Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 62


__ADS_3

"Lucher, apakah kamu ingin menunggang kuda?"


Mata pria kecil itu bersinar. "Aku ingin!"


"Baiklah, aku akan membawamu."


Melihat sebuah peta, Valerie dan kedua pria besar kecil itu berjalan sekitar 20 menit sampai menemukan lokasi kudanya.


Sedikit kuda putih berperawakan proposional dan anggota badan kokoh diikat tidak jauh. Terlihat bahwa ini adalah peternakan kuda yang di pagari khusus memelihara kuda. Walaupun tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk seekor kuda berlari.


"Wow! Itu kudanya!" Mata besar Lucher berkedip kagum.


Di kehidupannya dulu, Valerie sering berlibur dan sangat suka melakukan sesuatu yang menantang, jadi ia belajar menaiki kuda. Pada saat ini, Valerie masih yakin dengan kemampuannya menunggang kuda.


"Tunggu dulu sebentar. Aku akan berkonsultasi dengan staf."


Setelah itu, di bawah kepemimpinan staf, Valerie mengusap kuda putih itu dan merasa bahwa kuda ini jinak, tidak agresif sama sekali.


Valerie membantu Lucher mengenakan topi ksatria, dan sepatu bot berkuda. Lalu ia memeluk Lucher dan duduk di belakang. Secara perlahan mereka mengitari arena pacuan. Mungkin ini pertama kalinya menunggang, tubuh Lucher tegang dan gugup.


Merasakan itu, Valerie mencondongkan tubuh ke telinganya dan membujuk. "Jangan takut, aku memegangmu."


Ketegangannya mengendur. Lucher membuka mata lebar-lebar, wajahnya di penuhi kekaguman. Tangan kecilnya menyentuh rambut kuda yang keras. "Ini menyenangkan!"


Valerie tersenyum kecil.


Setelah berjalan beberapa kali, Valerie memeluknya dan turun. Lucher dengan semangat berlari ke arah Victor yang duduk di kursi kayu. Ia berkata gembira. "Ayah! Aku menunggang kuda! Aku tidak takut!"


"Apakah menyenangkan?"


"Ya! Aku suka menunggang kuda," jawabnya semangat.


Mendengar suara kaki mendekat, lalu aroma tubuh familier, Victor berkata. "Valerie, aku ingin menunggang kuda."


"... apa?" Valerie mantapnya terkejut. Ia akan bertanya bagaimana caranya, tetapi pria itu langsung berdiri dan bersiap.


"Ayo. Peganglah aku seperti bagaimana kamu menahan Lucher ketika menunggang."


Valerie membuka mulut, tapi Victor tidak melanjutkan. "Jangan pikir aku buta dan aku tidak bisa menunggangnya."


Valerie berkedip dan menatapnya tercengang. Hei, ia belum berkata apapun! Valerie akhirnya menyerah dan menuntunnya ke tempat kuda tadi.


Saat pria itu mengenakan pakaian berkuda, dia sangat tampan sehingga tidak bisa mengekspresikan dengan kata-kata. Dia tinggi dan mengenakan sepatu bot berkuda hitam. Sangat menarik perhatian. Valerie pikir, saat pria itu menaiki kuda, dia akan membutuhkan bantuannya. Tetapi, ia tidak menduga Victor akan bergerak dengan lancar, jadi dia duduk di pelana sekaligus dan mengulurkan tangan ke arahnya.

__ADS_1


Valerie mangambil tangannya dan baik ke atas kuda di belakang Victor. Ia meletakkan tangan di pinggang, memegang tali kekang, dan perlahan mulai menunggang.


Victor mengerutkan kening. "Apakah kamu menganggapku seorang anak?"


"... Ap---"


Tiba-tiba Victor menjepit perut kuda dengan kaki di atas pedal, menarik kekang kuda dari kedua tangannya. Kuda langsung berlari.


"Victor!" jerit Valerie terkejut dan ketakutan. Tanpa sadar memeluk orang di depannya erat. "Apa kau gila?!"


Victor ingin tertawa mendengar dia ketakutan, tetapi kelembutan aneh menempel di punggungnya dan menggosoknya dengan lembut. Saat angin bertiup melewati telinganya, seluruh tubuh Victor menjadi hangat.


Kata-kata mengejek yang akan di lontar langsung di tekan. Jakunnya menggulung ke atas dan ke bawah, suaranya yang magnetis teredam oleh angin. "Valerie, jika kamu takut, maka peluk aku erat-erat."


Valerie melingkarkan tangannya di pinggang kurus pria itu. Walaupun ia pernah menunggang kuda, tapi tak pernah mencapai kecepatan ini. Ia ketakutan di dalam hatinya, dan terus memeluknya lebih erat. Seluruh tubuhnya menempel dan menyentuh punggung Victor.


Angin terus berlalu, kecepatan lari kuda berakselerasi lagi. Valerie berseru. "Jangan terlalu cepat! Perlambat, Victor! Itu akan berbahaya!"


Seolah tidak mendengar, Victor terus memegang kendali dengan kecepatan yang tidak berkurang. Padahal, dia sedang menikmati perasaan di peluk. Apalagi kelembutan si punggungnya membuatnya hangat.


Suara Valerie cemas. "Victor, cepat berhenti! Jangan membuat masalah!"


Victor malah menambahkan kecepatan. Valerie cemas dan kesal. Dengan marah ia mencubit pinggang Victor. "Aku ingin turun!"


