Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 73


__ADS_3

"Jangan pergi, oke? Temani aku tidur!"


Valerie belum pernah merasakan bagaimana sendirian di rumah sakit, sebelumnya pun ada Victor yang menemani. Ia sangat takut pada hantu dan kegelapan, hatinya bergetar saat Victor mengingatkannya. Meskipun perkataannya tidak benar sekali pun, Valerie tetap saja takut. Apalagi ia selalu berpikir liar tentang hantu.


Victor tertawa rendah. Suaranya yang magnetis terdengar jelas di telinga Valerie, tapi itu hanya membuatnya kesal karena ia tahu pria ini sengaja menakutinya. Tetapi, karena telanjur takut, Valerie harus menekan kekesalannya dari pada harus membuatnya pergi.


Valerie menarik tangannya ke ranjang tempat tidur. "Ayo tidur."


Valerie berbaring terlebih dahulu tanpa melepaskan genggaman di ujung pakaian pria itu. Victor tidak bisa menahan geli dan ikut berbaring di sampingnya. Ukuran sedang ranjang rumah sakit menjadi sempit tanpa ruang setelah di isi dua orang.


Membayangkan di samping dan atasnya ada makhluk yang mengganggunya, Valerie menyusut ke pelukan Victor.


Victor merasa puas akan inisiatifnya. Ia terkekeh pelan. "Valerie, kamu sangat penakut."


"Diam!" Valerie mendongak dan menatapnya tajam. "Itu semua karena kamu!"


Valerie langsung tertegun akan jarak keduanya yang sangat dekat sehingga ia bisa melihat kedua bola mata Victor yang indah dan bersinar oleh sedikit cahaya lampu, nafas keduanya saling beradu, bahkan hidung mereka hampir menempel.


"Valerie, kamu terlalu dekat, apakah kamu ingin aku menciummu?" Suaranya yang rendah berbisik menyadarkan Valerie.

__ADS_1


Wajahnya langsung memanas. Tetapi sebelum ia menjauh, tiba-tiba pinggangnya di tahan oleh tangan pria itu hingga refleks hidung keduanya bertahtakan, jarak semakin menyempit dari sebelumnya.


Valerie hanya merasa detak jantungnya semakin cepat. Kedua tangannya yang di letakkan di dada kerasnya pun bisa merasakan dekat jantung pria itu. Detik berikutnya, Valerie lihat kepala pria itu miring dan bibirnya di tumpu oleh sesuatu yang hangat dan lembut. Mata Valerie terbelalak, tubuhnya menegang. Tidak seperti kecupan yang biasa, kali ini adalah ciuman. Bibir tipisnya dengan lancang mencicipi bibirnya seolah mencicipi permen yang manis.


Valerie langsung merasa lemas tanpa perlawanan. Tangan di pinggangnya mengencang dan mencerngkeramnya lembut. Gerakan yang awalnya tersentak-sentak menjadi lihai seolah tidak puas. Valerie merasakan mulutnya manis karena sebelumnya pria itu memakan kue. Sebuah tangan di menekan belakang kepalanya sehingga memperdalam ciuman semakin sengit itu.


Sebelum kehabisan nafas, Valerie merasakan lukanya sakit karena gerakan ciuman Victor kehilangan kelembutan. Ia meringis pelan sehingga Victor menghentikan ciumannya. Pria itu melepaskan Valerie dengan ekspresi mengerut tidak puas.


Valerie menarik nafas rakus dengan dada naik turun terengah-engah. Saat membuka matanya yang berair, ia baru sadar bahwa dirinya sudah terbaring di bawah Victor, pipinya yang merah semakin memerah. Melihat wajah tidak puas di depannya, ia hanya merasa Victor tidak tahu malu. Jika bukan karena lukanya yang sakit, ia tidak tahu apakah pria itu akan kehilangan kendali? Memikirkan itu hanya membuat Valerie lebih memerah.


"Kamu ... kamu ...." Valerie tidak tahu harus mengatakan apa. Ekspresinya sangat malu dengan sedikit kejengkelan.


Valerie hanya merasa tubuhnya akan terpanggang oleh suhu tubuh Victor, ia tidak berani mendongak karena khawatir akan terjadi seperti sebelumnya. Lehernya merasa geli dan gatal oleh hawa panasnya. Sesuatu yang menusuk pahanya membuat Valerie tertegun. Wajahnya terbakar karena malu, ia tidak berani bergerak sedikit pun.


"Aku akan menemukan dokter terbaik untukmu."


Suaranya yang agak serak tiba-tiba memasuki telinga Valerie. Ia menggigit bibirnya dan melupakan rasa malunya. "Dokter terbaik pun tidak akan memulihkan kulit yang asli."


Aroma susu membuat ketenangannya kembali. Victor menarik nafas untuk mencium aromanya lebih banyak. "Kita tidak tahu sebelum mencobanya. Selain itu, tidak peduli seberapa jelek kamu, mataku tidak bisa melihat. Kamu tidak perlu khawatir."

__ADS_1


"Lalu bagaimana jika kamu bisa melihat kembali? Apakah kamu masih menginginkanku?"


"Ya."


Suasana hati Valerie membaik. Ia balik memeluknya. "Itu harus. Karena sebelumnya saat aku masih cantik aku tetap menerimamu ...."


"Walaupun aku jelek?" potongnya dengan suara tenang dan malas.


Valerie terkikik. "Ya."


Victor memeluknya lebih erat dan mendengus. "Tidurlah!"


Dengan patuh Valerie menutup di pelukannya. Valerie merasakan tidak nyaman karena sesuatu yang mengganjalnya di bawah. Ia berkata ragu. "Victor ... apakah kamu tidak akan pergi ke kamar mandi terlebih dahulu?"


Hening. Valerie merasa panik sendiri saat merasakan keheningannya. Ia langsung berpura-pura tidur untuk tidak mendengar jawabannya. Namun, detik berikutnya nafas panas pria itu berembus ke telinganya, dan Suaranya yang berbahaya terdengar serak terdengar. "Tidur atau membantuku menidurkannya?"


Valerie menegang. Ia menutup mata dengan erat. "Ti-dur! Aku akan tidur!"


Victor tertawa rendah

__ADS_1


__ADS_2