Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 29


__ADS_3

Kedatangan Valerie ke rumah orang tua Valerie asli, tidak pernah di duga oleh pemilik rumah. Tentu saja mereka bahagia. Walaupun sebenarnyanya mereka tidak memasang wajah baik pada saat kepergian Valerie ke kediaman Spare.


Sekesal dan semarah apapun mereka, Valerie tetap putri mereka sendiri. Setelah kepergian Valerie sejak lama, dia tidak pernah kembali lagi. Mereka juga sama sekali tidak mengunjungi kediaman Spare untuk melihatnya karena malu dan ragu-ragu. Mereka sangat merindukan Valerie.


Riana--Ibu Valerie asli menatap Valerie dengan mata berkaca-kaca. "Putriku.."


Bahkan ayah Valerie--Jian, sampai menumpahkan gelas yang berisi air di tangannya.


Valerie menatap mereka dengan senyum lembut. "Ayah, Ibu."


Ia tentu saja tahu bahwa mereka sama sekali tidak membencinya, karena ia sudah selesai membaca novel itu. Namun mungkin karena perilaku Valerie yang agak gila, membuat mereka malu dan marah, tapi sama sekali tidak mengurangi kasih sayang keduanya. Hanya saja, Valerie asli menyalahartikan kemarahan mereka dengan kebencian.


Jian menatap putrinya dengan mata memerah karena kesedihan.


Riana langsung mendekatinya dan memeluknya seraya menangis terisak. "Apakah kamu sudah melupakan ibu?"


Valerie membalas pelukannya dengan lembut. "Tentu saja tidak."


Tiba-tiba Riana melepaskan pelukan dan menatap putrinya dari atas ke bawah dengan ekspresi tidak senang. "Kenapa badanmu sangat kurus?"


Riana ingat, badan Valerie sebelum menikah dan pergi ke kediaman Spare sangat sehat dan gemuk. Karena fisiknya yang membuat Valerie selalu mengeluh, ia membantunya menurunkan berat badan. Hanya saja, itu tidak mudah. Dan saat ini, putrinya jauh lebih kurus. Bagaimana mungkin ia tidak terkejut?


Prang!


Suara nyaring itu membuat ibu dan anak itu terkejut.


Piring dengan buah di atas meja terjatuh hingga semuanya berserakan. Ekspresi Jian terlihat marah. "Ayah tahu mengapa kamu sangat kurus."


Jian mendekati Valerie dan memegang kedua bahunya dengan wajah berhadapan. "Putriku, apakah kamu di aniaya di kediaman Spare? Ayo, beritahu ayahmu, apakah orang gila itu menyakitikmu? Apakah kamu tidak di beri makan olehnya?"


Mendengar semua perkataannya, Valerie tahu sesayang apa pria di depannya kepada putrinya sendiri. Valerie adalah putri satu-satunya di keluarga Joana. Orang tuanya sangat menentang saat Valerie meminta untuk menikahi Victor karena tujuannya mendekati Javier, namun Valerie melakukan segala cara sehingga akhirnya mereka menyerah dan marah padanya.


Valerie merasa pemilik tubuh ini benar-benar bodoh karena menyi-nyiakan kasih sayang kedua orang tuanya. Dia hanya memedulikan Javier dengan obsesi gila. Mengingat orang tuanya di kehidupan masa lalu, tanpa sadar mata Valerie berkaca-kaca.


Ia sangat merindukan mereka. Apakah kedua orang di depannya akan menjadi orang tua pengganti untuknya? Apakah ia berhak?


"Valerie sayang, apakah kamu benar-benar di gertak olehnya? Jangan menangis, ayah pasti akan membalasnya untukmu."


Jian panik melihat mata Valerie berkaca-kaca, namun hatinya menjadi lebih marah kepada orang yang menjadi suami Valerie.


Riana yang sama-sama melihatnya menangis, sangat cemas. "Putriku.."


Valerie menyadari bahwa dirinya mengeluarkan air mata begitu saja. Dengan malu ia menghapus air matanya dan tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak di aniaya olehnya. Dia sangat baik padaku."