"Kenapa kamu harus takut?" Nafas Victor tidak teratur entah karena apa. Kedinginan di ekspresinya memudar, dan bibir tipisnya melengkung. "Aku memang buta, tapi kudanya tidak. Peganglah aku erat-erat, dan kamu tidak akan jatuh."


Valerie langsung menarik tangannya, suaranya lembut dan seolah akan menangis. "Kalau begitu berhenti ...."


Victor perlahan memperlambat kecepatan kuda dan berhenti. Jantung Valerie berdetak tak terkendali, ia terengah-engah dan masih ketakutan.


Lucher yang menonton sedari tadi langsung berdiri dan bertepuk tangan. "Ayah hebat!"


Setelah merasa lega, Valerie melepaskan tangannya yang memegang Victor dan berkata marah. "Kenapa kamu menunggangnya dengan sangat cepat?!"


Ekspresi Victor tenang, tetapi punggungnya mati rasa. Ia menahan keinginan untuk menyentuhnya. "Bukankan itu menyenangkan?"


Valerie menatapnya marah. "Sama sekali tidak!"


Pemilik kuda yang tidak lain adalah pengawas, tiba-tiba datang dengan wajah penuh keheranan. "Nona Valerie, suamimu benar-benar luar biasa. Kuda ini di pelihara di sini, tetapi itu milik teman ayahku. Jika kita berhati-hati saat menungganginya dan bersikap lembut, kuda itu akan terlihat jinak dan patuh, tapi tidak jika kita membawanya berlari."


Pemilik kuda susah mencoba beberapa kali dan di jatuhkan olehnya. Dia sangat marah sehingga kuda itu di kirim ke sini untuk di asuh.


Mendengar ini, Valerie di penuhi ketidakpercayaan. Ia menatap Victor yang berdiri di sana tanpa ekspresi, lalu kuda putih yang tampak jinak. Pria ini bahkan tidak takut.

__ADS_1


Valerie tersenyum kaku. "Mungkin kuda itu menyukainya."


Pengawas itu mengangguk, lalu meminta staf untuk mengikat kudanya kembali. "Aku perlu memeriksa persiapan makanan untuk malam ini. Kembali bersenang-senang lah."


"Baiklah, terima kasih."


***


Pada sore menjelang malam, setiap tepi tenda bersinar karena nyala api. Semua orang berisap untuk memanggang barbekyu dan makanan lainnya.


Saat ini, Valerie sudah selesai memanggang. Ia mengambil piring dan berjalan ke sisi Victor. "Victor, ayo makan."


"Baunya enak!" Lucher datang setelah bermain berlarian.


Keluarga kecil itu memakan makanannya dengan suasana harmonis.


Saat malam tiba, setiap nyala api padam. Banyak orang yang masih berkumpul dan mengobrol. Beberapa orang berjalan menaiki lereng, menikmati angin malam dan memandangi bintang-bintang.


Valerie tidak bisa mengendalikan mulutnya untuk makan, jadi ia berjalan mondar-mandir di lereng rumput sebelum mencerna. Saat malam semakin gelap, lingkungan sekitar lebih tenang.


Pada saat ini, Lucher membuka tenda dan masuk. "Aku sudah selesai mandi!"


Valerie mengambil handuk kering. "Kemarilah, aku akan menyeka rambutmu."


Di belakang, Victor mengenakan piyama hitam dengan rambut setengah basah. Lucher duduk bersila di depan Valerie dan membuatnya menyeka rambut. Ia merasakan sangat nyaman sehingga ingin tidur.


Rambutnya sangat lembut, karena jumlahnya sedikit, dengan cepat mengering. Valerie merapikan rambutnya dan berkata lembut. "Selesai."


"Aku juga mau," kata Victor tiba-tiba. Valerie hanya menurut dan berjalan untuk melakukan hal sama.


Saat mereka bersiap tidur, Lucher terbaring di antara Victor dan Valerie. ia menatap keduanya bergantian dengan mata cerah. Mulutnya terangkat tinggi. Lucher merasa sangat bahagia bisa tertidur bersama mereka.


"Jika kamu terus bergerak, aku akan mengusirmu dari tenda," ujar Victor dengan nada galak.


Memikirkan Valerie di sisi lain yang tidak bisa ia peluk, suasana hatinya tidak baik. Lucher sangat takut sehingga ia menutup mata dan tidak berani bergerak lagi. Tetapi mulutnya masih tersenyum.


Valerie menyentuh kepalanya. "Cepatlah tidur."


Anak itu lelah bermain, dan hanya dalam beberapa menit, ia langsung tertidur.


Malam semakin gelap dan sunyi. Setelah merasakan nafas kedua orang di sampingnya tenang, Victor membuka mata. Ia bangkit dan memindahkan Lucher, setelahnya ia terbaring kembali dan memeluk Valerie. Tubuh lembut itu ada di pelukannya, dan keningnya yang berkerut mengendur.


Victor menundukkan kepala, jarinya menyentuh bibirnya yang lembut. Kemudian ia mendekat dan menggigitnya dengan lembut.

__ADS_1


Lembab dan semanis permen susu yang ia makan di dalam mobil sebelumnya. Alisnya terangkat dengan kepuasan, ia hanya merasa pikirannya salah sebelumnya.


Bibirnya lebih baik dari kue favoritnya. Ia mengecupnya kembali dan menutup mata dengan penuh kepuasan. Seperti anak kecil yang mencuri permen, diam-diam mencicipi rasa susu kesukaannya.


__ADS_2