Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 78


__ADS_3

Deg


Dengan jantung berdegup kencang, mata Valerie terbelalak. Ia buru-buru menjauh darinya dan merasa kesulitan bernafas. Valerie mengedarkan pandangannya melihat sekeliling. Hatinya yang tegang langsung jatuh saat memastikan tidak ada siapapun yang melihat, terlebih hanya ada satu dua orang di sana. Wajahnya sangat panas, dan matanya memelototi orang di depannya dengan ganas. "Kamu! Apakah kamu sadar sekarang kita ada di mana?!"


"Kenapa? Apakah aku hanya bisa menciummu di rumah saja?" Pertanyaannya terdengar polos.


"Bukan seperti itu!" Perasaan Valerie campur aduk antara malu dan kesal.


"Apakah kamu malu? Aku yakin tempat ini sepi dan tidak ada banyak orang di sini. Aku sudah legal untuk menciummu, kan?"


"Diam!"


Victor mengerutkan kening dengan tidak puas. "Valerie, benda di wajahmu menghalanginya. Bisakah kamu melepaskannya?"


Valerie menatap tidak percaya Victor yang sangat tidak tahu malu. Sebelum ia bereaksi, sebuah tangan besar terulur membelai daun telinganya, Valerie merasa seolah tersengat listrik. Lalu ujung jari pria itu mengambil pengait tali masker dan melepaskan. Tangan itu tidak pergi, namun memegang belakang kepala Valerie dan menekan wajahnya untuk mendekat sehingga kedua bibir itu bersatu tanpa penghalang.

__ADS_1


Valerie tercengang dengan wajah semakin memerah. Hatinya panik, tegang, dan ketakutan karena khawatir seseorang memerhatikan. Tidak seperti sentuhan biasanya, bibirnya di mainkan oleh lidahnya yang panas, hanya dalam waktu singkat Victor melepaskannya dengan puas.


Valerie menatap kosong Victor. Bibirnya mati rasa, dan ia menghirup udara dengan rakus. Wanita itu buru-buru mengambil masker dan menutup wajahnya yang semerah apel matang. Kepalanya tertunduk karena ia tidak berani memastikan apakah ada seseorang yang melihat ciuman barusan. Valerie mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdebat.


"Sepertinya jika kita melakukan di sini, kamu sangat terganggu. Baiklah, kita lanjutkan saja di rumah."


"Victor!" tekan Valerie dengan pelototan garang. Mengapa perkataannya sangat ambigu?!


Victor tersenyum tanpa bersalah. "Ayo kita pulang. Entah kenapa saat ini aku merasa merindukan rumah."


"Aku tidak akan memintanya, aku akan melakukannya secara langsung."


"Victor! Kamu benar-benar tidak tahu malu!"


"Ya."

__ADS_1


***


Pada saat malam hari tiba, sama sekali tidak sedingin malam biasanya, namun cuaca sangat gerah dan panas sehingga Valerie hanya memakai baju tipis di atas paha. Itu sangat lembut dan nyaman untuk tidur.


Valerie berjalan ke tempat tidur dan melihat Victor yang sudah terbaring dengan kedua kancing atas piyama terbuka memperlihatkan dadanya yang lebar dan putih. Valerie tiba-tiba tersipu, ia yakin pria ini juga merasa gerah. AC sudah di nyalakan untuk tetap hangat, hanya saja itu tidak berpengaruh.


Menjauhkan selimut tebal yang akan membuatnya semakin gerah, Valerie berbaring di tempat tidur. Jaraknya cukup jauh dengan Victor, karena ia takut di peluk dan akan membuatnya semakin kepanasan.


"Jangan memelukku." Kalimat yang seperti ancaman itu membuat alis Victor terangkat tinggi.


"Aku akan."


Setelah mengatakan itu, Victor tiba-tiba membuka kancing piyamanya membuat Valerie duduk tegak dan menatapnya panik tanpa alasan. "Apa yang kamu lakukan?!"


"Kamu melihatnya kan? Aku tahu kamu akan gerah jika aku memelukmu. Jadi, aku membuka piyamaku karena suhu tubuhku dingin. Kamu akan merasa jauh lebih nyaman."

__ADS_1


Mata Valerie terbuka lebar dengan wajah merah. "Tidak! Kamu tidak perlu membukanya! Kamu boleh memelukku!"


__ADS_2