Bukannya meredakan kekhwatiran mereka, malah Jian semakin memerah karena marah. "Pria gila itu pasti mengancammu! Aku benar-benar akan membunuhnya karena telah membuat putriku menangis!"

__ADS_1


Valerie menghela nafas. "Ayah, bolehkah aku memelukmu. Aku merindukan pelukanmu."


Ekspresi Jian langsung melunak dan melembut. Ia merentangkan tangannya dengan senyum cerah. "Tentu saja, Sayang. Ayah lebih merindukanmu."


Valerie langsung memeluknya. Ia memejamkan matanya untuk menahan tangis. Pelukan ini sama sekali tidak berbeda dengan pelukan ayahnya dulu. Akhirnya rindu di hatinya sedikit mereda.


Riana menatap keduanya dengan senyuman hangat.


"Aku menangis bukan karena suamiku, Ayah. Tapi aku menangis bahagia karena aku bisa bertemu ayah dan ibu lagi saat ini. Aku sangat bahagia.."


Riana ikut masuk ke dalam pelukan ayah-putri itu. Mereka bertiga berpelukan melepas rindu.


Saat ketiga melepaskan pelukan, ekspresi Jian masih belum mereda. "Lalu kenapa kamu sangat kurus? Bukankah itu karena beban pikiranmu.."


Valerie menyelanya. "Tidak, Ayah. Aku tidak terbebani di sana. Aku benar-benar bahagia. Adapun tentang tubuhku, aku sengaja melakukan diet yang sehat sehingga hasilnya seperti sekarang."


Keduanya akhirnya menghela nafas lega. Jian segera meredakan amarahnya.


Riana menangkap kedua pipi putrinya dengan senyuman bahagia. "Putriku terlihat lebih cantik."


Valerie terkekeh dengan narsis. "Ya, aku tahu, Bu."


Tidak hanya berat badan, namun Riana dan Jian memerhatikan bahwa kulitnya lebih cerah, fitur wajahnya sangat indah, apalagi kedua matanya yang besar dan berair.


"Putriku, kamu sangat mirip dengan ibumu ketika masih muda."


"Kami benar-benar khawatir jika kamu tidak akan kembali lagi ke rumah ini dan melupakan orang tuamu. Kamarmu sering di bersihkan, dan kamu bisa tinggal kapan saja," ujar Riana. "Apa yang membuatmu pulang? Ibu harap kamu tidak cepat-cepat kembali ke kediaman Spare. Tinggallah di sini dengan kami dalam dua atau tiga hari."


Menyembunyikan kesedihan di matanya, Valerie tersenyum cerah. "Tentu saja. Aku akan tinggal di sini bahkan dalam beberapa minggu."


Valerie tidak yakin akan pulang ke kediaman Spare setelah Victor menyuruhnya pergi. Ia hanya akan menunggu suatu alasan untuk membuatnya pulang ke sana lagi.


Jian dan Riana terkejut.


"Kamu tidak pulang ke sana secepat mungkin? Bukankah suamimu akan marah?" tanya Riana.


Jian marah kembali. "Apakah pria gila itu benar-benar melecehkan--"


Valerie memotong. "Tidak, Ayah. Aku ingin tinggal di sini lebih lama karena aku merindukan kalian berdua. Ayah dan ibu tahu sendiri bahwa sudah lama aku tidak bertemu. Aku katakan sekali lagi, dia sama sekali tidak menyakitiku, Ayah. Dan ia mengizinkan aku tinggal di sini beberapa saat."


Valerie terpaksa berbohong di kalimat terakhir. Walaupun kata 'mengusir' dan 'mengizinkan' tidak lah sama.


Duk


Suara itu menarik atensi ketiganya. Di pintu mereka melihat seorang pria muda dengan wajah lesu. Suara itu berasal dari tasnya yang di lempar ke lantai begitu saja.

