
"Tuan ... saya yakin hanya dalam beberapa waktu, perusahaan mereka tidak akan bertahan lama." Suara pria di seberang telepon terdengar sangat sopan, tetapi juga bangga.
"Bagus. Selain itu, jangan biarkan putra dari rubah tua itu lolos. Biarkan dia menderita bagaimana pun."
"Baiklah. Saya mengerti."
Victor menutup telepon dengan ekspresi mengejek.
***
"Hallo, ayah? Ada apa?" tanya Valerie.
"Apa kabarmu? Apakah kamu baik-baik saja?" Suara cemas Jian terdengar.
Valerie terkekeh geli. "Tentu saja aku baik. Apa yang membuat ayah meneleponku?"
"Apakah ayah tidak boleh menelepon putriku sendiri?" tanya Jian dengan suara jengkel.
Valerie tertawa kecil. "Tentu saja boleh. Siapa yang bisa melarangnya?"
"Orang gila itu, ayah takut dia akan melarangmu menelepon ayah." Jian mendengus dingin.
"Jangan panggil itu. Dia adalah suamiku dan menantu ayah," goda Valerie.
Suara jijik Jian terdengar. "Siapa yang ingin menantu seperti dia?"
Valerie mencibir. "Hanya saja ayah tidak bisa menerima kenyataan. Ingat, dia sudah menjadi menantu ayah sejak lama."
"Sudahlah. Ayah tidak mau membicarakan orang gila itu." Sepertinya Jian terlalu enggan menerima pernyataan dari Valerie.
__ADS_1
Valerie tertawa. Setelah mereda, ia bertanya. "Lalu, apa inti yang akan ayah bicarakan kepadaku?"
Suara Jian menjadi serius. "Ayah sudah memeriksa orang-orang yang menggertakmu di hotel tempat pesta pernikahan itu."
"Bukan aku yang di gertak, Ayah. Tapi suamiku," ralat Valerie.
"Ya, ya. Tapi ayah hanya mengkhawatirkanmu."
"Lalu?"
"Ternyata mereka adalah anak-anak kaya kelas atas. Pria yang memimpin mereka adalah Sean yang merupakan keluarga Levaro. Tadinya ayah akan mengambil tindakan karena ayah takut kamu di ancam mereka, tetapi ayah tidak menduga akan mendengar kabar dari mereka."
Valerie termenung sejenak. Setelah beberapa saat, ia mengerutkan kening dan bertanya serius. "Kabar apa?"
"Sean mengalami patah tulang di kakinya, lalu teman-teman lainnya ada yang bernasib sama, ada juga yang patah tulang."
"Itu bukan karma, tetapi memang balasan. Ayah tahu siapa yang akan menggunakan metode kejam seperti itu," kata Jian dengan muram.
Valerie sepertinya familier tentang ini. Tiba-tiba ia terkejut saat menebak sesuatu. "Apakah ... Victor?"
"Tanpa ayah beritahu, ternyata kamu sudah bisa menebak." Jian menghela nafas gusar. "Ayah hanya takut dia akan menyakitimu suatu saat nanti."
Jian berpikir, mungkin Victor memang buta dan selalu bersembunyi serta berperilaku rendah, tapi ia tahu bahwa dia tidak bisa di remehkan. Buktinya, saat dia di ganggu dan di gertak, balasannya berkali-kali lipat. Inilah yang Jian takuti. Ia takut Victor akan menyakiti putrinya karena perilakunya yang kejam.
Diam-diam, Valerie berpikir sama. Walaupun ia sudah lebih dekat dengan Victor, tetapi mendengar kata-kata ayahnya saat ini, ia memiliki sedikit rasa takut di hatinya. Bagaimana pun, ia tidak boleh lupa bahwa di dalam novel, Victor merupakan pria kejam tanpa ampun. Ia sendiri yang belum sepenuhnya dekat dengan Victor, bisa saja di perlakukan sama dengan orang luar jika dirinya melakukan hal buruk kepada Victor.
Menekan semua pikirannya yang kacau, Valerie berkata menghibur. "Tenang saja, Ayah. Dia tidak akan menyakitimu, dan aku akan berusaha untuk tidak membuatnya marah."
Jian menghela nafas panjang. "Baiklah. Jaga dirimu baik-baik. Seringlah pulang ke rumah, dan beri tahu ayah jika dia menyakitimu sedikit pun."
__ADS_1
"Aku mengerti, Ayah."
***
"Ini pasti Victor! Orang gila itulah yang membuatku seperti ini!"
Di bangsal, seorang pria mengamuk dengan satu kaki di gips dan di gantung. Dia Sean.
Sean memukul brankar rumah sakit dengan marah. Tadi malam, Sean dan teman-temannya keluar dari bar, tiba-tiba ada sekelompok orang yang memukulinya dan yang lain. Tidak seperti orang jahat biasanya yang berpenampilan asal dan urakan, mereka seperti orang-orang profesional. Datang tiba-tiba, setelah tugas mereka selesai, mereka pergi begitu saja.
Luka Sean dan yang lain cukup parah sehingga mereka langsung di larikan ke rumah sakit.
Sean menatap ayahnya yang berwajah muram. "Ayah! Ayah harus membalas dia untukku!"
Ardan--Ayah Sean, mendekat dan memukul kepala putranya dengan marah. "Diamlah!"
Sean meringis dan menatap ayahnya dengan takut. "Ayah?"
"Tahukah kamu? Perusahaanku memiliki masalah cukup besar, dan itu terjadi setelah kamu mengganggu ketenangan dia! Dan kamu masih berani ingin membalasnya?! Apakah kamu ingin keluarga kita jatuh ke titik miskin?! Apakah kamu lupa siapa Victor? Tidak.ada yang berani melawannya!" Ardan sepertinya kehilangan kesabaran kepada putranya.
"Jika sebelumnya, wajar jika seluruh orang takut dengannya. Tetapi sekarang? Dia di acuhkan keluarga Spare, apalagi dia sudah buta! Kenapa kita harus takut? Kita masih mempunyai perusahaan Levaro," tepis Sean dengan bangga.
"Bodoh!" rutuk Ardan dengan ekspresi semakin marah. Jika putranya tidak berada di ranjang rumah sakit, mungkin Ardan akam memukulnya untuk melampiaskan kekesalan saat ini. "Dia memang buta, tapi bukan berarti kita bisa menganggu ketenangannya sesuka hati. Kamu sendiri tahu tentang orang-orang yang dia sakiti dan di jatuhkan Victor sebelumnya, sangat banyak. Tetapi, mengapa saat ini mereka tidak membalas dendam? Mengapa keluarga-keluarga kaya lainnya tidak menyudutkan Victor untuk balas dendam sebelumnya?"
Sena merenung dan berpikir itu masuk akal. Pantas saja, ia tidak mendengar semua itu. Ternyata dirinya yang memang ceroboh tengah mengangguk singa yang tengah sakit. Sesakit apapun, gelar raja dan buasnya tidak akan menghilang. Jadi, ketika di ganggu, dia akan menyerang.
"... mengapa?"
"Karena Victor memiliki 30% saham perusahaan Spare, lebih banyak dari Javier sendiri! Mungkin jika dia benar-benar pulih, perusahaan kita akan berada di ambang kehancuran!"
__ADS_1