
"Jika kamu terus menatapku, keluarlah dari sini."
Ia buta, tapi kemampuannya untuk melihat belum hilang. Wanita itu menatapnya dengan panas, dan ia bisa merasakannya.
Valerie tersentak saat suara dinginnya keluar, tapi setelahnya ia malah menganggapnya lucu. Pria ini jelek dan buta, dan memiliki temperamen buruk, tidak heran semua orang menjauh darinya.
"Kenapa kamu sangat pelit? Tidak bisakah aku menatapmu?" Valerie memasukan udang yang sudah di kupas ke dalam mulutnya, dan berkata dengan suara lembut. "Apakah salah jika aku menatap suamiku sendiri? Kamu terlihat sangat baik. Aku merasa senang saat melihatmu."
Perkataannya bukanlah bualan, Valerie memang merasa begitu. Apalagi orang ini familier baginya.
"Diam."
Victor tanpa ekspresi. Ia sama sekali tidak percaya. Wanita ini sangat takut padanya sehingga dia hanya tidur di sofa setiap malam, dan selalu menunjukkan ekspresi jijik di belakang punggungnya, bukankah dia menganggapnya konyol?
Valerie cemberut dan diam kembali. Melihat sosok kecil berjalan masuk dengan kepala menunduk ia tersenyum lembut. "Lucher, kamu belum menyelesaikan makananmu. Ayo makan yang banyak."
Wajah Lucher sangat pucat. Ia mengangkat kepalanya. Ketakutan tidak bisa di sembunyikan di matanya yang besar.
Valerie yang melihat itu mengerutkan kening saat melihat matanya dengan jelas. Dengan sedikit cemas ia bertanya. "Ada apa?"
"Tadi ada kecoak di kamar, Tuan Muda sangat ketakutan. Oke, tidak apa-apa, Tuan Muda. Kecoak sudah saya injak-injak sampai mati. Kamu bisa makan lagi dengan cepat." Liana tersenyum alami, namun tangannya mendorong bagian belakang Lucher.
Lucher menunduk dan kembali ke kursinya.
"Kamu seorang pria kecil, jangan takut."
Valerie mengulurkan tangan berniat menyentuh kepalanya, namun Lucher langsung menepis tangan Valerie dengan tangan kecilnya.
Valerie tidak kesal, senyumnya tidak berubah. "Aku akan mencari seseorang untuk membersihkan rumah di sore hari, jangan takut."
***
"Apa yang terjadi?"
Victor bisa merasakan ketidaknormalan pada putranya di meja makan saat tadi.
"Ayah.." Lucher memanggilnya ragu-ragu. Ia tidak tahu, apakah ia harus memberitahu ayahnya?
__ADS_1
"Bicaralah."
Lucher tidak bisa menyembunyikananya lagi, dan ia tidak berani berbohong kepada ayahnya. Lucher menatap ayahnya dengan mata mengeluh dan berkaca-kaca. "Ayah, Aku sakit.."
Lucher ingin menjadi lelaki yang kuat dan pemberani, namun menghadapi ayah kesayangannya, ia merasa bersalah sekaligus. Bahkan jika ia tahu ayahnya tidak bisa melihat, Lucher tetap menunjukan ke bagian yang berdenyut perih. "Sakit.."
Alis Victor berkerut erat. "Di mana yang sakit?"
Meskipun ia masih kecil, ia sangat pintar dan memiliki ingatan yang baik. Ia mulai mengulangi apa yang di katakan Liana. "Perutku.. wanita itu mencubitnya.."
***
Valerie keluar dari rumah dan berlari ke vila untuk menemukan tuan Spare, hanya untuk meminta sesuatu.
"Kamu ingin mencabut semua bunga di taman belakang dan menanam bambu sebagai gantinya?"
Rambut orang tua itu sudah memutih, tapi wajahnya penuh energi. Pada saat ini matanya yang tajam tertuju pada Valerie.
Ia sama sekali tidak puas dengan Valerie, jika bukan karena skandal itu, ia tidak akan pernah membiarkan dia menikah dengan Victor--cucunya.
"Ya, Kakek. Kakek pasti tahu bahwa Victor alergi terhadap bunga, aku takut dia keluar rumah dan bunga-bunga itu akan membuatnya alergi. Dan jika di ganti dengan menanam hutan bambu, pasti akan sangat elegan dan indah." Memikirkan sesuatu, Valerie menambahkan. "Jangan khawatir, Kakek. Aku akan menyuruh para pekerja untuk lebih tenang dan tidak menggangu pemulihan Victor. Selain itu, Victor sangat jarang keluar, dia pasti tidak akan keberatan jika aku menanam bambu."
