
"Apakah kamu lupa bahwa sebelumnya kamu pernah menggunakan trik dengan memberi keponakanku obat bius? Mungkin saja kamu melakukan trik itu lagi untuk membuatku mati sehingga kamu bisa bersama Javier."
"Itu adalah hal yang sudah berlalu. Aku akui bahwa aku memang bodoh sehingga melakukan hal seperti itu, tapi bukan berarti aku akan menyakitimu begitu saja." Memandang wajah tanpa ekspresinya, suara Valerie lebih lembut. "Lagi pula aku tidak menyukai Javier lagi."
Mengingat banyak hal bodoh yang Valerie lakukan untuk Javier, suaranya suram. "Apakah kamu pikir aku akan mempercayaimu?"
Valerie menghela nafas pelan. Ia menunduk menatap punggung tangannya yang memerah. Ia pikir mungkin besok akan menjadi memar.
Tidak mendengar suaranya, wajah Victor agak kesal. Ia akan membuka mulut, namun suara Valerie yang lirih terdengar.
"Aku akan menyuruh seseorang untuk menguji kue itu, sehingga kamu bisa tahu apakah kamu memang menyakitimu."
"Bahkan jika tidak ada masalah di dalam kuenya, tidak ada siapapun yang bisa di salahkan. Itu pasti kamu."
Valerie menatapnya kosong. "Kamu percaya bahwa aku begitu tega menyakitimu?"
"Tidak. Di sengaja atau tidak, hasilnya akan sama. Aku harus berbaring di rumah sakit seperti sekarang." Victor memejamkan matanya.
"Terserah." Valerie yang merasa kesal dan marah melangkah pergi dan berniat keluar
Victor langsung membuka mata setelah mendengar langkah kaki menjauh dan suara pintu terbuka. Ia mengerutkan kening. "Mau ke mana?"
Langkah Valerie berhenti tepat saat sudah di pintu. Tanpa menoleh ia berkata datar. "Kemana pun aku pergi, apakah kamu peduli?"
"Mau ke mana?" tekan Victor.
"Ke mana saja asal tidak bersama denganmu."
"Nilai marah: 15."
Valerie menggertakkan gigi. Ia memejamkan matanya dan berjuang untuk menahan rasa sakit.
"Valerie!" Suara Victor sangat suram.
"Aku akan membeli makanan! Argh! Dasar pria menyebalkan! Berhentilah marah!" teriak Valerie jengkel. Ia langsung berlalu pergi tanpa memperdulikan lagi rasa sakitnya.
Setiap langkahnya, Valerie terus mengutuk. Ia sangat malas membujuknya, jadi biarlah kemarahannya tetap berlangsung agar berat badannya cepat menurun.
Namun itu tidak berlangsung lama.
"Nilai marah: 0."
Langkah Valerie berhenti. Ia mendengus. "Huh!"
Di bangsal, sebelumnya Lucher menyaksikan keduanya berdebat. Setelah ia mendengar teriakan Valerie, ia langsung tersentak.
__ADS_1
Lucher melihat kepergiannya dengan kosong. Lalu mengalihkan pandangan kepada ayahnya. "Ayah.. kenapa dia berteriak keras?"
Victor sendiri pun tidak menduga dia akan meledak. Namun kesuramannya langsung lenyap setelah mendengar ucapan Valerie. Sudut mulutnya melengkung. "Ayah tidak tahu."
"Siapa yang membawa ayah ke rumah sakit?" tanya Victor.
Lucher memahami pertanyaan ayahnya, ia menjawab. "Dia yang mencari seseorang untuk mengirim ayah saat itu. Aku sangat takut.."
Victor terdiam. Lalu berkata pelan. "Ayah tidak mati, apa yang kamu takutkan? Anak laki-laki harus berani."
Lucher menganggukkan kepala dengan semangat. "Ya! Aku akan menjadi pemberani!"
Victor tidak bertanya lagi. Bangsal hening beberapa saat. Tidak lama, pintu terbuka menampilkan Valerie dengan wajah cemberut.
Lucher mengangkat kepala melihat ada kantung yang Valerie jinjing di tangannya, matanya berbinar. Ia turun dari sofa yang di dudukinya, lalu berjalan ke arah Valeri dengan langkah pendek seraya mengusap perutnya. "Aku lapar."
Wajah cemberut Valerie langsung tersenyum lembut. Apalagi melihat wajahnya yang memelas, Valerie tidak tahan kelucuannya.
Ia menyerahkan satu kotak makan siang kecil ke arah Lucher. "Ini milikmu. Makanlah."
Dengan mata cerah, Lucher langsung mengambil kotak itu. Ia benar-benar lapar. Pada siang hari, hanya memakan sedikit kue. Lucher makan dengan lahap.
