
Di sebuah ruangan gelap gulita, seorang pria terbaring lurus di ranjang abu-abu gelap. Beberapa saat kemudian, Victor membuka matanya dan memindahkan tubuhnya ke tempat Valerie tidur sebelumnya. Merasa tidak cukup, Victor membalikkan tubuhnya dan berbaring di tempat tidur dengan wajah menempel pada sprei. Lalu ia menutup mata mencoba tidur.
Tiba-tiba suara pintu terbuka terdengar di keheningan. Dan lampu langsung menyala. Suara seseorang datang. "Kenapa panggilanmu terlalu banyak? Apakah kau tahu bahwa aku sedang berkencan dengan pacarku."
Rambut Ethan berantakan. Saat ia sedang tidur dengan pacarnya, banyak panggilan telepon dari pasiennya ini. Malam yang indah harus berakhir.
Victor bangun dan duduk di tempat tidur. "Aku tidak bisa tidur."
"Kau memanggilku hanya karena itu?"
"Sepertinya aku butuh seseorang untuk di ajak ngobrol denganku."
Ethan tertawa marah dan kesal. Ia hanya ingin melemparkan kotak obat di tangannya ke wajah Victor. Masalahnya, ini tengah malam.
Ethan berjalan mendekat dan memeriksa mata Victor. "Apakah matamu kesemutan lagi?"
Victor bersenandung. "Hm."
"Terakhir kali aku datang untuk memeriksamu, bukankah kau berkata bahwa matamu tidak sakit lagi? Aku kira itu sudah lebih baik." Ethan tidak mendeteksi adanya perubahan. "Kenapa sekarang bisa sakit? Apa yang kau makan baru-baru ini?"
"Aku marah karena tidak bisa makan kue kesukaanku selam dua hari," balas Victor santai.
Tahan, Ethan. Kau tidak bisa membunuh pria tidak masuk akal ini, batin Ethan dengan jengkel.
"Apakah ada yang lain?"
Victor diam sejenak. Lalu tiba-tiba berkata. "Aku telah mengusir Valerie."
Ethan terkejut. Pantas saja ia tidak melihat wanita itu di sini. Namun bukankah Victor peduli pada Valerie dan memintanya untuk membalut tangan Valerie yang terluka? Dan sekarang tiba-tiba mengusirnya? Ethan merasa bingung.
Ethan melambaikan tangan. "Ini tidak ada hubungannya dengan Valerie. Aku bertanya tentang sesuatu yang memengaruhi matamu."
"Ada hubungannya. Aku harus tidur dengan Valerie."
Ethan hampir tersedak oleh air liurnya sendiri.
"Sebelumnya, jika aku mencium bau tubuhnya, maka mataku yang perih akan mereda. Dan jika aku memeluknya untuk tidur, mataku tidak akan sakit lagi."
Ethan terbelalak terkejut. "Jadi maksudmu, rasa sakit di matamu akan kembali datang jika Valerie tidak tidur denganmu?"
"Ya."
__ADS_1
Ethan berpikir sejenak seraya memegang dagunya. "Mungkin ... mungkin saja aroma tubuhnya cocok dengan indra penciumanmu, dan itu bisa mengendurkan saraf atau mengatur suasana hatimu. Tanpa tekanan mata, tidak ada kesemutan?"
Ethan kurang yakin dengan kesimpulannya. Namun, ini juga hal yang baik. Bagaimanapun, bukanlah hal baik jika Victor menggunakan banyak obat untuk menghilangkan rasa sakit di matanya yang datang setiap malam.
"Lalu kenapa kau malah mengusirnya?" tanya Ethan dengan heran. Valerie bisa menjadi obat penghilang rasa sakit Victor, namun kenapa dia dengan santai mengusirnya?
"Pada saat itu, dia tidak menyenangkan."
"Kau buta, bagaimana mungkin kamu bisa melihat bahwa dia tidak menyenangkan di matamu?" Ethan memutar matanya. "Lalu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? Apakah kamu ingin aku meresepkan lagi obat penghilang rasa sakit, atau kau akan membawa Valerie kembali?"
Melihatnya diam, Ethan berkata lagi. "Kamu telah mengusirnya. Dan bahkan jika kamu ingin dia kembali, wanita itu mungkin tidak mau. Lupakan saja, biar aku resepkan obat untukmu. Meskipun tidak terlalu efektif, setidaknya bisa membuatmu tidur."
Victor bergeming dan mengatupkan bibirnya erat.
***
Hidup Valerie sangat nyaman di keluarga Joana. Ayahnya memanjakannya, ibunya membelikan apapun yang di inginkannya, adiknya melindunginya. Keluarga yang hangat inilah yang selalu Valerie impikan. Hanya saja, sakit kepalanya semakin parah dari hari ke hari. Dan suara dering itu terus datang.
