
Valerie melingkarkan tangannya di leher Victor saat pria itu membungkuk. Victor langsung mengangkat dan menggendong tubuhnya dengan cara *bridal style*.
Valerie langsung mengeratkan pegangannya saat pria itu mulai berjalan. Wajahnya terlihat memerah tersipu. Ini pertama kalinya ia di gendong. Bahkan di kehidupan sebelumnya ia tidak pernah. Ia mencoba menikmati ini dengan bersandar di lengannya.
"Aku ingin mengambil pakaian ganti terlebih dahulu," bisik Valerie.
"Tunjukkan jalannya."
"Sedikit ke kiri."
Victor mengambil langkah ke kiri. Saat sudah sampai di depan lemari, Valerie mengulurkan tangan dan membuka lemari dengan cepat. Setelah mengambil barang yang di butuhkan, ia berujar. "Sudah."
Tanpa sepatah kata pun, Victor membawanya ke kamar mandi. Ia hanya merasa tubuh wanita ini sangat ringan dan lembut. Ia mengerutkan kening tidak suka. Dia sangat kurus membuatnya bertanya-tanya apakah dia tidak makan beberapa hari? Tidak ada daging sama sekali.
"Turunkan aku," pinta Valerie saat keduanya sampai di kamar mandi.
Mata Valerie langsung tertuju pada piyama Victor yang ternoda. Ia berkata malu. "Kamu juga harus mengganti pakaianmu, itu kotor."
"Ya." Victor berjalan keluar dan menutup kembali pintunya.
Valerie menangkup pipinya yang panas. Ia merasa sangat memalukan hari ini. Untung, reaksi pria itu biasa saja.
Setelah selesai, Valerie keluar kamar mandi, tetapi ia tidak menyangka Victor berdiri di luar menunggunya dengan pakaian yang sudah di ganti.
"Kemarilah," titahnya.
Valerie dengan patuh berjalan ke arahnya dan membiarkan pria itu memeluk dan menggendongnya kembali.
__ADS_1
Valerie mendongak menatap wajah pria itu dari bawah. "Terima kasih."
***
Tidak tahu berapa lama, Valerie duduk di tempat tidur dengan kedua tangan memegang cangkir yang berisi teh jahe gula merah. Matanya memerhatikan para pelayan yang pergi dengan seprai yang sudah di ganti.
Tatapan Valerie beralih pada Victor. Ia tidak berharap pria ini begitu perhatian.
Melihat isi cangkir di tangannya, wajah Valerie langsung berkerut jijik. "Victor, aku tidak mau meminumnya."
Ia paling tidak menyukai rasa jahe. Dalam masakan, sedikit jahe bisa Valerie terima, tetapi secangkir besar ini terlalu kuat dan banyak.
"Apakah kamu masih anak kecil?" Victor duduk malas di kursi dan mencibir. "Anak-anak hanya takut minum obat, Kamu yang sudah dewasa takut jahe? Kamu tidak sebaik anak-anak."
Valerie mengerucutkan bibirnya. Bau jahe itu membuatnya mual. Ia menatap Victor dengan menyedihkan. "Aku tidak ingin minum ...."
"Jika kamu tidak ingin meminumnya, jangan repotkan aku bila rasa sakitmu bertahan lama." Seolah pria yang perhatian dan peduli sebelumnya ilusi, ini adalah kata-kata Victor yang normal dan menyebalkan.
Victor mendengus dingin dan bangkit meninggalkan ruangan.
***
Di paviliun, Ethan berjalan ke arah Victor dengan tergesa. Rambut yang biasa rapi, saat ini terlihat berantakan. Melihatnya santai tanpa masalah, Ethan menghela nafas lega dan duduk di kursi kosong.
"Kenapa kamu menyuruhku ke sini terburu-buru? Apakah matamu sakit lagi?"
"Tidak." Victor bersandar di belakang kursi.
__ADS_1
"Lalu apa yang kamu ingin aku lakukan?"
Victor terdiam sejenak. Setelah beberapa saat, ia mengangkat kelopak matanya yang masih kurang fokus dan berucap. "Mataku lebih ringan dari sebelumnya. Selain itu, aku bisa melihat cahaya walaupun tidak terlalu jelas."
"Apa?!" seru Ethan dengan terkejut. Ia segera berdiri dan mendekati Victor untuk memeriksa matanya. "Kapan itu terjadi?"
Victor tampak malas seperti biasa dan tidak banyak reaksi. Tidak ada kegembiraan di wajahnya. "Tidak lama sebelum aku memanggilmu ke sini."
Ethan memeriksa matanya. "Tidak ada perubahan apa pun pada matamu. Tetapi, di lihat dari situasinya, mungkin matamu akan semakin membaik."
Ethan tidak berani mengatakan bahwa mata Victor akan pulih. Bagaimana pun, apa yang Victor katakan sebelumnya yang di mana aroma tubuh Valerie bisa menghilangkan rasa sakit, tapi itu tidak menjamin mata Victor akan pulih sepenuhnya. Saat ini dia berkata bahwa dapat melihat cahaya, Ethan tidak bisa menjelaskannya.
"Aku akan menghentikan peresepan obat untukmu. Aku ingin mengamati apa yang akan terjadi setelah itu dan meresepkan obat baru untukmu."
Jika mata Victor bisa pulih, itu adalah keajaiban.
"Ya," balas Victor setuju. Memikirkan sesuatu, ia bertanya. "Jika wanita mengalami sakit perut saat menstruansi, apakah ada cara untuk menghilangkan rasa sakitnya?"
"... apa?" Ethan memandang Victor dengan tidak percaya.
"Cara menghilangkan rasa sakit menstruansi," ucap ulang Victor tanpa mengubah ekspresinya. Tentu saja ia merasakan tatapan Ethan dan maknanya.
"Ck, ck. Apakah kau sudah berganti jenis kelamin?" Ethan menggelengkan kepala tidak percaya. "Jangan bilang ini Valerie?"
"Ya."
***
__ADS_1
Aku terpaksa nulis ulang yang udah ke hapus tadi, untung gak ikut ke hapus dari kepala🙈
Kalo aku Double up, tuh, dua²nya harus di like 😾, jangan yang up terakhirnya aja. Kalo gini terus, aku mls Double up, apalagi triple, huh.