
"Beri aku pelukan."
Valerie terbelalak. "Tidak mau!"
"Kami tidak mau memelukku? Kamu juga tidak mau membuatkanku kue?" Victor mengerutkan kening tidak suka.
Valerie menatap kue yang Chelsea bawa. "Bukankah itu kue favoritmu? Ini dia, kenapa kamu meminta kue lagi?"
Valerie membuka kotak kue itu. "Chelsea membuatnya khusus untukmu, jadi kamu harus menikmatinya."
Kue di kotak tidak terlalu besar, hanya berukuran sebesar telapak tangan, krimnya tidak merata, dan ukuran tidak bervariasi. Siapapun akan beranggapan bahwa kue itu di buat oleh seorang pemula, tetapi karena Victor buta ia tidak bisa melihat keburukannya.
"Tidak tertarik," kata Victor acuh tak acuh. Ia bersandar malas di kursi. Wajahnya mengarah pada Valerie dengan sedikit senyum. "Aku hanya ingin memakan apa yang kamu buat."
Valerie terkejut. Setelahnya ia tersenyum diam-diam. Ia terbatuk pelan untuk menghilangkan kesaltingannya. "Kenapa kamu tidak memakan kue yang ini? Benar-benar tidak mau?"
"Tidak."
"Jangan membuang-buang makanan. Coba saja sedikit."
"Beri makan kucing saja."
Valerie mengerjap bingung. Apakah kucing suka kue?
***
__ADS_1
"Bibi," sapa sopan Chelsea pada Gracia--Ibu Victor.
"Ternyata kamu. Kemari dan duduklah." Gracia menatap pelayan di sebelahnya. "Pergi dan siapkan dua cangkir teh."
Pelayan itu mengangguk sopan dan pergi.
Pandangan Gracia kembali pada Chelsea dengan senyuman menyenangkan di wajahnya. "Mengapa kamu di sini? Apakah liburanmu telah selesai?"
"Aku mendengar kabar bahwa Victor alergi, jadi saat aku pulang aku langsung ke sini mengunjunginya dan membawa kue kesukaannya." Chelsea terlihat anggun dengan kesopanan yang luar biasa.
Gracia sangat menyukai Chelsea. Entah itu penampilan, temperamen, percakapan, dan calon terbaik untuk menjadi menantu perempuannya. Dan ia sangat tahu bahwa Gracia menyukai Victor, hanya saja putranya sudah memiliki kontrak pernikahan sejak awal.
Namun, akhirnya tunangan Victorlah yang malah menikah dengan cucunya, dan Victor sendiri dengan putri keluarga Joana. Sayang sekali Chelsea tidak bisa bersama putranya.
"Selain berliburan, aku mempunyai pekerjaan cukup banyak di luar negeri, jadi saat ini aku ingin beristirahat."
Chelsea mengangguk dengan senyum anggun. "Baiklah, Bibi. Terima kasih, aku akan memerhatikannya."
Memikirkan sesuatu, senyum Chelsea semakin dalam. "Bibi, aku mempunyai banyak waktu akhir-akhir ini, bolehkah aku datang ke sini untuk mengobrol dengan bibi? Aku juga telah belajar membuat kue, bibi bisa mencoba keterampilanku. Apakah tidak apa-apa?"
Gracia terkejut. Lalu ia tersenyum hangat. "Tentu saja. Bagaimana mungkin aku menolak kebaikanmu? Cucuku terlalu sibuk di perusahaannya, begitupula istrinya yang selalu pergi syuting. Lalu putraku tengah beristirahat, aku cukup kesepian. Kamu boleh datang kapan saja untuk mengobrol denganku."
"Terima kasih, Bibi."
Senyum Chelsea lebih terbuka. Aku mempunyai banyak kesempatan.
__ADS_1
***
"Victor? Di mana bantalku?" tanya Valerie saat hendak berbaring di tempat tidur, tetapi ia menyadari bahwa bantalnya tidak ada.
Tangan Victor yang tengah menyatukan kantong langsung berhenti. Saat itu memang bantal Valerie tidak jadi di buang, tetapi karena kemarahannya beberapa hari, ia menyuruh pelayan membuangnya begitu saja tanpa sepengetahuan Lucher.
Saat ini Valerie bertanya, nada suara Victor agak tidak menentu. "Bantal? Bantal apa? Apakah kamu bertanya kepada orang buta tentang bantalmu? Valerie, apakah kamu mencoba mengejekku sebagai orang buta?"
Reaksinya sangat besar dan meledak. Valerie tidak menduganya. Ia sedikit cemberut. "Aku hanya bertanya santai. Jika kamu tidak tahu, maka lupakan saja."
Mengapa pria ini sangat galak?
Valerie mencarinya sebentar, tetapi benar-benar tidak ada. Ia tidak tahu apakah pelayan mencucinya dan mengeringkannya. Akhirnya Valerie menyerah dan berbaring di tempat tidur dengan sedikit tertekan. Ia merasa tidak nyaman karena kepalanya di baringkan di kasur yang datar.
Merasakan sisi tempat tidurnya tenggelam, Victor ikut berbaring. "Valerie, apakah kamu ingin tidur di bantalku?"
Tiba-tiba suara magnetis pria itu terdengar di sisinya. Valerie langsung menoleh dengan linglung. "Ha?"
Tubuh Victor langsung terbalik dan mengarah pada Valerie dengan terbaring tegak. Sudut mulutnya melengkung dan berkata. "Ayo tidur. Kamu bisa tidur di bantalku. Dan kita bisa membaginya."
Valerie melebarkan matanya terkejut. Melihat bantal yang tidak terlalu lebar itu, ia merasa malu dan tanpa sadar menolak. "Tid-ak ... aku ...."
Tiba-tiba ia teringat ketika di rumah sakit, Victor menyarankan untuk tidur bersama, dan pria itu sama sekali tidak marah atau menolak kedekatannya. Valeri berpikir, kenapa dirinya harus malu? Justru itu kesempatan bagus.
Valerie langsung tersenyum lebar. Ia berbalik dan mengusap kepalanya di tubuhnya. Setelah tidur di bantalnya, Valerie berkat lembut. "Terima kasih, Victor. Kamu sangat baik."
__ADS_1
Bantal tidak teralu besar. Saat di tempati dua kepala, itu tampak sempit dan berjarak pendek. Aroma susu memenuhi hidungnya, wajah berkerut Victor tampak mengendur. Merasakan nafas hangat di sebelahnya, ia berkata. "Tidur!"
Saat larut malam, nafas halus dan teratur terdengar. Victor membuka matanya. Dengan sudut mulutnya melengkung, ia mengambil tubuh lembut Valerie ke dalam pelukannya dan tertidur dengan nyaman.