Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 67


__ADS_3

"Ayah? Dia kenapa?"


Lucher melihat Valerie yang berwajah linglung dan berjalan goyah dengan di topang ayahnya. Ia tidak bisa menahan rasa penasaran. Sudah jam sembilan lebih, tapi lelaki kecil itu belum tidur karena ingin menunggu kedua orang tuanya pulang.


"Dia sedikit mabuk." Victor memeluk Valerie dan masuk ke dalam kamarnya. Lalu ia meletakkan orang itu di tempat tidur.


"Mabuk?" Lucher terlihat mengikutinya dengan ekspresi bingung dan berpikir apa itu mabuk. Ia teringat saat menonton televisi tak sengaja melihat berita orang mabuk sehingga memukuli seseorang. Lucher menjadi ketakutan. "Ayah ... apakah dia akan memukul?"


Victor membasahi bibir bawah yang terdapat sedikitnya luka dengan lidahnya seolah mengingat rasa manis dari ciuman di mobil sebelumnya. Sudut mulutnya di tarik menjadi senyum menyenangkan. "Tidak akan memukul siapapun, tapi mungkin menggigit."


Lucher menjadi lebih khawatir. "Benarkah? Lalu bagaimana ini? Aku takut dia akan menggigit ayah."


Victor tertawa rendah. "Tidak apa-apa. Ayah akan mengigitnya kembali."


"Ayah ...." Lucher tidak bisa berkata-kata. Wajah kecilnya di penuhi kecemasan. Matanya tertuju pada Valerie yang terlihat mengantuk dan linglung. "Jangan menggigitnya terlalu keras. Itu akan sakit."


"Ya." Victor tersenyum geli. "Jangan khawatir. Pergilah ke kamarmu dan tidur."


Lucher melirik Valerie sekali lagi dan mengangguk patuh. "Baik, Ayah."


Saat Lucher pergi, Victor menoleh ke arah Valerie. Walaupun matanya tanpa fokus, tapi ia bisa melihat sedikit cahaya samar-samar.


"Victor ...," gumam Valerie yang menarik atensi Victor. Matanya yang setengah terbuka menatap pria di depannya dengan buram. "Aku ingin mandi."


Victor terdiam. Ia membungkuk dan mendekat. "Apakah kamu ingin aku memandikanmu?"


Wajah Valerie langsung memerah. "Ti-dak. Maksudku .. bantu aku untuk berjalan."


Victor tertawa pelan. Lalu ia membantunya bangun untuk berjalan ke kamar mandi.


***

__ADS_1


"Menurut situasi, kamu memiliki peluang besar untuk pulih walaupun aku tidak menemukan alasannya," kata Ethan setelah memeriksa mata Victor. "Obat yang telah aku resepkan, kamu tidak perlu memakannya lagi."


Victor membuka matanya. Di pagi hari ini, cahaya yang ia lihat lebih jelas daripada kemarin.


Wajah Ethan terlihat lebih gembira. "Dengan kecepatan pemulihan yang kamu alami, kemungkinan hanya memerlukan sedikit waktu untuk bisa melihat sesuatu."


Bisa melihat kembali? Victor sendiri yakin akan ini, tapi ekspresinya tidak banyak berubah. Pikirannya tertuju pada suatu hal. Setiap kali penglihatannya berubah, itu adalah hari setelah mencium Valerie. Pertama dan kedua bisa di anggap kebetulan, tapi ketiga kalinya? Bukan lagi.


Sekarang Victor lebih yakin, bukan karena pemulihannya sendiri, tapi karena Valerie.


"Victor." Suara lembut familier itu datang membuat pikiran Bahwa ctoe buyar.


Valerie beralih menatap Ethan dan menyapanya seraya tersebyum. "Dokter Ethan."


Ethan balas tersenyum dan mengangguk. Ia mendorong kacamatanya untuk menyembunyikan banyak keheranan saat melihat Valerie. Ia jarang melihat Valerie, karena ia juga tidak terlalu sering memeriksa mata Victor, jadi setiap kali ia datang, Ethan selalu merasa perubahan penampilan Valerie terlalu banyak. Semakin lama ia tidak melihat, maka semakin dia cantik dia saat pertemuan selanjutnya.


"Bagaimana dengan mata Victor?" tanya Valerie.


