Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 82


__ADS_3

Karena tidak banyak kelas di sore hari, Valerie pulang sekitar jam empat. Ia mengikuti Archa menaiki taksi untuk menginjungi Rea.


Walaupun keluarga Rea tidak termasuk lingkaran orang kaya, tapi rumahnya cukup besar. Saat keduanya sampai, mereka langsung masuk dan di sambut ibu Rea.


"Rea selalu tidak enak badan akhir-akhir ini. Saat ini dia ada di kamar," ucap ibu Rea dengan khawatir.


Archa mengangguk dan berkata sopan. "Baiklah. Karena Rea ada di kamar, kami akan naik ke atas untuk menemuinya."


"Baik. Ibu akan mengantar kalian berdua."


"Terima kasih, Bu."


Ibu Rea membawa Archa dan Valerie sampai depan kamar Rea. Ia mengetuk pintu dan memanggil. "Rea? Ada dua teman sekelasmu yang berkunjung. Tolong buka pintunya."


Mereka tidak mendapat jawaban apapun dari dalam.


Ibu Rea mengetuk pintu dan memanggil kembali. "Rea? Apakah kamu di dalam?"


Beberapa saat kemudian, pintu itu terbuka menampilkan wajah cantik kecil yang pucat. Jelas Rea terkejut melihat kehadiran kedua temannya. "Valerie? Archa, mengapa kalian di sini?"


"Mereka mengenjengukmu," jawab ibunya mewakili.


"Masuklah."


"Rea, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Ibunya.

__ADS_1


Rea mengangguk dengan senyum menenangkan. "Tenang saja, Bu."


Ibu Rea menghela nafas panjang. "Baiklah. Ini akan turun kembali." Ia tersenyum hangat kepada kedua teman putrinya. "Ibu akan kembali ke bawah. Kalian masuklah."


"Baik, terima kasih."


"Sama-sama."


Selah ibu Rea pergi, ketiganya masuk dan menutup pintu.


"Rea, sakit apa yang kamu alami? Wajahmu terlalu pucat," tanya Archa setelah ketiganya duduk.


"Ya, itu benar. Apakah penyakitmu serius? Apakah kamu sudah pergi ke dokter?"


"Apakah benar-benar baik-baik saja? Kamu terlihat sangat salah." Archa mengerutkan kening.


Valerie menatap Rea lekat. Temannya ini memang terlihat tidak wajar dalam gerak-geriknya. "Di mana yang tidak nyaman?"


Di tatap seperti itu, Rea berusaha untuk menutupinya. Tapi, pertahanannya runtuh dan ia berjongkok menangis menutupi wajahnya. "Apa yang harus aku lakukan ... hiks."


"Ada apa?!" Archa yang terkejut langsung berdiri bertanya cemas. "Apa yang terjadi, Rea? Di mana yang sakit?"


"Rea? Ada apa denganmu?!"


Rea mengangkat kepala menatap mereka dengan mata memerah. Wajahnya semakin pucat. "Aku ... aku hamil."

__ADS_1


"Apa?!" teriak keduanya dengan sangat terkejut.


"Apa katamu?! Siapa?! Apa pacarmu yang melakukannya?!" Archa sangat tidak percaya.


"Ya." Rea memeluk kepalanya sendiri dan menggeleng dengan keras. "Tapi ... Aku tidak menginginkan ini! Aku tidak mau melahirkan!" Jika ayahnya tahu, Rea yakin dirinya tidak akan selamat. Ia akan di pukul dan di marahi habis-habisan.


Di bandingkan dengan reaksi heboh Archa, Valerie lebih tenang. "Apakah dia tahu? Apa jawabannya?"


Rea langsung menceritakannya.


Flashback


Saat ia memberitahu Alta, tentu saja pria itu sama-sama terkejut. Dia berkata. "Rea, kita masih muda, dan anak ini hanya kecelakaan. Kamu harus membunuh anak itu "


Rea memang tidak ingin menikah dini dan mempunyai anak secepat ini, tetapi ia tidak menduga perkataan Alta akan begitu kejam. Rea langsung menangis.


Alta yang melihat itu langsung membujuk. "Baru sebulan, kan? Aku akan menemanimu untuk mengaborsinya. Kamu hanya seorang mahasiswa tahun kedua, aku tidak ingin orang lain berbicara buruk tentangmu. Selain itu, sekarang aku tidak memiliki kemampuan untuk membuat anak itu terus hidup. Sebelumnya, aku meminta kamu untuk meminjamkan sejumlah uang dari ayahmu, jika kamu bersedia membantuku, mungkin aku sudah berhasil memulai bisnis dan memberi kamu kehidupan yang baik."


Rea tidak menduga sikap Alta akan seperti ini. Apalagi, nada suaranya terdengar menyalahkannya. Tapi, di sisi lain ia sangat mencintai Alta.


"Kamu tidak perlu memberiku kehidupan yang baik, aku sudah merasa sangat baik sekarang." Rea memandang Alta dengan berlinang air mata, suaranya lembut. "Aku ingin bersamamu karena aku mencintaimu, bukan karena uang atau apa yang kamu punya."


Alta tiba-tiba menyeringai. "Ah, benar. Aku hanya orang miskin yang sama sekali tidak bisa menghasilkan uang. Bagaimana mungkin aku bisa merawat dan memberimu kehidupan yang layak di masa depan? Anak itu harus di aborsi. Jika kamu punya uang dan tetap ingin melahirkan anak itu untuk di besarkan, jangan melibatiku. Dan aku tidak mau mengenalinya."


Rea menatapnya tidak percaya. Hatinya seolah di tikam berkali-kali oleh perkataannya. "Alta, apakah kamu tahu apa yang kamu bicarakan?"

__ADS_1


__ADS_2