Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 88


__ADS_3

Pada ujian akhir, Rea muncul di ruang ujian hari itu. Wajahnya tidak pucat seperti sebelumnya, namun sudah kembali normal. Hari itu, ketika Archa dan Valerie menjenguk Rea ke rumahnya, Archa langsung mengatur sebuah rumah sakit untuk Rea. Keputusan gadis itu tentu saja menggugurkannya, dan operasi berjalan dengan baik. Setelahnya, Rea memulihkan diri di rumah.


Ayah Rea adalah Ayah yang sama sekali tidak peduli dengan putrinya, dan ibu tirinya sama-sama tidak peduli. Rea berkata dia sakit, dan harus istirahat dalam jangka waktu tertentu, berkat itu, mereka sama sekali tidak menemukan bahwa Rea pernah hamil.


"Apakah kesehatanmu sudah membaik?" tanya Valerie.


Rea mengangguk dengan senyum tercetak di bibirnya. "Jauh lebih baik, terima kasih."


"Lalu, lagaimana hasil ujianmu?" Kali ini, Archa yang bertanya.


"Karena buku catatan yang Valerie pinjamkan kepadaku, itu adalah poin-poin penting, jadi sangat mudahkan ujianmu."


"Baguslah." Archa mengangguk puas. Memikirkan seseorang, ekspresinya berubah marah. "Rea. apakah kamu sudah menangani pria baj*Ngan itu?"


Yang melihat Archa sangat marah, saat itu ia melihat Alta berjalan bergandengan dengan gadis lain di gerbang sekolah. Sahabatnya sakit dan harus memulihkan diri karena perbuatan kejinya, dan sedangkan dia pergi untuk bersenang-senang dengan wanita lain? Memikirkannya saja sudah membuat emosi Archa naik.


Di sisi lain, Rea tidak ingin kedua temannya itu mengetahui tentang fotonya. Ia menunduk dan berkata. "Aku tidak mau terlibat dengannya lagi, aku sangat bodoh sebelumnya. Aku hanya ingin menjauh dari dia ...."


Alta menginginkan sejumlah uang untuk menebus foto itu. Untung saja, Rea miliki tabungan sendiri yang ibunya tinggalkan, jadi ia berniat memberikan uang itu kepada Alta dan menukarkan fotonya.


***


"Sepertinya ulang tahun Lucher dua hari lagi?" tanya ragu Valerie kepada Victor.


"Aku tidak mengingatnya," balas Victor malas.


Valerie menggelengkan kepala sedikit atas ketidakpeduliannya. Ia setengah berjongkok di samping Victor dan berkata. "Victor, ayo kita pergi ke taman hiburan nanti lusa."

__ADS_1


Victor langsung menatapnya. "Apakah kamu mengajakku berkencan?"


Valerie mengerjap. Setelah bereaksi, ia tersenyum geli. "Kami hanya pergi ke taman hiburan untuk merayakan ulang tahun Lucher. Dia pasti akan sangat senang." Valerie menatapnya. "Bagaimana menurutmu?"


Victor memandang sepasang mata bersinar di depannya. "Terserah kamu saja."


Valerie tersenyum lebar. "Kalau begitu, akan akan memberitahu Lucher. Dia pasti sangat bahagia!" Valerie langsung meninggalkan ruangan untuk mencari anak itu.


Sosok itu menghilang di pintu. Victor menyipitkan matanya, dan ia mengeluarkan ponsel menelepon seseorang.


"Halo, Tuan Victor?" Di ujung panggilan, suara seseorang datang.


"Apa yang harus di lakukan pria dan wanita saat berkencan di taman hiburan?"


Pertanyaan santai Victor terdengar, tapi itu membuat bawahan muda di seberang telepon gemetar ketakutan. Lalu ia mendengar dengusan dingin Victor, segera ia beraksi dan menyampaikan jawaban yang ia cari dengan cepat di komputer Victor.


***


Pada saat hari keberangkatan tiba, Valerie bangun pagi-pagi. Ia membersihkan diri, melepas piyama, dan hendak mencari set pakaian kasual di lemari.