Valerie tersenyum lebih cerah. "Terima kasih, Kakek."
Pria tua itu tersenyum dan mengangguk.
Setelah berpamitan, Valerie pergi ke pengurus rumah tangga untuk mengatur kerja manual hari ini. Ia hanya berharap Victor selalu dalam mood baik, dan tidak selalu marah. Yang paling penting, agar rasa sakitnya tidak selalu datang.
Namun sebelum masuk ke dalam rumahnya, Kepala Valerie mulai sakit dan bel berbunyi.
"Nilai marah: 40."
Valerie meringis kesakitan. Ia hanya keluar sebentar, jadi siapa yang membuatnya marah?
Di dalam ruangan pada saat ini, Liana berdiri di depan Victor dengan seluruh tubuh gemetar. Ia bisa merasakan hawa dingin di punggungnya.
Liana tidak menduga bahwa ia akan di temukan oleh Victor.
__ADS_1
Setelah bekerja di rumah ini untuk waktu yang lama, ia tahu bahwa Victor kurang peduli dengan putranya, dan Valerie membenci Lucher. Ia selalu mendengar wanita itu memarahi Lucher beberapa kali. Bahkan jika Valerie benar-benar tahu apa yang ia lakukan kepada Lucher, mungkin dia akan mengabaikannya. Jadi Liana merasa percaya diri.
Namun saat ini, kenapa ia ketahuan? apakah anak itu benar-benar memberitahu ayahnya?
"Tuan.. sa-ya di paksa."
Liana sudah yakin bahwa jika ia menyangkal, tidak akan berguna. Bagaimanapun anak-anak tidak bisa berbohong. Ia hanya perlu menjadikan Valerie sebagai kambing hitam, siapapun tahu bahwa Valerie sangat membenci Lucher.
Tepat setelah Liana mengatakan itu, Valerie masuk dengan wajah cemas dan pucat. "Apa yang terjadi?"
Ekspresi Liana berubah, hanya saja Victor yang buta tidak bisa melihatnya. Ia buru-buru berkata sedih. "Nyonya.. apa yang Anda perintahkan kepada saya, telah di ketahui oleh Tuan Victor. Tolong.. Nyonya, jangan perintahkan saya melakukan hal itu lagi.. aku tidak ingin di pecat.."
Valerie tanpa ekspresi. Ia menyipitkan matanya. "Apa yang sudah saya perintahkan?"
"Anda bilang, Tuan Muda sudah melakukan kesalahan dan Anda harus menghukumnya."
"Oh? Saya memintamu untuk menghukum Lucher?" Tatapan Valerie beralih pada Lucher yang bersembunyi di belakang Victor.
Valerie mungkin sedikit mengerti. Ia selalu melihat ada sesuatu yang salah pada gerak-gerik Lucher, jadi anak itu memberitahu yang sebenarnya dan membuat Victor marah.
"Dia menghukummu?" Valerie bertanya langsung pada Lucher.
Ekspresi Lucher menegang. Ia berada di dekat ayahnya, jadi ia tidak takut. Ia menatap Valerie mengeluh. "Wanita jahat."
Valerie mengangkat sebelah alis. Ia berjalan menuju Lucher seraya bertanya dengan suara dingin. "Bagaimana dia menghukummu?"
Liana menjadi panik tanpa sadar.
Lucher memegang perutnya dan sedikit melirik Liana. "Dia mencubitku.."
"Kamu mencubitnya?" Valerie menatap Liana dengan senyuman dingin. "Ternyata kamu mulai menunjukkan taringmu. Kamu membenci saya, jadi kamu memfitnah saya dengan ini?"
Melihatnya diam dengan gemetar, senyum Valerie semakin lebar. Namun, memancarkan hawa dingin. "Saya tidak tahu apa tujuanmu melakukan itu kepada Lucher. Siapapun bisa berambisi dan licik, tapi jika metode ini di gunakan kepada anak-anak yang tidak bersalah.."
Nada suaranya merendah. Valerie mendesis. "Itu sangat kejam."
Liana sangat panik dan bingung dengan perubahan Valerie. Sebelumnya dia bodoh dan tak berotak, namun kenapa sekarang..
__ADS_1
"Sa-saya hanya mengikuti instruksimu."
Valerie menatapnya tajam dan dingin.