
Dengan tubuh yang sudah segar, Valerie keluar dari kamar mandi. Langkah santainya menuju tempat tidur. Ia membuka selimut dan membaringkan badan untuk tidur.
Victor yang sudah bersiap sebelum Valerie, bisa mencium aroma samar dari wanita itu. Ia mengernyit, Valerie terlalu jauh darinya.
"Ayo tidur."
Valerie membenamkan wajahnya di bantal dan bergeming.
"Valerie, kemarilah. Peluk aku," perintah Victor.
Valerie tidak bergerak seolah sudah tertidur. Victor tahu bahwa dia memang mengabaikan dirinya sendiri, tetapi ia tidak marah atau kesal. Victor mengambil inisiatif datang ke sisinya, tangan besarnya memeluk tubuhnya yang lembut.
Valerie tidak bisa berpura-pura lagi. Ia masih marah sekaligus malu. Marah karena kedatangan Chelsea yang sama sekali tidak Victor tolak, lalu malu karena ciuman itu.
"Lepaskan aku." Valerie mencoba mendorongnya. Suara di penuhi rasa malu. "Victor, bisakah kamu untuk tidak memeluk dan menciumku sesukamu."
Wajah Victor segera tenggelam, dan ia menolak untuk melepaskan pelukan. Dari sore tadi Samapi malam ini, Valerie sama sekali tidak berbicara padanya.
Apakah dia marah? Mengapa marah? Apakah karena dirinya yang telah merasakan kue itu lewat mulutnya?
Victor meraih dan menggenggam erat tangan Valerie yang mendorong dadanya. Itu sangat lembut, seolah tanpa tulang. Saat tangan kecil itu mendorongnya, sama sekali tanpa kekuatan dan hanya menggelitik.
Victor bermain tangan Valerie seolah menemukan sesuatu yang menarik. Ia menolak untuk melepaskan. Suaranya teredam. "Apakah kamu tidak menyukaiku?"
__ADS_1
Valerie menatapnya tercengang. "Ak-u tidak pernah bilang bahwa aku tidak menyukaimu."
"Oh." Victor terus bermain dengan tangan dan jari-jari Valerie. "Jangan tidak menyukaiku, kamu harus patuh memelukku."
Valerie merasa geli dan gatal. Ia ingin menarik tangannya, tetapi pria itu memegangnya erat. Valerie mengangkat kepala menatap wajahnya. Siluetnya tampak lembut, dan bahkan bekas luka di wajahnya agak memudar.
Valerie tidak tahu mengapa tampaknya Victor telah berubah sikap padanya daripada saat awal dia ke sini. Dalam novel, dia tidak memiliki emosi dan kepribadiannya dapat berubah kapan saja, jadi Valerie selalu tidak bisa menebak. Dan mungkin ia merasa dirinya tidak sepenting kue kesukaannya
Valerie segera menunduk. Mengingat ciuman sore tadi, wajahnya langsung panas. "Ka-mu ... kamu boleh memelukku, tapi jangan menciumku."
Victor tidak menanggapi. Ia melepaskan tangan Valerie dan meletakkan tangannya di pinggang, lalu pria itu mengikat tubuh hangatnya ke pelukannya.
Valerie sama sekali tidak memiliki kepercayaan diri atau keyakinan bahwa Victor menyukai dirinya sendiri, jadi ia berkata. "Kamu hanya bisa mencium orang yang kamu suka."
"Nilai marah: 5."
Valerie langsung menatapnya terkejut saat sakit kepala dan bel berbunyi datang. Mengapa dia marah? Ia tidak tahu apakah dia telah mengatakan sesuatu yang salah?
Valerie mencoba tenang dan berkata lembut. "Victor ... kamu benar-benar tidak bisa mencium orang yang tidak kamu sukai dengan santai dan sesukamu."
"Oh." Victor mendengus, terlihat menyedihkan.
"Nilai marah: 7."
__ADS_1
"Victor ...."
"Diam dan tidur." Tangan Victor menegang dan ia semakin memeluk wanita itu dalam pelukannya.
Valerie merasa bingung akan sebab kemarahannya. Ia sangat ingin tidur, tetapi pria ini masih marah. Bagaimana bisa dirinya tidur dengan damai dan tenang?
Ruangan menjadi sunyi. Valerie menggerakkan tubuhnya, sakit kepalanya memang tidak terlalu sakit, tapi tetap saja menganggu. Apalagi deringannya.
Victor yang sudah memejamkan mata, berkata dingin dan tenang. "Tubuhmu terus bergerak-gerak, apakah kamu tidak akan tidur?"
Valerie membuka mata dan mendongak menatapnya sedih. "Kamu masih marah, dan aku tidak bisa tidur."
Victor langsung membuka mata dan berkata lugas. "Aku tidak marah!"
Pembohong. Valerie mengerucutkan bibirnya. Suasana sunyi kembali. Karena di peluknya, wajah Valerie bersandar pada dada Victor. Mendengar detak jantung di telinganya, Valerie mengulurkan tangan dan meletakkannya di wajah Victor, lalu tangan lain di letakkan di pinggang pria itu. Ia berbisik hangat. "Kamu bisa dengan bebas memelukku, dan jika kamu ingin menciumku, kamu harus memastikan hatimu sendiri apakah kamu menyukaiku?"
Valerie menarik pakaian di pinggang Victor dan membujuk. "Jangan marah ...."
Victor mengencangkan tangannya yang berada di pinggang Valerie. Ia mendengus dingin. "Aku tidak marah. Cepat, tidur."
"Nilai marah: 0."
Wajah Valerie langsung di penuhi senyuman.
__ADS_1