
"Sa-saya hanya mengikuti instruksimu."
Valerie menatapnya tajam dan dingin. Lalu beralih pada pria yang sedari tadi bergeming. "Victor, aku benar-benar tidak tahu tentang ini semua. Walaupun sebelumnya aku tidak menyukai Lucher, tapi aku tidak pernah melakukan kekerasan padanya. Pembantumu memfitnahku. Aku tidak pernah menyuruhnya untuk menghukum Lucher sekalipun. Lagi pula, aku tidak mempunyai tujuan apapun jika aku melakukan ini."
Setelah terdiam beberapa saat, Victor berbicara dengan suara rendah. "Aku akan menangani masalah ini."
"Tuan.. " Liana memanggil takut-takut.
Victor mengabaikannya dengan ekspresi dingin.
Liana sangat panik. Hawa dingin merayap ke tubuhnya. Ia mencoba meyakinkan dengan suara gemetar. "Tuan.. Nyonya benar-benar memerintahkan saya.."
Victor mengambil telepon. Tidak lama, beberapa orang berpakaian hitam masuk. Liana ingin membela diri, namun ia langsung di bawa pergi.
"Tidak! Tuan! Wanita itulah yang menyuruhku!" Liana berteriak kasar.
Namun ia benar-benar di seret. Suaranya yang merasa berangsur-angsur menghilang sampai di luar.
Valerie tercengang. Ternyata pria itu percaya padanya?
"Ayah.." Lucher memandang ke arah Liana di bawa pergi. Wajah kecilnya tampak khawatir. "Kenapa dia di bawa pergi? Tidak ada yang merawat ayah.."
Victor menunduk ke arah Lucher. "Aku tidak butuh siapa-siapa untuk menjagaku."
Sakit kepalanya belum mereda sama sekali. Nada dering aneh itu terus-menerus berdering di benaknya. Valerie tahu bahwa Victor masih marah.
Valerie berjalan mendekat. Ia berjongkok dan mengulurkan tangan menyentuh kepala Lucher. "Apakah perutmu masih sakit? Coba aku lihat."
Lucher langsung mengencangkan pakaiannya. Ia menatap Valerie dengan takut. "Kamu.. tidak bisa melihatnya.."
"Aku akan membantu mengobatimu, oke?" Valerie dengan lembut membujuk.
Ia langsung menarik pakaiannya. Lalu ia mengangkatnya memperlihatkan perut bulat putih, lalu di beberapa bagian ada bekas merah. Itu tidaklah lama, belum berubah menjadi biru atau ungu.
Valerie menghela nafas. Melihat matanya yang penuh perlawanan, ia tersenyum kecil. "Tidak ada yang serius. Nanti aku akan mengoleskan obat untukmu."
Ia mengulurkan tangan mengusap lembut kepalanya. "Jangan khawatir. Akulah yang akan merawat dan mengurus ayahmu."
Wajah sedikit memerah karena usapannya. Mata besarnya terbelalak mendengar ucapannya.
Lalu Valerie memandang Victor di sebelahnya. "Aku istri ayahmu, dan aku akan menjaganya."
"Nilai marah: 0."
Suara dering menghilang seketika. Mata Valerie membulat menatap pria itu.
"Tidak perlu," kata Victor dingin.
"Kenapa?" tanya Valerie dengan suara rendah. "Apakah kamu akan mencari wanita lain untuk mengurus dan melayani kalian berdua? Aku tidak ingin Lucher di lecehkan lagi.."
"Lalu, jika kamu tidak ingin aku menjagamu, mengapa kamu percaya padaku daripada kata-kata perawatmu yang telah bekerja di sini sejak lama? Bukankah kamu sudah menganggapku lebih baik?"
Victor tersenyum mengejek. "Aku tidak percaya padamu. Aku hanya mendengar kata-kata dia tidak stabil, jelas berbohong. Bukan berarti aku mempercayaimu."
Kemampuan pendengaran orang buta lebih sensitif dari pada orang biasa. Suara Liana bingung dan terlalu cepat, itu adalah rasa bersalah dan mencoba menutupi kebohongan.
