
Saat sarapan, Valerie tidak berniat membuat marah Victor lagi. Bagaimanapun, ia turun lima kati hari ini, jika kehilangan berat badan terlalu cepat, itu akan mencurigakan dan terlalu mencolok.
"Victor, ini kue yang aku buat pagi-pagi sekali. Aku sudah mengganti bahannya. Rasanya tidak terlalu manis seperti sebelumnya. Kamu bisa mencobanya."
Victor mengangkat sebelah alisnya. Ia pikirkan kue ini adalah permintamaafan tadi malam. Ia memakannya tanpa berbicara sepatah katapun.
"Aku ingin makan kue juga!" pinta Lucher dengan semangat.
Lucher sudah benar-benar tidak lagi menganggap Valerie wanita jahat setelah bermain ayunan kemarin. Saat ini, mata besarnya menatap Valerie penuh harap.
"Ini untukmu. Jangan makan terlalu banyak yang manis, kamu masih anak-anak. Nanti gigimu berlubang."
Dengan senyuman lembut, Valerie menyerahkan bagian yang telah di siapkan untuk Lucher. Hanya sepotong kecil, namun sangat indah. Di atas krim merah muda, ada stroberi kecil berwarna merah lucu.
Mata Lucher berbinar. Ia mengambilnya dan mm dengan cepat memakannya rakus.
Valerie tertawa kecil melihat itu.
***
Sebelumnya, Valerie sudah memperkerjakan orang untuk menyingkirkan semua bunga di taman belakang dan menanam bambu sebagai gantinya. Para pekerja sangat efisien, hanya dalam tiga hari, sebuah hutan bambu kecil sudah muncul.
Saat ini, matahari pagi tidak terlalu terik, sangat nyaman menikmati kesejukan di hutan bambu. Suara bambu saling bergesekan terdengar karena tertiup angin.
Setelah makan sarapan, Valerie menghentikan Victor yang akan pergi ke ruang kerja gelapnya seperti biasa.
"Victor, kamu jangan tinggal di dalam ruang kerjamu sepanjang hari. Keluarlah untuk berjalan-jalan. Sebelumnya, aku sudah menyuruh beberapa orang untuk menyingkirkan bunga di taman belakang. Kita bisa ke sana untuk mencari udara segar dan berjemur."
Victor tampak terkejut. "Kamu benar-benar mencabut semua bunganya?"
Valerie mengangguk semangat. Ia sudah melakukan ini untuk dia, apakah Victor akan terharu padanya?
Namun, setelahnya Victor malah tersenyum mengejek. "Kamu sudah tahu bahwa bunga-bunga itu di tanam oleh ibuku. Sekarang kamu sudah mencabut semua bunganya, bukankah kamu akan di marahi?"
Victor tahu bahwa Valerie selalu berusaha menyenangkan ibunya bagaimanapun, sekarang dia melakukan hal bodoh seperti itu.
Valerie terkejut dengan mata terbelalak. Ia tidak tahu.
Matanya langsung memelototi Victor. "Aku benar-benar tidak tahu! Kenapa kamu terlihat bahagia? Apakah kamu begitu senang karena aku akan di marahi?"
Victor tersenyum terbuka. "Ya."
Valerie menggembungkan pipinya kesal. Ia mengulurkan tangan dan mengambil lengan Victor. Valerie langsung menariknya menuju pintu keluar. "Bunganya telah di cabut, dan sudah terlambat untuk mengatakan itu. Aku toh akan tetap di marahi, apalagi melakukan pekerjaan yang tidak berguna."
Victor bertubuh besar dan tinggi, tapi ia di tarik tiba-tiba oleh Valerie membuatnya agak terhuyung-huyung. "Lepaskan!"
Valerie terus menariknya menuruni tangga tanpa takut dia marah. "Jika kamu sering keluar rumah, penampilanmu tidak akan di takuti lagi oleh semua orang, mereka akan terbiasa. Jangan bersembunyi di dalam sepanjang hari. Apakah kamu tidak merasa bosan?"
__ADS_1
"Jangan menggunakan metode agresif ini kapadaku, itu tidak berguna. Dan itu akan membuatmu terlihat bodoh."
Valerie sangat marah sehingga membuang tangannya.
Merasa kejengkelannya, Victor mengangkat sudut bibir tipisnya. "Namun, sekarang aku memang ingin jalan-jalan."
Victor memegang pegangan tangga dan menuruninya satu persatu.
Valerie menatapnya kesal.
Di depan rumah, Lucher yang sedang bermain dengan Brownie merasa terkejut melihat ayahnya keluar. Ia segera tersenyum lebar dan mendekatinya. "Ayah!"
"Ya."
Lucher menarik tangannya. "Aku akan membawa ayah untuk berjemur!"
Valerie juga mengambil tangan yang lain dan menariknya ke bawah paviliun. Kali ini Victor tidak menolak.
Di dekat hutan bambu, ada dua buah kursi sandar panjang yang terbuat dari bambu hijau zamrud, dan ada juga dua buah bantal warna putih di letakkan di atasnya. Di samping dipan panjang tersebut terdapat meja bundar yang sama-sama terbuat dari bambu, terlihat sangat unik.
Valerie membawa Victor ke bangku dan membiarkannya duduk bersandar, ia menyesuaikan bantal untuknya.
"Tunggu sebentar."
Valerie bergegas kembali ke kamar, dan setelah beberapa saat, ia kembali dengan sebuah nampan tambahan di tangannya.
