
"Nyonya, hasil tes kue yang Anda minta telah keluar," ujar pengurus rumah tangga. Lalu ia melirik Victor di ranjang rumah sakit. "Tidak ada masalah, dan tidak ada serbuk sari yang terdeteksi di kue."
Ia menyerahkan laptop kepada Valerie dengan flash Drive USB di dalam tas arsip.
Valerie menerimanya dan menghela nafas. "Terima kasih, Paman."
"Sama-sama." Ia agak terkejut melihat Valerie yang kurus dan lebih cantik. Ia merasa baru beberapa hari tidak melihat, mengapa perubahannya sangat mencolok?
"Kalau begitu, saya pergi dulu, Nyonya, Tuan." Meredakan keterkejutannya, ia sedikit membungkuk dan berpamitan.
"Baiklah."
Atas persetujuannya, ia langsung keluar dari bangsal.
Setelah dia pergi, Valerie berjalan ke samping tempat tidur Victor dengan membawa tas itu. "Victor, kamu sudah mendengarnya sendiri bahwa kue itu tidak aku tambahkan serbuk sari, jadi alergimu tidak ada hubungannya dengan kue yang aku buat. Itu sudah menjadi bukti bahwa aku tidak menyakitimu."
Victor mengangkat sebelah alis dan tersenyum. "Ya."
Valerie cemberut. "Jangan menyalahkan orang lain lagi sebelum ada bukti yang jelas."
"Bahkan jika tidak ada masalah pada kuenya, bukan berarti sesuatu yang membuatku pingsan itu bukan kamu."
Valerie langsung marah. "Kamu.."
Valerie menarik nafas dalam-dalam. Ia harus lebih terbiasa akan temperamennya. Valerie menenangkan emosi dan mengabaikannya. Ia membawa laptop ke sofa. Disk itu berisi video pengawasan beberapa hari terakhir yang ia minta.
Rumah besar keluarga Spare memiliki keamanan yang tinggi. Tidak hanya banyak penjaga yang berpatroli, tetapi kamera di pasang di tempat dalam dan luar. Bahkan runah yang ia dan Victor banyak kamera pengawas.
Valerie dengan tenang melihat video pengawasan di laptop. Yang pertama adalah video pada saat banyak pelayan yang mondar-mandir untuk menyiapkan pesat. Ia mengklik Video yang ada di bagian luar, ada pelayan yang mengantarkan makanan. Itu adalah pelayan yang di kirim Nuella untuk mengundangkan ke perjamuan.
Valerie mengerutkan kening. Apakah ini terkait dengan pelayan itu?
Sangat jelas bahwa Nuella tidak menyukai Victor di novel. Apakah dia mengirim pelayan ini untuk menyakiti atau menyingkirkan Victor?
Kemungkinan ya dan tidak.
Namun, dugaan besar Valerie tentu saja tertuju pada Nuella. Hanya saja, ia tidak mempunyai bukti yang kuat.
Valerie melanjutkan menonton. Namun apa yang ia lihat selanjutnya, sesuatu yang membuatnya marah.
__ADS_1
Valerie melihat Lucher yang gertak oleh anak-anak di perjamuan. Mainan yang ia bawa di rampas. Lucher berusaha untuk mengambilnya kembali, namun ia terjatuh ke tanah. Beberapa orang anak mengelilinginya, mereka menginjak tubuh Lucher dan tertawa.
Para tamu hanya melirik. Pemandangan Lucher diintimidasi oleh anak-anak lain tampak normal dan tidak ada yang peduli atau menegur.
Valerie mengigit bibirnya karena marah.
Tidak sampai di situ, mereka merusak mainan Lucher. Ada seorang anak yang paling mencolok menggertak Lucher, itu adalah anak yang masih tergolong keluarga Spare.
Anak itu adalah putra dari saudara Victor. Namun, dia tidak tinggal di sini, tapi di kediaman Spare. Dia sangat di manjakan, dan tentu saja cucu kesayangan tetua Spare.
Anak-anak lain adalah teman bermain anak itu. Jelas, ini bukan pertama kalinya mereka menggertak Lucher.
Valerie mematikan rekaman. Ia menoleh dan menatap Victor. Ia merasa ragu berbicara untuk memberitahu penyebab alerginya. Apalagi, ia tidak mempunyai bukti yang jelas. Ia hanya berpikir untuk memberitahunya nanti.
***
Pada hari ini, Victor keluar rumah sakit. Bintik merah di wajahnya sudah banyak menghilang.
