
Pada pagi hari, sinar matahari menyinari kaca transparan di bangsal. Di luar jendela, sesekali ada suara burung yang berkicau.
Di ranjang rumah sakit, Victor membuka mata. Ia bangun jauh lebih lambat daripada biasanya.
Merasakan sesuatu yang hangat mengganjal di pelukannya, Victor menunduk. Kepala Valerie terus menggali seolah tidak cukup, rambut hitam menyentuh wajahnya dari waktu ke waktu membuat Victor gatal. Ia mencengkeram pinggang yang di peluk.
Victor merasa ada yang berbeda. Mengapa pinggang wanita ini lebih tipis daripada tadi malam? Tangannya yang besar mengukurnya lagi, bagaimana bisa menjadi sangat kurus?
Victor agak jengkel. Valerie bisa kurus terlalu cepat, ia agak tidak senang karena jika ia memeluknya tidak senyaman saat tubuhnya lebih gemuk.
Namun yang terpenting, aroma susu itu membuat tidurnya sangat nyenyak sepanjang malam. Perasaan memeluk tubuhnya yang harum tidak buruk. Bibir Victor melengkung.
Pada saat ini, Valerie bergerak-gerak, pipinya bergesekan dengan dada Victor, tangannya melilit erat pinggang pria itu, dan seluruh tubuhnya seolah bersatu dengan Victor. Mungkin karena terlalu banyak bergerak, keliman pakaiannya terangkat tidak sengaja.
Telapak tangan Victor secara tidak sengaja menyentuh kulit pinggangnya, ujung jari menggosoknya, Victor agak terkejut. Telapak tangan menyentuh sepenuhnya. Kenapa begitu halus dan lembut?
Victor mencengkeram dan menyentuhnya lagi, sentuhan lembut membuatnya menikmatinya.
Valerie terbangun karena rasa sakit dan geli di pinggangnya. Ia membuka matanya yang mengantuk dengan di sambut dada lebar. Ia mengerjap. Sesuatu yang menyentuh pinggangnya terus ia rasakan, Valerie mengangkat kepalanya. Ia melihat jakun menonjol yang seksi, dagu yang sempurna, dan bekas luka yang tidak rata di sisi wajahnya.
Valerie tertegun. Ia.. tidur di pelukan Victor?
"Bangun?" Suara serak dan malas terdengar di atas kepalanya.
Valerie sangat terkejut sehingga ia ingin menjauh darinya. "Ma-af.. aku tidak sengaja.."
Valerie menunduk dan melihat tangan Victor yang masih menyentuh pingganganya. "Bisakah kamu melepaskan tanganmu?"
Victor malah bermain-main membuat Valerie malu dan semakin geli di pinggang yang di pegang pria itu. "Kenapa kamu mencengkeramnya? Itu tidak nyaman."
Victor merasa kesal. Ia tidak mau melepaskan, karena ia merasa pinggang Valerie sangat lembut dan menyenangkan.
"Kamu lah yang berinisiatif memelukku tadi malam, kamu juga juga yang berisnisiatif memanfaatkanku." Victor tersenyum menyipit. "Kamu sudah pernah berkata bahwa kamu berjanji untuk tidak menganggu tidurku, namun hampir setiap malam kamu mengingkarinya dan memelukku. Kenapa kamu sangat enggan saat aku menyentuhmu? Bukankah itu tidak adil?"
"Aku.. aku.." Valerie tersipu malu. Ia tidak tahu harus berkata apa untuk menyangkal kata-katanya.
Valerie menggigit bibirnya tanah daya. Ia hanya bisa diam-diam menatap Victor. "Kamu.. boleh menyentuh, tapi hanya pinggangku saja."
Victor mengangkat alis. Tiba-tiba saja ia ingin menggodanya. "Tidak bisakah menyentuh yang lain?"
Valerie memelototinya dengan wajah semakin memerah. "... Yang lain apa?"
Tangan Victor yang masih di pinggang merayap ke punggungnya yang halus. "Mungkin ini?"