Valerie duduk di kursi satunya. Ia mengambil Lucher dan mendudukkan pria kecil itu di pangkuannya. Ia bertanya lembut. "Haruskah kita membacakan buku untuk ayahmu?"
Lucher awalnya tidak mau di peluk Valerie, ia merasa malu, kedua telinganya memerah. Namun mendengar pertanyaannya, ia terdiam.
Lucher tidak ingat ketika ia masih bayi, tapi sepertinya ia tidak pernah di gendong oleh orang dewasa. Bahkan ayahnya tidak pernah memeluknya.
Valerie melihat wajahnya yang malu, ekspresinya sangat lucu. Ia mengambil sepotong semangka dan meletakkan di tangan kecilnya. "Setelah habis, ambilah sendiri. Makan sebanyak yang kamu mau."
Mata Lucher berbinar. Tubuhnya mengendur, dan dengan patuh bersandar di lengan Valerie sembari memakan semangkanya.
Valerie mengambil buku di atas meja. Ia membuka halaman acak. Buku itu ia bawa dari ruang kerja Victor.
Sebelum membaca, Valerie melirik Victor yang bersandar di kursi. Sinar matahari melalui bambu jatuh di wajahnya membuat bekas luka di pipinya menjadi lebih mencolok.
Sejak awal Valerie tidak menganggapnya jelek. Ia telah bertemu banyak orang yang berwajah tampan atau cantik, namun di balik itu, ada wajah jelek dan jahat.
Valerie membaca judul buku itu dan berkata. "Aku tidak menyangka kamu akan membaca buku-buku seperti ini."
"Buku-buku di sini bukan milikku," tukas Victor dengan suara malas.
Victor pindah ke rumah ini hanya setelah ia menjadi buta. Jadi, hampir semua barang-barang bukanlah miliknya.
__ADS_1
Valerie membalikan halaman dengan santai dan mulai membaca buku. Sebelumnya suara Valerie sangat bagus, namun saat ini, suaranya rendah membuatnya terdengar semakin lembut.
Saat ini, di kesunyian hutan bambu, angin sepoi-sepoi membuat suaranya mengalun dan mengirimkan suara lembutnya ke telinga Victor, seperti bisikan.
Lucher tidak mengerti apa yang Valerie baca, tapi ia sangat menikmati suaranya. Ia menggigit semangat, sekali-kali menatap Valerie dan Victor dengan riang.
Di sisi lain, Javier berjalan di jalan setapak melalui hutan bambu. Sebelumnya, ia juga mendengar bahwa Valerie mencabut bunga dan sebagai gantinya menanam hutan bambu di halaman belakang. Javier mengerutkan kening.
Saat ia sampai, suara bacaan rendah dan lembut seorang wanita membuatnya terpesona. Langkahnya berhenti dan melihat ke arah paviliun.
Javier melihat pamannya berbaring di kursi bambu, bibirnya tersenyum. Di sebelahnya, Valerie tengah memegang sebuah buku dengan Lucher di pelukannya.
Javier tercengang. Ia merasa pemandangan ini agak luar biasa. Setelah sadar, ia menghilangkan rasa terpesonanya dengan cepat. Javier menyipitkan matanya dan berjalan mendekat ke arah mereka.
"Paman."
Suara rendah Javier menyela bacaan Valerie dan menarik atensi ketiganya.
Javier mengamati Valerie dari dekat. Ia merasa wanita ini semakin.. kurus?
Ia sedikit menggelengkan kepalanya dan berkata kepada Victor. "Kakek memintaku untuk bertanya, apakah paman ingin merayakan ulang tahun bulan depan?"
Victor mengangkat kelopak matanya dan menoleh ke arah Javier. "Benar-benar merayakan ulang tahunku?"
Mata Javier berkedip tidak wajar. "Tentu saja."
"Kamu sendiri melihat bahwa wajahku seperti ini, apakah ingin mempermalukanku dan membuat orang luar tertawa?" Ekspresi Victor dingin. "Aku tidak tertarik, dan aku masih malas untuk bersosialisasi."
"Aku mengerti maksud paman." Javier tidak peduli dengan ketidakpedulian Victor. Ia melirik ke bangunan kecil bergaya barat itu, lalu beralih pada Valerie yang bergeming. "Jika kamu dan pamanku memiliki kebutuhan, tolong beritahu aku."
Setelah itu, Javier pergi.
"Teruslah membaca! Apakah kamu begitu terpesona saat Javier datang?" Victor menunggu lama dan tidak mendengar suara Valerie, ia merasa kesal dan mencibir. "Apakah menurutmu dia begitu tampan?"
Victor tiba-tiba berpikiran bahwa wajahnya hancur, tanpa sadar membandingkan. Ia menjadi agak jijik dan sedikit marah.
Valerie menatap Victor tidak percaya. Mendengar suara dering di benaknya, ia berkata segera. "Javier tidak sebaik kamu!"
Victor ingin mengejeknya. Ia sudah banyak mendengar pujian Valerie kepada Javier. Namun, detik berikutnya, suara Valerie yang serius terdengar. "Hidungnya tidak selurus milikmu, matanya tidak secantik dan seindah milikmu, selain itu, dagunya tidak sesempurna milikmu."
"Victor, aku tidak bercanda. Kamu benar-benar terlihat jauh lebih baik darinya."
"Ya! Ayah terlihat sangat baik." Lucher menyahut.
"Nilai marah: 0."
Victor mengerutkan kening. Ia berkata dingin. "Membosankan."
__ADS_1
Berbeda dengan ekspresi dan ucapannya, ada sedikit kegembiraan di matanya yang pucat.