Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 20


__ADS_3

"Saya akan mengambil ini."


Petugas toko segera mengambil pakaiannya untuk di kemas, lalu menyerahkannya kepada Valerie.


Setelah interaksi penjual-pembeli selesai, Valerie menatap Victor. "Ayo pergi."


Mereka keluar toko.


"Victor, saat ulang tahunmu tiba, kamu harus mengenakkan kemeja yang aku belikan untukmu, oke?"


Victor berjalan ke depan tanpa pegangan Valerie. Ia mendengus dingin. "Sangat berisik!"


Melihat pria itu berjalan menyusulnya begitu saja, Valerie mencoba menyamakan langkahnya dengan menarik Lucher pelan. "Victor! Jangan berjalan sendiri.. tunggu kami.."


Pria ini tidak memiliki kesadaran bahwa dia buta.


"Huh! Sangat merepotkan!" Victor berhenti melangkah dan kembali ke arah Valerie.


Valerie cemberut dan berbisik. "Kakimu panjang, sedangkan kakiku pendek. Aku tidak bisa mengikutimu. Jangan berjalan begitu cepat, bagaimana jika orang lain menabrakmu?"


Tepat setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya, mata Valerie terbelalak menatap suatu arah. Ia segera melepaskan cekalannya kepada Lucher, dan ia langsung bergegas mendorong Victor yang berdiri di hadapannya.


Bugh


"Ah!" teriak Valerie saat sebuah gerobak sampah menabraknya.


Sampah berserakan di seluruh lantai, dan Valerie mundur terlalu cepat. Ia terduduk di lantai dengan banyak sampah terbalik jatuh di pangkuannya.


"Anak nakal! Ibu hanya berpaling sebentar, dan kamu berulah lagi?!"


Seorang wanita paruh baya dengan dandanan glamor memarahi remaja yang mendorong gerobak sampah di mall ke arah Valerie tadi.


Lalu wanita itu melirik Valerie yang terjatuh duduk di lantai dengan banyak sampah di sekitarnya, ia mengernyit jijik. Wanita itu tersenyum asal. "Maaf, anakku masih muda dan terbiasa berbuat nakal. Aku akan memberinya pelajaran nanti. Apakah kamu baik-baik saja?"


Valerie menendang dan menyingkirkan sampah di kakinya. Ia mencoba berdiri dengan tangan di lantai untuk menopang. Ia berbalik dan melihat bahwa Victor baik-baik saja, Valerie menghela nafas.


Saat menghadapi wanita di depannya, Valerie tampak kesal. "Apakah jika Anda mengalami hal sama barusan akan merasa baik? Lihatlah baik-baik, putramu sudah remaja, sudah tidak anak-anak lagi. Jika dia melakukan kesalahan, seharusnya di meminta maaf kepadaku."


Sebenarnya Valerie tidak ingin membesar-besarkan, namun menghadapi remaja nakal ini, Valerie merasa tidak tahan. Ia merasa dia harusnya di ajari dengan baik. Kenapa ada anak nakal yang bermain-main dengan gerobak sampah di mall?


Wanita itu mengerutkan kening, dan menatap Valerie tidak senang. "Ada apa denganmu? Bukankah aku baru saja meminta maaf? Anakku hanya bermain gerobak itu sebentar dan tidak sengaja mengenaimu. Lagi pula, kamu tidak terluka sama sekali."

__ADS_1


"Tidak terluka katamu?" Valerie mengangkat lengannya yang tergores gerobak dan memperlihatkannya ke arah mereka. "Lihat ini. Apakah ini bukan luka menurutmu?"


Orang di depannya terlalu tidak peduli akan tanggung jawab, apalagi remaja itu sama sekali tidak meminta maaf padanya, bagaimana mungkin Valerie membiarkannya begitu saja?


Wanita itu menatap lengannya yang terluka dengan ekspresi jelek. Ia tidak bisa berdalih lagi. "Berapa banyak yang kamu inginkan untuk biaya pengobatan?"


Lucher yang sedari tadi mendengar percakapan mereka, merasa tidak mengerti dan diam. Namun saat baru menyadari luka di lengan Valerie, matanya di penuhi ketakutan dan kecemasan. "Da-rah.. itu berdarah.."


Valerie menyentuh kepalanya untuk menenangkan. Atensinya kembali pada wanita dan anak remaja itu. "Aku tidak butuh biaya pengobatan, aku hanya ingin putramu meminta maaf kepadaku."


Dengan cara ini, Valerie bisa sedikit mengajarkan remaja itu untuk meminta maaf jika berbuat kesalahan.


Namun bocah itu menatap Valerie dengan keengganan.


Wanita itu kehabisan kesabaran dan menatap Valerie galak. "Aku sudah meminta maaf atas putraku! kenapa kamu--"


"Kenapa kamu di sini? Aku mencarimu sedari tadi dan merasa cemas." Seorang pria paruh baya berjas tiba-tiba datang dan berbicara kepada wanita itu dengan ekapresi jengkel. "Ketika aku pergi memilih hadiah, akhirnya aku bisa mendapatkan pesta ulang tahun di keluarga Spare. Ayo kita cari kembali hadiah yang bagus."


Wanita itu seolah tidak mendengar ucapannya. Ia menunjuk ke arah Valerie dan mengeluh. "Kamu akhirnya datang di waktu yang tepat! Lihatlah, wanita ini ingin memerasku!"


