
Di jalanan lalu lintas, banyak kendaraan beroda empat yang berlalu-lalang. Jalan raya begitu penuh, namun tidak ada kemacetan sedikit pun.
Di dalam salah satu mobil, suasana terasa sangat sunyi. Pada saat ini, Lucher yang duduk di antara Valerie dan Victor penuh dengan kegembiraan. Mata besarnya melihat keluar jendela dengan rasa ingin tahu, begitu cerah dan antusias.
Valerie merasa geli. Tubuh pria kecil itu tidak bisa diam hanya karena ingin melihat ke arah jendela lebih dekat. Valerie mengulurkan tangan dan mengangkatnya ke pangkuannya.
Lucher segera menoleh ke arah Valerie dengan bingung, bibirnya sedikit mengerucut.
"Tidak aman untuk anak-anak jika naik mobil sendiri. Aku akan memelukmu." Valerie bergeser mendekat ke arah jendela agar Lucher bisa melihat keluar jendela dengan leluasa.
Valerie memeluknya dengan lembut. Ini adalah kedua kalinya Lucher di peluk oleh dia, dua telinganya memerah. Mata besarnya agak basah. Ia tidak menolaknya, justri dengan sengaja bersarang di pelukan Valerie dengan patuh. Lucher merasa pelukannya hangat nyaman.
Tiba-tiba Lucher berpikir, apakah dia tidak membencinya lagi? Jika dia tidak jahat lagi dan selalu memeluknya nanti, maka ia bisa bermain dengannya..
Berpikir tentang ini, Lucher mendongak menatap Valerie diam-diam dengan rasa malu dan kegembiraan tersembunyi di matanya.
Valerie tidak menyadari pandangan si kecil, ia malah memandang Victor yang mengenakan jas hitam dan topi hitamnya.
"Victor," panggil Valerie entah untuk apa.
Victor tidak menjawab. Dia terlihat duduk tenang dengan sebagian wajah tertutup topi sehingga Valerie tidak bisa melihat ekspresinya.
"Victor?" panggil Valerie lagi.
Tetap tidak ada jawaban.
Volume suara Valerie agak keras. "Victor?"
"Ck. Aku buta, bukan tuli." Nadanya jengkel dan malas. Victor bersedekap dada tanpa menoleh.
Valerie tertawa tertahan hingga mengulum senyum. Ia diam setelahnya.
Merasa tidak mendengar suaranya lagi, Victor mengangkat sebelah alisnya. "Ada apa?"
Valerie berdeham. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin memanggilmu."
Sedari awal perjalanan, Victor hanya diam tak bergerak. Bahkan tidak bicara sepatah katapun. Valerie tidak bisa menahan untuk memanggilnya.
Victor memalingkan wajah ke sisi lain dan mendengus. "Membosankan."
Tidak ada obrolan apapun lagi setelah itu. Lucher yang fokus ke luar jendela, Valerie yang menikmati perjalanan, Victor yang bergeming begitu saja.
Setelah membutuhkan waktu beberapa menit, akhirnya sampai. Mobil berhenti di luar pusat perbelanjaan besar.
__ADS_1
Valerie memeluk Lucher membantunya keluar dari mobil, setelahnya ia berbalik mencoba untuk menjangkau Victor untuk membantu, tetapi tidak menyangka bahwa pria itu keluar sendiri.
Hari ini kebetulan adalah hari minggu, jadi banyak orang di mana-mana, terlihat sangat ramai.
Valerie meraih tangan kecil Lucher, dan memegang tangan besar Victor dengan tangan lain. "Hari ini terlihat sangat ramai dan begitu banyak orang, kalian harus mengikuti dengan patuh."
Lucher mengangguk semangat pertanda setuju, namun Victor mengerutkan kening. Ia mencibir. "Aku bukan orang bodoh, bisakah aku hilang begitu saja?"
Valerie menghela nafas dan berkata lembut. "Ya, aku tahu. Tapi aku mengkhawatirkanmu."
Victor terdiam, tapi Valerie tidak bisa melihat ekspresinya. Ia hanya terkekeh karena merasa pria ini lucu, mudah di bujuk dengan kata-katanya yang manis.
Valerie membawa pria besar dan kecil itu ke toko kue di lantai empat. Ia tahu ada toko makanan penutup terkenal di mal ini.
Victor berpakaian serba hitam dan tinggi. Bahkan jika setengah wajahnya terhalang topi, dia sangat mencolok di antara kerumunan. Di tambah temperamen dan auranya yang dingin, tidak sedikit orang yang tidak bisa menahan diri untuk meliriknya. Namun saat melihat bekas luka di wajahnya, mereka terkejut dan segera memalingkan muka dengan ngeri.
Victor sama sekali tidak menyadari akan pandangan orang lain, bahkan jika ia tahu, Victor tidak akan peduli. Dan Valerie di sampingnya, sama-sama tidak peduli.
