Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 81


__ADS_3

Di pagi hari, Valerie bangun lebih awal. Ia menyingkirkan tangan Victor yang memeluknya dan pergi ke kamar mandi. Di cermin, bekas Luka yang sebelumnya sangat menonjol, kini tampak lebih kecil dan hanya berwarna daging. Mungkin hanya butuh waktu sedikit untuk hilang sepenuhnya.


Valerie menyentuh pipi kulit yang tidak terluka. Itu putih, halus, dan lembut. Saat ia menyentuhnya, terasa kenyal dan menyenangkan. Valerie tersenyum dengan suasana hati yang baik.


Di sisi lain, Victor langsung terbangun tepat saat Valerie keluar kamar mandi. Pria itu duduk dengan malas dan kemudian membuka matanya secara perlahan.


Di bandingkan kabut putih yang ia lihat sebelumnya, saat ini jauh lebih ringan.


"Sudah bangun? Selamat pagi," sapa Valerie sembari menatap cerah pria yang masih duduk terdiam itu.


Victor memandang sosok buram di depan matanya. Ia tersenyum. "Pagi."


"Kamu segera mencuci muka dan menggosok gigi. Aku akan membuat sarapan dahulu," kata Valerie seraya berjalan keluar


Victor menyangga tangannya di tempat tidur dengan tubuh setengah menyandar. Satu kaki di luruskan dan satunya lagi di tekuk. Melihat sosok itu semakin jauh, alisnya mengerut tidak puas. "Valerie, kemarilah dan peluk aku."


Mendengar suara tidak puas di belakangnya, Valerie menoleh dengan sedikit terkejut. Tapi ia sama sekali tidak menolak dan tanpa sadar langsung berjalan ke arahnya.


Karena melihat ekspresinya sampai di hadapan, Velerie bisa merasakan suasana hati Victor yang terlihat membaik. Matanya fokus kepada dirinya seolah bisa melihat.


Melihat sosok samar berjalan ke arahnya, bibir tipisnya tertarik ke atas. Victor membuka lengan dan menyambut Valerie ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Valerie tidak mau merusak suasana hatinya dan terus memeluknya. Setelah beberapa saat, Valerie berkata. "Aku sudah memelukmu. Sekarang pergilah untuk mencuci muka."


Victor menahan pinggangnya sehingga Valerie yang akan beranjak langsung memeluknya kembali. "Victor?"


"Cium aku dahulu," pintanya.


Valerie mendengus dan sudah terbiasa dengan permintaannya. Ia mendongak dan mengecup rahangnya. "Sudah."


"Bukan di sana," protesnya dengan mengerutkan kening.


Valerie mengeluh. "Jangan lagi. Apa kamu tahu? Bibirku sudah bengkak olehmu kemarin."


Ciuman yang mereka lakukan di sore hari kemarin cukup lama sehingga bibir Valerie cukup bengkak pagi ini. Namun, yang Valerie tidak tahu, penglihatan Victor menjadi lebih baik, dan sebabnya Victor tidak hanya meminta untuk menikmatinya, tapi hanya untuk melihat sosok Valerie lebih jelas.


"Maaf," ucapnya teredam. Valerie sebenarnya tidak marah dan ia langsung menerima maafnya. Hanya saja permintaan berikutnya ....


"Hanya sedikit mencium. Itu tidak akan membuat bibirmu bengkak lagi."


Mata Valerie membulat tidak percaya. "Kamu! Sangat tidak masuk akal!"


Melihat sebuah wajah putih yang ia lihat dari dekat, lalu samar-samar bibir merah muda yang buram, mata Victor langsung mencerah. Ia menunduk menutup mulut Valerie yang akan memprotes lagi.

__ADS_1


***


Valerie mengambil cuti kuliah cukup lama untuk penyembuhannya. Namun karena sudah lebih baik, ia pergi kuliah pada hari ini.


Saat tiba di kelas, ia langsung di serbu pertanyaan Archa. "Valerie! Apakah wajahmu sudah membaik?!" tanyanya dengan ekspresi khawatir.


Archa ingin menjenguk Valerie sebelumnya, tapi kebetulan saat itu ia memiliki sesuatu yang penting.


"Baik sekali. Lukaku sembuh dengan cepat karena mengoleskan salep yang di resepkan dokter tepat waktu. Jangan khawatir."


Walaupun Valerie tahu resep yang lebih ampuh, tapi ia masih menggunakan salep dari dokter. Selain itu, lukanya uang cepat sembuh pasti membuat seseorang curiga, jadi ia tetap menggunakan masker.


Archa masih saja cemas. "Aku takut ada bekas luka di wajahmu ...."


Valerie tersenyum. Namun karena memakai masker, yang terlihat hanyalah matanya yang melengkung indah. "Aku pasti akan pulih lebih baik. Itu tidak akan meninggalkan bekas luka."


"Baguslah!" Archa menghela nafas lega.


Valerie melihat sekeliling dengan bingung untuk menemukan seseorang. "Ngomong-ngomong, di mana Rea?"


"Ah, dia mengambil cuti sakit akhir-akhir ini. Terakhir aku melihat, wajahnya sangat pucat dan terlihat tidak nyaman. Aku berniat mengunjungi nya setelah pulang hari ini. Apakah kamu akan ikut."

__ADS_1


Verke mengernyit cemas. "Baiklah, aku akan ikut."


__ADS_2