Di tempat tidur, Victor sudah bangun saat Valerie meninggalkan lengannya. Ia duduk dan bersnadar lesu di sisi ranjang, meletakkan tangan dengan santai di belakang kepalanya, mata gelap pria itu memerhatikan punggung melengkung Valerie dengan penuh minat. Bahkan jika rambut panjang wanita itu menutupi setengah tubuhnya, tapi ia bisa melihat kecantikan menggoda putih salju di pinggang belakang.


Valeri yang masih sibuk mencari pakaian yang cocok, tiba-tiba merasakan pandangan panas di belakang. Ia berbalik tanpa sadar, matanya bertemu dengan mata Victor yang dalam. Ia terkejut. "Kapan kamu bangun? Kenapa kamu tidak mengatakan apa-apa?"


Tatapan Victor langsung tertuju pada tubuh bagian atas Valerie. Perlahan ia menurunkan pandangannya, suaranya magnetisnya sedikit lebih serak. "Mengapa aku harus bersuara?"


Wajah Valerie memerah. Tanpa sadar ia menutupi dadanya dan membalikan tubuh kembali. "Segera bangun dan mandi, kita akan pergi ke taman itu setelah sarapan."

__ADS_1


Valerie mengambil set pakaian berwarna cerah pucat dengan terburu-buru. Walaupun ia sangat tahu Victor tidak bisa melihat, mengapa dia merasa tidak aman saat ini? Apalagi ... tatapannya ....


Valerie tanpa sadar melirik kembali ke belakang. Benar saja, mata pria itu masih tertuju padanya. Dan bahkan, pandangannya lebih dalam. Wajah Valerie semakin merah.


***


Ketika anggota keluarga kecil itu sampai di taman hiburan, sudah banyak orang berbaris di luar gerbang taman.


Ini adalah pertama kalinya Lucher datang ke taman hiburan. Saat Valerie memberitahunya tentang ini, Lucher sangat senang dan bahagia. Sampai-sampai, dua hari sebelum hari ini datang, ia tidak bisa tidur memikirkannya.


Lucher terbiasa melihat anak-anak lain bermain di taman hiburan di televisi. Sekarang, ia melihat pemandangan nyata di hadapannya, mata besarnya terus berputar memerhatikan sekitar. fasilitas nya luar biasa.


Valerie tersenyum dan menyentuh kepala anak di pelukannya. Melihat matanya memerhatikan benda besar di depan, ia berkata. "Itu roller coaster dan komidi putar."


"Wow!" Lucher berseru kagum.


Sepanjang jalan mereka masuk, Valerie terus menggendong Lucher di pelukannya. Sepertinya ia meremehkan berat badan pria kecil itu, jadi saat ini tangannya sakit dan pegal. Langkah Valerie berhenti dan menoleh menatap Victor. "Gendong Lucher. Tanganku pegal."


Mata Lucher langsung berbinar. Apakah ayah akan memeluknya? Ia memandang sekitar. Anak-anak seusianya di pegang dan di gendong ayahnya. Lucher juga ingin ....


"Ayo peluk dia, dan aku akan menunjukkan jalan." Valerie berkata di telinga pria itu dengan suara rendah. "Jangan menolak. Kamu harus membuatnya bahagia."


Victor menatap wajah putih kecil di dekat matanya. Sinar matahari pagi jatuh sehingga wajah Valerie semakin putih dan tembus cahaya. Ia bahkan bisa melihat buku matanya yang halus. Ia tidak menanggapi, namun tangannya terulur memeluk Lucher dengan kaku.


"Bukan seperti itu, tanganmu harus menahan punggungnya."


Valerie menyesuaikan postur pelukannya. Victor sangat terampil saat memeluk dirinya. Ia pikir, dia cukup pandai saat memeluk seseorang yang lain. Tapi ia tidak menduga melihat Victor memeluk putranya sendiri sangat kaku.

__ADS_1


Tidak senyaman saat di peluk Valerie, tapi Lucher sama sekali tidak menolak, justru sangat senang sehingga bibirnya tersenyum lebar. Ia sangat bahagia sehingga ingin memamerkan kepada anak lain bahwa dia di peluk ayahnya.


__ADS_2