__ADS_1


"Aska, kenapa kamu melempar tasmu sembarangan? Lalu kenapa kamu pulang sekolah terlambat? Apakah kamu bermain-main lagi di luar? Ingatlah untuk banyak belajar. Dalam beberapa bulan kamu akan masuk ke perguruan tinggi. Kamu harus serius." Jian mengomel seraya menatap putranya tegas.


Namun, seolah tuli, perkataan Jian sama sekali tidak memasuki telinga Aska sepatah katapun, karena atensinya tertuju pada seorang wanita familier di samping ibunya. "Dia.. siapa?"


Jian memukul pelan belakang kepalanya. "Itu kakakmu! Apakah kamu melupakannya hanya dalam beberapa bulan?"


Berbeda dengan Jian yang berbicara lemah lembut kepada Valerie sebelumnya, saat ini ia terlihat pemarah dan tegas kepada Aska.


Aska tercengang hingga matanya membulat dan mulutnya terbuka lebar. Ia mendekat dan menatap lekat Valerie. "Apakah kamu benar-benar kakakku?"


Jian memukulnya lagi. Aska meringis dan menatap ayahnya kesal. "Kenapa ayah selalu memukulku?! Aku hanya bertanya!"


Jian memelototinya, namun dengan berani Aska memelototinya kembali.


Riana menghela nafas melihat itu. Sedangkan Valerie tertawa pelan. Ia memandang Askara yang merupakan adik kandung Valerie asli. Wajahnya cukup tampan, dan delapan poin mirip seperti Jian--ayahnya. Sisanya tentu saja dari gen Riana--ibunya. Adiknya ini sama-sama menyayanginya walaupun terlihat gengsi di luar.


Atensi Aska kembali pada Valerie. Ia mencondongkan tubuhnya dan menatap Valerie dengan wajah polos. "Apakah kakak melakukan operasi plastik?"


Jian terlihat akan memukul lagi, namun Aska langsung berlindung di belakang ibunya dengan mata mengejek menatap Jian.


"Kamu!"


Riana menarik lengan suaminya menjauh. "Sudahlah. Biarkan mereka berbicara. Kita beri mereka waktu berdua."


Jian dengan enggan mengikuti istrinya ke ruangan lain.


Valerie menggeleng pelan dengan senyum geli. Ia menarik adiknya menuju sofa. "Ayo duduk di sini."


Aska yang awalnya terkejut, langsung mengikuti dengan patuh. Mereka duduk berhadapan.


"Aku sangat terkejut melihat perubahanmu, Kak. Kamu terlihat lebih cantik dari terakhir kali aku lihat."


"Aku melakukan diet, dan akhir-akhir ini aku kehilangan banyak berat badan."


"Ah? Benarkah? Pantas saja orang-orang bilang bahwa penurunan berat badan setara dengan operasi plastik. Aku mendukungmu agar kakak menjadi lebih cantik. Berbeda denganku yang sudah tampan sejak lahir." Aska menyentuh wajah tampannya dengan percaya diri.


"Huh! Sangat narsis! Kaulah yang paling jelek di keluarga ini!" celetuk Jian yang ternyata mengintip di pintu.


Aska menatap ayahnya jengkel. "Ayah, lihatlah wajahku ini, sangat mirip denganmu. Jika ayah menjelekkanku, berarti ayah menjelekkan diri sendiri!"


Aska mendekati Valerie. Ia berkata sedih dan mengeluh. "Kakak, perlu kamu tahu, ketika kamu tidak ada di sini, ayah selalu menggertakku! Sepertinya aku serangga pengganggu baginya! Seringlah pulang ke rumah ini agar ayah tidak selalu membuatku teraniaya."


"Heh, bocah! Kapan aku menganiayamu?!"


"Lihat! Aku tidak berbohong! Ayah sangat galak kepadaku!" Dengan sengaja Aska mengadunya dan mengejek ke arah Jian.

__ADS_1


Valerie tertawa geli melihat keduanya. Ia sangat menyukai suasana keluarga yang bahagia ini, bagaimana mungkin Valerie akan menolaknya? Di tambah kasih sayang mereka membuat Valerie tersentuh.


"Baiklah. Aku akan sering pulang nanti."


__ADS_2