Valerie mengalihkan pandangan menatap Victor yang tengah menutup matanya. Ia yakin bahwa pria itu tidak tidur. Sebenarnya ia masih kesal dan marah, namun Valerie tidak tega dengannya. Apalagi jika berpikir bahwa vila itu ramai, banyak orang yang bersenang-senang, namun di sini begitu dingin dan sepi.
Adapun alerginya, Valerie akan mencari tahu nanti.
"Victor.. apakah kamu lapar?" Valerie berjalan mendekatinya. "Bahkan jika kamu masih marah tentang kue itu, kamu harus segera makan.."
Victor langsung membuka matanya membuat Valerie sedikit berjengit.
"Terlalu banyak bicara. Apakah menurutmu aku akan menolaknya?" Pria itu duduk dengan kedua kaki bersilang. Ia berkata malas. "Aku lapar dan ingin makan."
Victor mengambil sebuah sendok dan berkata. "Selama aku berada di rumah sakit, kamu harus merawatku dengan baik. Setelah aku sembuh, kamu boleh pergi."
Valerie menatapnya tidak percaya. Pria ini.. menyuruhku pergi?
***
Bangsal yang Victor tempati merupakan bangsal VIP tertinggi. Di dalamnya sangat lengkap dan khusus. Walaupun begitu, Valerie berpikir bahwa tempat ini tidak cocok untuk anak-anak jika tinggal lebih lama. Jadi, Valerie menghubungi pengurus rumah tangga untuk menjemput Lucher agar pulang ke rumah. Ia juga berulang kali meminta untuk menjaganya dengan baik di rumah.
Sebelum pergi, Lucher duduk di samping ayahnya. Mata besarnya berlinang air mata. "Ayah harus segera sehat.. aku akan patuh dan menjadi baik di rumah."
"Ayah akan kembali dalam dua hari."
Lucher mengangguk. "Aku akan menunggu ayah di rumah."
__ADS_1
Victor mengangguk ringan.
Lucher turun dan bersiap keluar. Namun ia menoleh terlebih dahulu ke arah Valerie. Matanya masih sembab.
Valerie yang di pandang hanya tersenyum. Ia mendekat dan berjongkok. Menghapus air mata di pipinya, Valerie berkata. "Kita akan segera pulang. Lucher jangan nakal, oke?"
Mulut Lucher cemberut. "Aku tidak nakal."
Valerie terkekeh. "Aku tahu."
Ia tidak tahan sehingga mencium pipi Lucher. "Sampai jumpa."
Lucher membeku. Ia menyentuh pipi yang di cium. Telinganya langsung memerah. Dengan ekspresi malu dan senang, pria kecil itu berlari menuju seorang pelayan yang menjemputnya di luar.
Valerie tertawa.
***
"Kemarilah. Bantu aku berjalan. Aku ingin mandi."
Valerie yang baru saja selesai mandi dan menyeka rambutnya, langsung menghentikan gerakannya. "Oke."
Tempat ini bukanlah rumahnya, jadi Victor tentu saja tidak akrab dengan tata letaknya. Setiap langkah harus di pimpin.
Valerie menyimpan handuk di tangannya. Ia membungkuk untuk menjangkau Victor, namun tatapannya jatuh pada punggung tangannya sendiri yang keunguan.
Dulu, Valerie sangat takut akan rasa sakit. Begitu pun bagian tubuh mana pun akan langsung memar jika terbentur dan mudah terluka. Tanpa di duga, tubuh ini pun sama.
Valerie memegang lengan Victor untuk membawanya.
"Mengapa kamu begitu lemah? Apakah kamu tidak makan?" Victor mendengus.
Ia selalu lemah jika terkena alergi, jadi ia mencoba mengandalkan Valerie. Namun wanita ini sangat lembut dan tidak membantunya sama sekali.
Valerie mengerucutkan bibirnya. "Aku sudah makan. Tapi, tanganku masih merasa sakit. Sebelumnya kamu menepisnya membuat punggung tanganku terbentur ujung lemari. Itu sangat menyakitkan."
"Apakah kamu butuh perawat?" Victor bertanya santai. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Valerie dan mengandalkan tubuhnya. "Nanti saja. Sekarang bawa aku ke kamar mandi."
Sekarang Valerie mempunyai berat badan 120 kg, di bandingkan sebelumnya, pinggangnya lebih tipis. Dan saat ini, tangan sekeras besi pria itu mencengkeram pinggangnya kuat membuatnya agak sakit.
Valerie menatapnya kesal. "Kenapa cengkeramanmu begitu kuat? Bisakah kamu mengendurkanya sedikit?"
Victor mengerutkan kening di saat tangannya mencengkeram pinggangnya. Ini terasa lebih tipis, walaupun masih berdaging. Sangat lembut, dan ia dengan mudah bisa memeluknya dengan satu tangan.
Apakah dia kehilangan berat badan begitu banyak?
__ADS_1