"Itu ...." Ethan melirik ragu Victor. Lalu beralih kembali pada Valerie dengan senyum kaku. "Sama seperti biasanya."


Melihat ekspresi kecewanya, Ethan merasa sedikit bersalah.


***


Perjamuan ulang tahun perusahaan Spare di adakan di sebuah hotel yang telah di kontrak. Seluruh orang kaya di kota itu di undang untuk hadir.


Lalu, pada saat ini, semua tamu sudah banyak hadir bahkan sebelum acara perjamuan di mulai. Para pria mengenakkan jas dan sepatu hitam mengkilat, sedangkan para wanita memakai gaun dan pakaian mewah dengan riasan yang tebal.


Keluarga yang mengadakan perjamuan belum hadir, banyak para tamu ruang berdiskusi dan bergosip.


"Tuan Javier sudah pasti akan hadir malam ini, tapi pernahkan kamu mendengar bahwa Victor pun akan hadir? Sejak dia buta, dia jarang menunjukkan wajahnya, tapi tidak menduga dia akan hadir di perjamuan ini," kata salah satu tamu di sana.

__ADS_1


Seseorang di sebelahnya tertawa. "Apa yang di lakukan pria buta di pesta perjamuan? Apakah dia masih ingin pamer dan sombong?"


"Tapi bahkan jika dia buta dan tidak berkuasa, tapi dia masih memegang saham utama perusahaan Spare."


"Ya, aku tahu. Tetap saja kejatuhannya dari posisi tertinggi sangat memalukan."


"Bukan hanya itu, aku mendengar bahwa dia menikah seorang wanita gendut dan jelek. Sungguh, pasangan yang sempurna. Aku sedikit penasaran dengan istrinya itu."


Mereka semua menikmati untuk menjelek-jelekkan dan menginjak pria yang dulunya begitu sombong dan kejam. Bagaimana pun, Victor adalah orang yang paling di takuti semua orang sebelumnya.


Pada saat ini, dua sosok yang luar biasa dan bersinar muncul di pintu aula membuat semua atensi tertuju pada keduanya.


Pria tampan dan tinggi dengan setelan biru safirnya terlihat seperti pangeran kerajaan. Lalu di sampingnya, wanita cantik dengan gaun putih membuatnya semakin bersinar. Semua orang terkagum-kagum.


"Taun Javier benar-benar luar biasa. Selain penampilan yang menakjubkan, kemampuannya pula membuat perusahaan Spare mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda."


"Ya. Walaupun kemampuan Victor tidak bisa di sangkal, tetapi metodenya terlalu keras dan gila. Mungkin keluarga Spare hanya membutuhkan pewaris seperti Javier, sayang sekali, pemegang terbesarnya adalah Victor."


"Kamu benar. Lalu di sampingnya apakah istri Javier? Dia terlihat sangat baik."


"Ku dengar dia hanya wanita dari kalangan biasa, sangat beruntung bisa menikah dengan Taun Javier."


Ada berbagai bisikan dan pembicaraan di sekitarnya. Nuella mengeratkan pegangannya saat menggenggam tangan Javier. Merasakan kecemburuan dan keirian di sekitarnya, Nuella menunduk untuk menyembunyikan mata yang bersinar dan senyum miring di mulutnya.


"Apakah kamu gugup?" tanya Javier saat merasakan genggaman erat Nuella. Ia melihat kepalanya yang menunduk dan berbisik lembut. "Jangan khawatir. Aku di sini."


Nuella mengangkat kepala dengan ekspresi lembut. "Ya."


Di sisi lain, Chelsea berdiri dengan gelas anggur di tangannya. Ia menggoyangkan pelan gelas itu sehingga air di dalamnya ikut bergoyang. Matanya menatap fokus pada pasangan yang baru saja masuk.


Di bandingkan dengan Victor yang cacat, tentu saja Chelse lebih menyukai penampilan Javier yang lebih cocok dengan estetika sebagai protagonis pria. Sayang sekali, sahabatnya mengubah Victor menjadi pemeran utama pria. Mungkin, jika ia tidak tahu, ia akan lebih memilih Javier.

__ADS_1


Chelsea menyesap anggur merah di gelasnya dan mengalihkan pandangan dengan bosan. Ia menyipitkan matanya dengan mata kembali pada pintu aula.


Bagaimana pun, fokus utamanya pada perjamuan saat ini adalah Victor.


__ADS_2