Pria berjas itu mengerutkan kening sedikit melirik Valerie. "Ada apa?"


Wanita itu menjelaskan secara singkat apa yang terjadi kepada suaminya. Setelah selesai, ia menatap Valerie mengejek. Sekarang suaminya ada di sini, ia tidak lagi ragu menghadapinya.


Ekapresi Valerie tenggelam.


"Apakah kamu begitu bodoh? Kenapa kamu berbicara banya omong kosong dengan mereka?" Suara dingin Victor tiba-tiba datang. "Lenganmu terluka, apakah kamu akan membiarkannya begitu saja? Mengapa kamu harus membuang-buang lidah dan air liurmu berbicara omong kosong?"


Valerie mendengarkannya dengan kepala menunduk. Ia tahu kata-katanya sangat serius, namun ia masih kesal dengan mereka. Dan ia tidak menyadari sudah banyak darah di lengannya.


Melihat ekspresi tidak senangnya, Valerie membujuknya. "Victor.. jangan marah. Aku hanya ingin sedikit mengajari anak nakal itu. Jangan pedulikan lukaku."


Victor menoleh dengan dingin. "Siapa yang peduli padamu?"


Melihatnya tidak marah, diam-diam Valerie menghela nafas lega.


Namun pada saat ini, pria paruh baya di seberang mereka terkejut. Baru saja ia ingin menegurnya karena terlalu sombong, namun setelah mendengar nama pria itu, keringat dingin keluar dari dahinya.


Victor? Apakah itu adalah Victor dari keluarga Spare? Diam-diam ia melihat wajah Victor. Dia memiliki bekas luka bakar di wajahnya, dan matanya di tutupi oleh topi. Pria paruh baya itu tidak bisa melihat apakah dia buta? namun ciri-cirinya sama.


Selain itu, siapa orang selain Victor yang akan berkata kejam tanpa pandang bulu?

__ADS_1


Pria itu segera menunduk dengan punggung kedinginan. Ia buru-buru meminta maaf kepada Valerie. "Sa-ya benar-benar mem-inta maaf karena kurang mendisiplinkan putra dan istri saya. Jika Anda butuh biaya pengobatan, Anda bisa berbicara kapan saja, Nyonya. Jumlahya tidak masalah.."


Wanita itu terperangah menatap suaminya tertegun. "Kamu--"


"Diam! Aku sering memintamu untuk mengajari putra kita agar tidak selalu berbuat nakal! Namun sepertinya kamu tidak melakukannya! Apakah kamu ingin bercerai?!" Pria itu memarahi dan menegur istrinya


Valerie terkejut menyaksikan perubahan sikap 180° pria paruh baya itu. Tatapannya beralih pada Victor. Apakah dia mengenali suami dinginnya ini?


Valerie tidak enak dengan kesopanan pria itu. "Baiklah, lupakan saja. Aku hanya ingin Anda mengajari putra dan istrimu."


Pria itu menatap Victor takut-takut dan mencoba meyakinkan. "Ya, ya. Maafkan kami. Saya pasti akan menegur dan mendidik mereka."


Valerie memerhatikan pandangannya. Itu benar-benar karena Victor.


Setelah masalah selesai, Valerie membawa kembali Lucher dan Victor untuk keluar dari mall. Sepanjang jalan menuju mobil, tidak ada yang berbicara.


Saat tadi, Valerie tidak merasakannya, namun saat ia memasuki mobil, rasa sakit kesemutan langsung terasa di lengannya yang terluka. Valerie tidak tahu, apakah ini akan meninggalkan bekas luka? Yang penting ia harus segera mengobatinya langsung saat pulang.


Atensi Lucher sudah sejak lama tertuju pada lengan berdarah Valerie. Ia cemas dan tidak bisa menahan diri. "Apakah sakit?"


Suara imut Lucher dengan sedikit lucu itu menghibur Valerie. Valerie terkekeh dan menggodanya. "Ini mungkin tidak akan sakit lagi jika Lucher membantuku untuk mengobatinya."


Lucher mengerjap lucu. Lalu ia sedikit mendekat mencoba meniup luka di lengannya.


Valerie semakin terhibur. Ia tertawa pelan dan dengan lembut mengusap rambutnya. "Aku tidak merasa sakit lagi. Terima kasih, Lucher.."


Mata Lucher agak cerah. Wajah kecilnya malu-malu dan sedikit bangga. "Sama-sama."


"Mengapa kamu mendorongku pergi?"


Suara magnestis pria dingin yang sedari tadi diam itu tiba-tiba terdengar.


Valerie langsung menatapnya. Setelah mengerti apa maksudnya, ia segera tersenyum tulus. "Melihatmu dalam bahaya, bukankah seharusnya aku mendorongmu pergi?"


"Dan kamu sendiri yang terluka?"


Valerie mengangkat bahu. "Tidak apa-apa."


Victor terdiam benerapa detik, dan mendengus. "Kamu sendiri yang berinisiatif membantuku. Jangan berpikir bahwa aku akan berterima kasih padamu."


Senyum Valerie tidak berubah. Ia berkata santai. "Aku sendiri pun tidak mengharapkan rasa terima kasihmu. Itu adalah keinginan diriku sendiri."

__ADS_1


Victor memalingkan muka. Ia agak menyesal dengan ucapannya sendiri.


__ADS_2