Valerie terbelalak. Jadi ini bukan karena dia percaya padanya?
"Lalu, kenapa saat aku mengatakan bahwa aku akan menjagamu, amarahmu hilang? Aku tahu kamu tidak marah lagi.."
"Apakah orang seperti kalian pantas membuatku marah sepanjang waktu?"
__ADS_1
Valerie menghela nafas dengan lesu. Oh, terserah saja.
***
"Bersihkan semua bunga di halaman ini. Jangan sampai ada yang ketinggalan."
Pada sore hari, matahari agak terik. Valerie berdiri di bawah naungan pohon sembari memerintahkan pengurus rumah tangga yang sudah membawa selusin orang untuk bekerja.
"Apakah ada yang lain, Nyonya?"
Valerie menoleh ke sisi samping. Ia melihat Lucher yang tengah bermain ayunan dengan Brownie. Lalu ia berkata. "Tolong ganti ayunan itu, lalu periksa keamanannya. Setelahnya, beri cat biru muda."
"Saya akan menyuruh orang di bawah untuk melakukannya." Dia berkata hormat.
"Terima kasih, Paman."
Dia mengangguk. "Sudah menjadi tugasku."
Setelahnya, Valerie berjalan ke arah Lucher.
Mendengar langkah dari jauh, Lucher mengangkat kepalanya dan langsung memalingkan muka. Wanita jahat itu ada di sini..
Valerie tersenyum melihat wajah lucunya.
Lucher tidak bisa menahan diri untuk melihatnya lagi dan berpapasan dengan senyumnya. Ia tercengang.
"Apakah kamu ingin aku membantumu mengayun?"
Mata Lucher berubah cerah. Namun di detik berikutnya, langsung di penuhi ketakutan dan kewaspadaan. Ia mengambil Brownie dan pergi menjauh.
Aku ingin bermain, tapi aku harus menahannya. Hmmp! aku tidak percaya bahwa wanita jahat ini baik.
***
Pada malam hari, setelah Valerie menyelesaikan mandinya, ia duduk di sofa dan menyaksikan Victor mengobrak-abrik lemari mencari pakaian. Sebelumnya, Liana selalu menyiapkannya untuknya. Namun, dia sudah pergi, Victor mungkin harus melakukannya sendiri.
Setelah beberapa saat, ekspresi Victor semakin tidak mengenakkan. Ia berkata. "Bukankah sebelumnya kamu mengatakan bahwa kamu istriku dan akan menjagaku?"
"Tapi kamu menolaknya langsung." Valerie berbaring malas di sofa. "Apakah kamu bertanya kepadaku sekarang?"
Victor diam. Ia mengambil handuk dan meraba-raba berjalan ke kamar mandi.
Valerie tersenyum kemenangan. Ia tidak merasakan sakit, berarti dia tidak marah. Ia hanya menunggu Victor meminta bantuan, jangan sampai ia menjadi sentimental dan di ejek olehnya.
Valerie menyentuh perutnya. Apakah itu ilusi? Ia merasa lemak di perutnya lebih tipis. Ia langsung mengambil timbangan di sudut dinding.
Saat pertama kali di timbang pada tubuh ini, ia memiliki berat timbangan 150 catty, itu adalah pukulan berat saat ia mengetahui angka timbangan.
Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu berdiri di atas timbangan. Lalu ia melihat angka, matanya langsung membulat. Dan ia 5 kati lebih ringan daripada kemarin!
Ternyata dirinya benar-benar kurus. Sama sekali bukan ilusinya.
Valerie terkejut sekaligus bingung. Walaupun ia makan sedikit, namun tidak mungkin kehilangan lima kati dalam sehari!
Bukankah timbangannya yang rusak? Valerie berencana mencarinya lagi besok.
Ceklek
Suara pintu terbuka menarik atensi Valerie. Victor keluar kamar mandi dengan pakaian basah.