Saat ia menjadi model terkenal, Valerie terbiasa menjadi pusat perhatian banyak orang, walaupun alasannya berbeda, Valerie tetap tidak peduli. Ia hanya memerhatikan Lucher dan Victor untuk mencegah mereka bertabrakan dengan orang yang lewat.
Toko pencuci mulut itu sebagian di dekorasi dengan warna pink. Ketika Lucher melihat untuk pertama kalinya, matanya melebar dengan kekaguman. Melihat model kue raksasa yang di tempatkan di pintu masuk kue, mulutnya hampir ngiler dengan mata berbinar.
Ia menyedot mulutnya dan bergumam. "Aku ingin kue.."
"Ya. Ayo kita masuk. Kamu akan memilih kue apapun yang kamu suka." Valerie tersenyum dan menyentuh kepalanya.
"Tentu saja." Valerie terkekeh lucu.
Ada banyak pelanggan di toko. Valerie memilih tempat di sudut dekat dengan jendela. Tidak hanya agak sepi, namun juga bisa melihat pemandangan di luar jendela.
Ada dua kursi empuk di meja. Victor duduk sendiri, sedangkan Valerie dan Lucher di seberangnya.
Valerie mengambil menu dan menatap Victor seraya bertanya "Victor, kue apa yang kamu mau? Ada Caramel pineapple mousse, Cholotale forest, tart atrawberry.. "
Suara jernih dan lembut Valerie menutupi suara-suara berisik pelanggan lain di sebelahnya. Suaranya perlahan datang ke telinga Victor tanpa sedikit pun ketidaksabaran.
Valerie membacakan semua nama-nama makanan penutup kepadanya sampai selesai.
"Jika kamu ingin makanan yang manis, kamu bisa mencoba krim cokelat ini di atas standar yang di sarankan. Ada juga Victoria sponge, kue yang biasa kamu makan."
Victor bersandar si kursi yang empuk dan berkata ringan. "Kue yang biasa."
Apakah dia hanya memakan kue itu?
__ADS_1
Tapi Valerie mengangguk setuju. Lupa bahwa dia tidak biaa melihat, Valerie berkata. "Oke."
Valerie mengalihkan pandangan ke Lucher di sebelahnya. "Kue apa yang kamu mau?"
Lucher memandang banyak gambar-gambar kue yang enak. Ia merasa hanya ingin memakan semuanya. Lalu ia menunjuk sebuah kue yang berwarna-warni. "Aku ingin yang ini!"
"Baiklah." Valerie langsung pergi memesan.
Setelah kembali, sembari menunggu makanan penutup, Valerie bertanya ke Lucher dengan suara pelan. "Hadiah apa yang ingin kamu beli?"
Lucher memandang ayahnya berlawanan. Lalu ia menatap Valerie dan berkata manis. "Apakah aku benar-benar boleh membelinya?"
Valerie mengangkat alis dan tersenyum. "Tentu."
Lucher langsung mengeluarkan setumpuk uang di kantungnya. "Apakah ini cukup?" Matanya memandang Valerie berkedip penuh harap.
Valerie merasa sangat gemas. Ia mencubit pipinya lembut. "Sangat cukup."
Lucher menatapnya malu-malu, dan memasukan uangnya kembali ke dalam saku dengan puas. Ia menutupi sakunya, khawatir uang itu akan jatuh.
Setelah kue datang, Lucher mulai memakannya semangat. "Enak!"
Valerie hanya tersenyum. Lalu ia memandang Victor dan menggodanya. "Apakah kue buatanku lebih enak dari ini?"
"Ya."
Jawaban Victor membuat Valerie tercengang. Ia mengambil sepotong kue darinya dan mencobanya. Krim manis meleleh di mulutnya. Namun saat makan beberapa sendok, kue ini terlalu manis. Rasanya rata-rata.
"Ternyata benar, kuenya lebih enak buatanku."
"Narsis," cibir Victor.
Valerie hanya mengangkat bahu. Walaupun rasanya rata-data, Victor tetap menghabiskan kuenya hingga habis. Tidak ada sisa sedikit pun. Begitupula Lucher, wajahnya terlihat puas.
Valerie mengambil tisu dan menyeka krim di sekitar mulut Lucher.
"Di dagu ayah juga ada krim!"
Valerie langsung menoleh ke arah Victor setelah mendengar kata-kata Lucher.
"Apakah kamu memerlukanku untuk menyekanya?" tanya Valerie yang bersiap berdiri.
Victor menyentuh dagunya dan berkata. "Tidak perlu."
__ADS_1
Victor menyekanya asal dengan tangannya, namun masih ada sisa. Valerie mengambil tisu dan berjalan mendekat. Ia membungkuk dan menyekanya lembut. "Selesai."
Victor terkejut dengan gerakannya tiba-tiba. Ia hanya merasa nafas hangatnya dari dekat, lalu dagunya di usap lembut. Tanpa sadar membeku. Sebelum ia bereaksi, aroma susu dari Valerie berangsur-angsur memudar.