Saat keduanya sampai di rumah, kamar sudah di bersihkan. Bahkan, ada sedikit perbaikan yang membuat kamar itu lebih hidup dan cerah.
Setelah tiga hari di ruang sakit, Valerie merasa lebih nyaman kembali ke rumah ini. Ia berbaring di sofa dan menghela nafas lega. Tiba-tiba ia merasakan perutnya keroncongan.
"Kamu amnesia?"
"Hah?" sahut Valerie bingung.
"Aku pernah bilang kepadamu di rumah sakit, setelah aku sembuh, kamu boleh pergi."
Valerie mantapnya kosong dan tertawa miris. "Apakah kamu serius?"
"Tentu saja."
Valerie tidak menduga dia akan sekejam ini. Jika Valerie asli, mungkin dia akan dengan senang hati meninggalkan tempat ini karena penyesalannya menikah dengan Victor, namun sekarang adalah dirinya. Ia sudah menekadkan hati untuk tetap bersama pria ini. Ia hanya menganggap candaan saat Victor berkata bahwa ia pergi setelah dia sembuh.
"Baiklah." Memikirkan keluarga Valerie asli, mungkin ini keputusan yang tepat untuk meninggalkannya sementara waktu. "Saat aku pergi, jaga dirimu baik-baik. Jangan terlalu pemarah."
Valerie khawatir dia akan menderita lebih jauh setelah dirinya pergi.
"Selama kamu tidak ada di sini, suasana hatiku akan selalu baik."
__ADS_1
Mendengar itu, malah lebih meyakinkan Valerie untuk pergi. Ia berdiri dari sofa. Ia sama sekali tidak berniat mengemasi pakaiannya. Pakaian-pakaian itu sangat besar, dan sangat tidka cocok jika di pakai di tubuhnya yang sekarang lebih kecil. Ia hanya memasukan beberapa dokumen dan kartu penting ke dalam tasnya.
Tanpa mengucap satu patah katapun, Valerie keluar kamar dengan membawa barang-barang itu.
Saat menuruni tangga, Valerie kebetulan bertemu dengan Lucher yang membawa Brownie.
Melihat bahwa Valerie membawa tas di tangannya, Lucher merasa khawatir. "Kamu.. kamu mau kemana?"
"Aku akan pulang." Valerie berjongkok dan menyentuh kepalanya lembut. Mengingat sesuatu, ia berkata. "Jika ada yang menggertakmu, kamu harus memberitahu ayahmu. Mereka akan ayahmu beri pelajaran, karena dia sangat kuat."
Wajah Lucher tampak tegas. "Aku adalah laki-laki, aku pun akan menjadi kuat. Aku bisa melawan mereka."
"Oh ya?" Mengingat rekaman itu, Valerie agak tidak nyaman. Di mana pria kecil ini melawan? Lawannya sangat banyak. "Tapi kamu masih muda dan kecil, dan kamu membutuhkan perlindungan orang lain. Jika kamu di gertak, kamu harus meminta bantuan orang dewasa, oke?"
Lucher diam dan mengencangkan kedua alisnya.
"Naiklah, dan temui ayahmu.Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik." Valerie mencium keningnya. Ia berdiri dan melenggang pergi.
Lucher membeku dengan tangan terulur menyentuh kening yang di cium. Ia menatap punggungnya dengan mulutnya mengerucut dan mata berkaca-kaca.
Lucher ingin menghentikannya pergi, namun dia sudah terlalu jauh..
Ia langsung pergi menemui ayahnya. Ruangan itu sangat sunyi. Lucher berjalan mendekat ke arah Victor dan bertanya. "Ayah.. kenapa dia pergi?"
Victor langsung membuka matanya dan mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Wanita itu.. dia berpamitan denganku baru saja.." Suara mengeluh dan mulai menangis pelan.
Wajah tanpa ekspresi Victor terkejut.
"Kapan dia akan kembali?"
Ekspresi Victor gelap. "Kamu ingin dia kembali?"
"Bukankah dia akan kembali?" Lucher menatap ayahnya sedih. "Kue yang di buatnya sangat enak, jika dia tidak kembali, apakah kita bisa memakan kue lezat itu nanti?"
Rahang Victor mengeras. "Dia hanya pergi sebentar."
Lucher mengerjap dan terdiam sejenak. Lalu ia berkata ragu. "Tapi dia membawa tas agak besar. Selain itu.. dia tidak mengucapkan kata-kata sampai jumpa kepadaku, Ayah.."
__ADS_1
Wajah Victor tenggelam. Apakah wanita itu benar-benar pergi? Beraninya dia!