Setial Valerie akan tidur, ia harus mendengarkan lagu untuk menyumbat telinganya menutupi suara berisik itu. Semakin lama, Victor semakin marah sampai nilainya mencapai lebih dari sepuluh.
Valerie benar-benar tidak tahu apa yang membuatnya marah, masalahnya ia sedang berada di rumah ini dan tidak ada cara untuk membujuknya. Selain itu, ia tidak mau berinisiatif untuk kembali ke ruang Victor. Pria itu sudah mengusirnya, dan Valerie ingin dia pria itu sendiri yang membujuknya untuk pulang!
Tiba-tiba, ponselnya yang berada di atas meja berdering. Valerie mengambil benda itu, dan itu nomor asing karena tidak ada nama di atasnya. Ia langsung mematikan telepon tanpa berfikir. Dulu ia sering menerima panggilan pelecehan dari orang yang tidak menyukainya sebagai model, dan ia mempunyai kebiasaan untuk langsung menutup telepon dari orang asing.
Valerie tercengang. Rasa yang lebih sakit menusuk kepalanya.
Di tempat Victor berada, ekspresi pria itu sangat dingin. Mendengar suara mekanis pengingat suara, ia tahu bahwa Valerie menutup teleponnya.
Lucher berdiri di samping dengan mata tertuju pada ayahnya. Ia bertanya sedih. "Ayah, apakah dia menjawab telepon?"
"Tidak." Victor mendengus kesal dan menelepon lagi.
Setelah beberapa detik, suara lembut seorang wanita datang. "Hallo?"
Victor mengeratkan pegangan teleponnya. Ia berkata rendah. "Ini aku."
Di sisi lain, Valerie sangat terkejut. "Victor?"
"Ya. Di mana kamu sekarang?"
Valerie berjalan keluar dari balkon. "Ada apa?"
__ADS_1
"Valerie, kamu di mana sekarang?" tanya Victor ulang dengan suara sabar.
Matahari hangat menimpa wajahnya. Valerie menatap langit biru yang cerah. Ia mengulum senyum karena ia sedikit menebak apa yang pria itu pikirkan. "Aku di rumah. Kenapa? Apakah kau merindukanku?"
Telepon langsung di tutup. Valerie menatap ponselnya dengan mata tidak percaya. Apa maksudnya menanyakan keberadaannya? Awalnya ia akan membujuk agar tidak marah dan menggodanya, telepon yang di tutup tiba-tiba membuat Valerie jengkel.
Riana melihat putrinya yang berekspresi kesal saat keluar dari kamarnya. Ia bertanya. "Apa yang membuat wajahmu kesal?"
Valerie mendekati ibunya dan menjawab jujur. "Tadi suamiku menelepon."
Riana terkejut. "Apakah dia mendesakmu untuk kembali?"
Valerie menggeleng sedih. "Tidak. Dia hanya menanyakan keberadaanku."
"Lalu?"
"Dia tidak bertanya apapun lagi dan langsung menutup telepon." Valerie mengerucutkan bibirnya.
Riana mengulum senyum. "Sepertinya kamu sendiri yang merindukannya."
Valerie berwajah malu. "Tidak. Aku masih kesal padanya."
Riana hanya menggelengkan kepala dan tersenyum.
"Bu, aku bosan. Maukah ibu membantuku membuat kue?"
Riana mengangguk semangat. "Tentu saja."
"Ayo!" Valerie tersenyum cerah. Ia menggandeng lengan ibunya dan menariknya menuju dapur.
Riana tertawa dan mengikuti putrinya.
Hanya dalam beberapa menit, dapur sedikit berantakan. Bahan-bahan kue berserakan. Ibu dan anak-anak itu tertawa bercanda sembari membuat kue. Tentu saja kue yang Valerie buat adalah kesukaan Victor. Sayang sekali pria itu tidak ada di sini sehingga tidak bisa memakan kue buatannya.
Saat kuenya siap jadi, tiba-tiba telepon di saku Valerie berdering lagi. Ia membuka sarung tangan plastik yang berlumuran kotor oleh bahan kue dan mengambil telepon. Valerie melihat nomor itu adalah nomor Victor tadi.
"Apakah suamimu?" tanya Riana penasaran.
Valerie memandang ibunya dan mengangguk. Ia mengangkat telepon. "Victor? Ada apa?"
"Aku di depan pintu rumahmu! Keluarlah!" Suara kekanak-kanakan Lucher datang dengan semangat. "Aku dan ayah datang untuk membawamu pulang!"
__ADS_1
Valerie tertegun dengan mata membulat. Victor datang ke rumahnya untuk menjemputnya pulang? Apakah ia sedang bermimpi?
Riana yang bisa mendengar suara di seberang hanya tersenyum hangat. "Keluarlah dan bawa mereka masuk."