Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 44


__ADS_3

"Victor, aku sudah memotongnya beberapa bagian. Meskipun tidak sebagus koki profesional, cobalah sedikit. Aku yakin rasanya enak."


Chelsea meletakkan kue di sisi tangan Victor. Saat melihat wajahnya yang jelek, ia sedikit menjauh dan memalingkan muka.


Victor malah menoleh ke arah Valerie. "Valerie, wanita ini ingin aku mencoba kuenya. Apakah kamu setuju?"


Valerie terperangah mendengar pertanyaan Victor. Karena ia merasa kesal dengan Chelsea sebelumnya, ia sedikit senang melihat wajah malu Chelsea saat Victor berkata itu.


Tetapi ia berkata tenang. "Victor, itu terserah kamu. Aku tidak punya hak untuk mengontrolmu."


Mata indah Valerie beralih pada Chealsea yang runtuh dari senyum lembutnya. Ada sedikit provokasi dalam nadanya. "Selain itu, Nona Chelsea sudah menghabiskan banyak waktu untuk membuat kue untukmu. Kamu bisa memakannya dengan bebas."


Dari awal melihat Chelsea, tentu saja Valerie tahu temperamen dalamnya. Di luar terlihat anggun, lembut, tetapi dia hanya berpura-pura. Ia mengungkapkan banyak komentar sana pendapat, tetapi pada dasarnya ia memberi tahu Victor bahwa dirinya berniat buruk. Valerie tidak bodoh seperti Valerie sebelumnya, ia tentu tahu tujuan Chelsea.


Mata Valerie menyipit, apakah wanita ini menyukai suaminya?


Jika tidak, mengapa dia sangat rajin mengunjungi Victor dan membuatkan kue untuknya? Walaupun sangat suka berpura-pura di depannya, tetapi ia sangat baik kepada Victor. Valerie cemberut. Ia merasa jengkel jika ada orang yang mengganggu ketenangannya


"Aku tidak mau memakannya." Jawabnya Victor sangat dingin. Valerie bersorak dalam hati. Ia hanya ingin mengatakan, mampus kau!


"Karena tidak sebaik koki profesional, mengapa aku harus memakan produk ya g gagal." Victor mengerutkan kening dengan jijik. Ia menoleh ke arah Valerie. "Aku hanya akan memakan kue yang Valerie buat."

__ADS_1


Wajah Chelsea memucat. Ia memandang Victor tidak percaya. Walaupun ia merasa kepribadian Victor tidak bisa di prediksi, tetapi dirinya selalu merasa spesial bagi Victor. Bagaimanapun, dalam waktu lama tidak ada wanita yang paling dekat dengan Victor selain dirinya. Tentu saja, adanya Valere hanya kecelakaan mendadak. Saat ini Victor mengejeknya dengan lugas dan membandingkannya dengan Valerie, Chelsea begitu malu dan merasa di rugikan.


Chelsea menggertakkan gigi. Melihat wajah Valerie yang berseri penuh senyuman, ia hanya merasa rasa sakit yang menancap di telapak tangan karena kepalannya yang mengencang kuat.


"Aku tahu bahwa aku tidak membuatnya lebih baik, tetapi jika kamu mengatakan terus terang, itu sangat menyakitkan." Chelsea tersenyum sedih. "Aku biasanya sibuk berlatih menari, tapi akhir-akhir aku meluangkan waktu untuk belajar membuat kue yang kamu suka. Meskipun keahlianku tidak sebagus Valerie, aku akan belajar lebih baik lagi hingga kue yang aku buat lebih banyak varian rasa. Apakah kamu mau mencobanya."


Victor mencibir. "Apakah kamu tidak mempunyai telinga? Sudah ku bilang, aku hanya akan memakan kue yang di buat Valerie."


Wajah Chelsea semakin pucat. Air mata berangsur-angsur menggenang di matanya. Menatap wajah Victor yang terdapat bekas luka setengahnya, ia hanya merasa kesal dan sedih.


Suasana paviliun langsung sunyi. Setelah beberapa saat, suara menyedihkan Chelsea terdengar. "Baiklah. Kalau begitu, aku akan pergi dulu."


Menahan kebencian di matanya, Chelsea tersenyum paksa. "Tidak. Sepertinya jika aku di sini aku akan mengganggu kalian."


Tentu saja sangat mengganggu! Valerie menahan ucapan itu agar tidak keluar dari mulutnya sendiri.


Chelsea sudah beranjak akan pergi, namun Valerie menghentikannya lagi. "Kuenya ...."


"Buang saja," ujarnya dengan gigi bergemelatuk. Ia tidak menoleh dan melenggang pergi.


Valerie menatap punggungnya menjauh. Sangat menyenangkan melihat drama tadi. Ia tertawa tanpa bisa menahannya.

__ADS_1


"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Victor dengan alis terangkat. Ia hanya merasa tawanya menyenangkan sehingga suasana hatinya langsung membaik.


"Ah, tidak, tidak. Aku hanya merasa wanita itu sangat lucu. Kamu telah membuatnya sedih, Victor. Sepertinya dia menangis karena perkataanmu terlalu menohok."


Nada suaranya terdengar bahagia walaupun ucapannya prihatin. Victor mengangkat sudut mulutnya dan berkata malas. "Membosankan."


Lucher menatap kue itu sembari menyedot air liurnya yang akan keluar. Sedari tadi pandangannya tertuju pada kue, tetapi karena ayahnya tidak makan, ia sendiri tidak ikut makan.


Valerie yang melihatnya gerak-gerik terkekeh. "Apakah kamu ingin kuenya?"


Lucher mendongak dan menatap Valerie ragu-ragu. "Ayah tidak memakannya ...."


Valerie melirik Victor. Ia tersenyum dan mengusap kepala Lucher. "Tidak apa-apa. Jika kamu ingin memakannya, makan saja."


Mata Lucher berbinar. "Bolehkah?"


"Tentu saja. Sangat di sayangkan jika di buang."


Lucher langsung memakannya dengan antuasias. Melihat krim yang belepotan di sekitar mulutnya, Valerie terkekeh gemas. "Apakah enak?"


Mata besar Lucher berkedip menatapnya. "Tidak seenak kue yang kamu buat."

__ADS_1


__ADS_2