengganti baju, tetapi ia melirik Victor terlebih dahulu dan berkata. "Victor, hari ini aku, ibu, ayah dan adikku akan menghadiri pesta pernikahan orang lain."


Victor diam. Tetapi, ia bisa menebak, tidak lebih untuk memintanya pulang kembali ke rumahnya. Sangat membosankan.


Tiba-tiba suara lembutnya terdengar lagi. "Apakah kamu dan Lucher akan ikut ke pesta denganku?"

__ADS_1


Aroma susu tampak lebih kuat di ujung hidung. Mendengar kata-katanya, Victor sedikit terkejut.


Di sisi lain, Aska, Jian dan Riana sama-sama terkejut. Aska yang paling keberatan. "Kakak? Kamu mengajaknya? Untuk apa?"


Bukan hanya menjadi lelucon, kakaknya akan di ejek. Begitu pun Jian yang sangat tidak senang, bagaimana mungkin ia membiarkan putrinya keluar dan merawat pria buta itu?


"Sayangku, Valerie, tidak nyaman untukmu jika membawa mereka."


Riana tidak mengatakan apapun, namun sorot matanya jelas-jelas tidak setuju.


Victor bersandar di kursi dan berkata kepada Valerie. "Kenapa kamu membawaku? Sepertinya keluargamu tidak setuju."


Jian mencibir. "Jika kamu lebih sadar diri, itu lebih baik."


Valerie merasa bingung. "Maksudmu, kamu tidak ingin ikut denganku?"


Victor bergeming.


"Baiklah. Kalau begitu, kamu bisa menunggu di sini atau pulang. Tunggu aku sampai selesai."


Jian, Aska, dan Riana merasa lega. Mereka benar-benar khawatir Victor akan ikut.


"Nilai marah: 5."


Valerie terkejut dengan deringan dan sakit kepala itu. Ia jelas mengerti mengapa Victor marah. Valerie memandang pria tanpa ekspresi di sampingnya dan berkata lembut. "Tapi ... aku ingin kamu ikut denganku. Seindah apapun gaun yang aku pakai, jika kamu tidak ada di sisiku, itu tidak ada artinya."


"Valerie!"


"Kakak!"


Jian dan Aska benar-benar tidak percaya. Kapan Valerie membujuk mereka dengan kata-kata manis seperti itu? Apalagi, saat ini dia ingin pria buta itu ikut ke pesta? Itu terlalu berlebihan.


"Nilai marah: 0."


Valerie merasa lega. Ia menatap ayah dan adiknya. "Ayah, Aska, aku ingin membawa mereka. Tenang saja, Lucher adalah anak yang baik, dia tidak akan berlarian. Dan suamiku, tidak masalah mengajaknya sebagai pasangan."


Jian akan membuat suara tidak setuju, tetapi suara Valerie menghentikannya. "Victor, apakah kamu akan pergi denganku?"


Bibir Victor melengkung. "Karena kamu sangat ingin aku menemanimu, aku akan pergi."

__ADS_1


Jian dan Aska menggertakkan gigi. Riana hanya menghela nafas.


__ADS_2