Valerie menahan nafas. Ia melihat tubuh bagian atas Victor telanjang, handuk mandi yang melingkari di pinggangnya melilit erat, bergetar karena langkahnya. Tetesan air di tubuh bagian atas mengikuti garis-garis yang rapat dan halus dari waktu ke waktu, terendam di dalam handuk.
__ADS_1
Wajah Valerie panas dan memerah.
Dia telah melihat banyak tubuh telanjang pria saat menjadi model, namun tidak ada yang sebagus Victor.
Victor berjalan ke tempat tidur dan duduk. Ia memandang ke arah Valerie tanpa fokus. "Kenapa? Apakah kamu ingin terus melihat tubuh telanjangku?"
"... Ap-apa?" Valerie termangu.
"Di mana pakaianku? apakah kamu sudah menemukannya?"
Setelah bereaksi, Valerie menggosok pipinya yang panas. Dan ia bertanya main-main. "Kamu meminta bantuanku?"
Victor mengangkat kakinya dan menelonjorkannya dengan santai di atas ranjang. Ia berkata malas. "Aku minta bantuanmu, karena aku butuh pakaian yang nyaman untuk tidur."
Tangannya mulai menarik handuk yang kapan saja terlepas. "Sepertinya kamu tidak keberatan jika aku tidur telanjang."
"Tunggu!" cegah Valerie sembari memelototinya. "Aku akan membantumu mencarinya."
Valerie merutuk dengan wajah memerah. Dasar pria tidak tahu malu.
Valerie dengan enggan beranjak. Lalu ia membuka lemari yang di tutupi semua jenis jas dan serangakaian pakaian hitam. Ia menemukan sepasang piyama yang lembut dan hitam. Ia mengambilnya secara acak.
Valerie mendatangi Victor dan meletakkan di depannya. "Ini."
Dengan santai ia berjalan kembali ke sofa.
Victor melepas ikatan handuk mandi di tubuhnya. "Di mana pakaian dalamnya?"
Gerakan duduk di sofa langsung berhenti. Tangan yang memegang ponsel gemetar. Wajah Valerie sangat merah. Ia menjawab pelan. "Tunggu sebentar."
Valerie menggigit bibirnya. Ia dengan enggan kembali dan membuka laci. Melihat potongan-potongan pakaian dalam, wajahnya semakin panas. Ia mengambil asal. Saat berjalan mendekat ke arah Victor dan meletakkannya, matanya menyapu langit-langit, karena ia tidak mau melihat apa yang tidak seharusnya ia lihat.
Ada suara samar mengenakkan pakaian, Valerie menghela nafas sedikit.
"Bantu aku mengeringkan rambut."
"Kenapa kamu.." Valerie tidak bisa berkata-kata. "Jelas kamu menolakku untuk merawatmu sebelumnya."
Victor sudah berpakaian lengkap. Ia berkata rendah. "Aku meminta bantuanmu."
Valerie tersenyum sabar dan berjalan ke arahnya. "Apakah perawat itu membantumu mengeringkan rambut sebelumnya?"
"Tidak." Suara merendah. "Kamu istriku, lakukan sesuai hak mu."
Valerie tidak berdebat lagi. Setelah memasang pengering rambut, ia meminta Victor bersandar di kepala tempat tidur dan memulai mengeringkannya.
Jarinya melewati rambut hitam pendeknya. Sangat lembut, membuat tangan Valerie gatal. Ia mengira rambut Victor sama dengannya yang keras, namun tidak menduga akan sangat lembut.
Victor memejamkan mata. Selain aroma sampo di udara, ia mencium aroma susu dari wanita di belakangnya.
"Selesai."
Victor tidak menjawab. Valerie mencondongkan tubuhnya dan melihat bahwa dia tertidur.
"Victor?" Valerie menepuknya. "Lehermu akan sakit jika tertidur seperti itu."
Victor membuka mata membuat Valerie terkejut karena berhadapan dengan matanya yang cantik.
"Ya." Pria itu menjawab rendah dan mulai terbaring lurus.
Valerie menjauh dan menyimpan pengering. Lalu ia berjalan ke sofa. Melihat pria itu tertidur bahkan di tempat tidur besar, Valerie merasa iri.
__ADS_1