Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 39


__ADS_3

"Aku baik-baik saja."


Valerie menantap wajahnya dengan cemas, tapi tidak ada ekspresi apapun di wajah pria itu. Ia hanya tahu bahwa kemarahan masih melandanya.


Valerie mengalihkan pandangan ke arah para pria itu dan memelototi mereka dengan marah. "Apa maksud kalian memukulinya?!"


Mata Valerie beralih pada Lucher yang menatapnya menyedihkan. Ia melotot marah pada pria yang memegangi pria kecil itu. "Lepaskan putraku!"


Sean awalnya mengira bahwa kedatangan wanita ini hanya simpati dan berniat menolong, tapi sekarang sepertinya ia mengerti siapa dia. Sean hanya tersenyum miring dan sama sekali tidak melepaskan Lucher. "Seperti yang kamu lihat, kami hanya ingin bermain dengan Victor. Keluarlah, aku tidak mau berurusan dengan wanita."


Ekspresi Valerie dingin. "Aku tidak tahu di mana suamiku menyinggungmu? Dan kamu sangat pengecut melawan orang buta. Apalagi, tidak satu orang yang mengalahkannya. Jika kamu tidak takut pada keluarga Spare karena telah menyakiti Victor, maka apakah kamu tidak takut pada keluargaku?"


Keluarga Joana tentu saja di anggap keluarga kalangan atas yang bisa di bilang seimbang dengan Spare, maka dari itu Jian tidak takut menyinggung Victor. Walaupun awalnya keluarga Joana pernah bangkrut, tetapi Jian memulainya kembali dari awal. Tidak di duga semua keluarga kalangan atas lainnya, perusahaan Joana berangsur-angsur bangkit dan sukses. Tidak ada yang berani menyinggung Jian semenjak itu.


Yang hanya Victor rasakan saat ini adalah tangan Valerie yang memegangnya bergetar. Ia hanya bertanya-tanya, apakah dia takut? Jika takut, mengapa dia tidak berlari dan malah menghadapi mereka untuknya?


Mereka semua terkejut mendengar nada arogan Valerie. Sean mengernyit dengan perasaan buruk. "Siapa keluargamu?"

__ADS_1


"Tentu saja Joana. Jika putri Joana di singgung, apakah kalian yakin perusahaan keluarga kalian akan baik-baik saja?"


Mereka tertegun bersamaan. Mata mereka menatap Valeria lamat-lamat. Sangat tahu, putri Joana jelek, gendut, dan bertemperamen menjijikkan, lalu siapa di depan mereka sekarang? Wanita yang berbeda 180° dari yang di rumorkan. Sangat cantik dengan badan ramping, temperamennya terlihat lembut walaupun saat ini menunjukkan ekspresi arogan.


Suara Valeria yang lembut, namun kejam terdengar lagi. "Victor adalah suamiku, jika kalian menggertaknya, itu sama saja dengan menggangguku. Ayahku paling memanjakanku, jika tahu putrinya di gertak, aku tidak yakin kalian akan memiliki akhir yang baik, bukankah begitu?"


Sean menggertakkan gigi. Victor sudah tidak melawan yang membuatnya puas, namun sekarang seorang wanita tiba-tiba datang yang merupakan putri keluarga Joana. Ia hanya bisa menekan amarahnya.


Sean menurunkan Lucher dan berkata kepada semua temannya. "Ayo pergi."


Setelah mereka pergi, Lucher berlari ke arah Victor, memeluk kakinya dan menangis tampak ketakutan. "Ayah ... hiks, ayah sakit ... ayah di pukul."


Ekspresi tegang dan ketakutan Lucher berangsur-angsur rileks. Ia hanya sesenggukan dan menatap Valerie dengan mata besarnya. Valerie mengusap air mata di pipinya dengan senyum hangat. Atensi beralih pada Victor. Ia ingin memeriksa luka-luka Victor, namun karena menggendong Lucher ia kesulitan. Jadi, ia hanya bertanya. "Di mana saja mereka memukulmu?"


Kedinginan di wajah Victor sedikit menghilang. Tetapi ada ejekan dalam nadanya. "Kamu terlambat."


Valerie merasa bersalah. Ia juga berpikir begitu. Andai saja ia datang lebih awal, Victor tidak akan mengalami ini. Suaranya lebih lembut. "Maafkan aku. Seharusnya aku datang lebih awal."

__ADS_1


Victor menjadi kesal. Dia tidak melihat penampilannya yang melawan mereka, Valerie malah datang di saat memalukan. Ia mendengus tidak puas. "Ketika aku melawan mereka, kamu tidak melihatnya."


"Hah?" Valerie merasa linglung.


"Bahkan jika aku buta, mereka bukan lawanku." Nada suaranya arogan.


Valeria akhirnya mengerti apa yang dia maksud. Apakah pria ini sombong dan pamer padanya? Ia merasa geli dan tidak berdaya. Tiba-tiba matanya menangkap tangan Victor yang berdarah. Mata Valerie melebar dengan kecemasan. "Victor! Tanganmu berdarah!"


Victor acuh tak acuh. "Aku tidak berhati-hati. Ini hanya sedikit tergores."


"Ini luka besar! Kita harus ke rumah sakit sekarang!" Valerie semakin cemas.


"Apakah kamu tahu bahwa aku tidak suka di sentuh oleh orang lain?" Victor tidak sabar.


Valerie tertegun sejenak. Ia lupa bahwa pria ini tidak suka di sentuh oleh orang lain. Melihat bibirnya yang mengerucut, ia menghela nafas dan berkata lembut. "Baiklah, kalau begitu aku saja yang membalut lukamu, oke? Jangan menolak. Apakah kamu akan membiarkan tanganmu berdarah-darah seperti itu?"


"Hanya luka kecil," kata Victor malas.

__ADS_1


"Tapi tetap saja menyakitkan," bisik Valerie. "Dan aku merasa tidak nyaman ketika melihatnya."


Victor hanya diam. Valerie mengambil lengan Victor dengan satu tangan. "Ayo pergi."


__ADS_2