Valerie merasa seolah tersengat listrik karena sentuhannya. Ia mencoba melepaskan tangannya dan menjauh. Tergagap malu. "Kamu.."
Saat Valerie manjauh, tangan Victor terlepas. Ia merasa kosong saat kulit lembut itu tidak lagi berada di telapak tangannya.
Valerie langsung berlari ke kamar mandi tergesa.
__ADS_1
Valerie meredakan rasa malunya saat tiba di kamar mandi. Ia semakin menyadari pria ini sangat tidak tahu malu!
Setiap pagi Valerie bercermin, selalu ada perbedaan mencolok dari hari sebelumnya. Dan pada saat ini, ia benar-benar jauh lebih baik.
Matanya yang besar cerah, jika menangis maka akan terlihat sangat menyedihkan. Kulitnya hampir sepenuhnya putih dan cerah. Fitur wajahnya halus dan pucat, terlihat sangat cantik. Valerie tidak tahu secantik apa dirinya nanti.
***
"Mengapa kamu tidak makan?" tanya Valerie seraya menatap Victor yang hanya memainkan sendok.
"Tidak ada kue."
Valerie kira, setelah Victor alergi karena kue buatannya kemarin, dia tidak menginginkan kue mangga sementara waktu. Namun, tidak menduga dia ingin kue sekarang.
Tiba-tiba Victor menoleh dan berkata mencibir. "Ah, kamu pikir aku takut kue mangga karena kue kemarin, huh?"
Tepat sekali. Valerie menatapnya diam. Sepertinya ia meremehkan kecintaan Victor pada kue itu.
"Tidak ada penjual kue di sekitar sini. Mungkin kamu akan memakannya setelah pulang dari rumah sakit."
Valerie tidak yakin jika ia membuatnya. Apakah Victor akan memakannya setelah alergi itu? Apalagi, tidak ada tempat untuk membuat kue.
"Aku ingin memakannya sekarang," tekan Victor bersikeras.
Valerie menghela nafas dan melembutkan suaranya. "Victor, bintik merah di wajahmu belum sembuh, apakah kamu ingin menambah bintik merah lagi dan membuat wajahmu jelek? Selain itu, ku dengar kamu tida bisa makan kue untuk sementara waktu."
"Apakah itu benar atau tidak, aku mengkhawatirkanmu." Valerie menambahkan dengan serius. "Kamu terlihat sangat tampan, jika bintik merah itu bertambah, aku khawatir ketampananmu terhalangi."
Akhirnya Victor diam. Ia hanya mengaduk bubur dan tidak meminta lagi kue.
Valerie tersenyum diam-diam.
"Aku mendengar sebelumnya bahwa dokter meresepkan obat. Setelah sarapan, kamu harus mengolesiku." Suara Victor datang tiba-tiba. Ia menyentuh pipinya dan memerintah. "Jangan lupa untuk membelikanku kue besok."
Valerie hampir tersedak oleh bubur.
***
Setelah sarapan Victor sudah terbaring dan menunggu Valerie menaruh obat padanya. Valerie yang memegang salep yang di resepkan dokter mendekat ke arah Victor.
"Tutup matamu. Aku takut aku tidak sengaja mengenai obat ini pada matamu."
"Merepotkan."
Setelah membuka tutupnya, Valerie mengambil salep putih dengan ujung jarinya. Ia mengulurkan tangan ke wajah Victor, dan dengan hati-hati mengoleskan salep ke titik merah.
Victor tahu bahwa Valerie sangat dekat saat ini. Ia tidak hanya mencium aroma tubuhnya, namun nafasnya yang hangat menyemprot ke wajahnya.
Setelah beberapa saat, Valerie bertanya. "Apakah masih gatal?
__ADS_1
Victor tidak menjawab karena malas. Namun, di detik berikutnya ia merasakan dia meniup wajahnya beberapa kali. Suara lembut menyapa lagi. "Apakah ini lebih nyaman?"
Victor mengepalkan tangannya. Ia merasa gatalnya semakin bertambah. Tidak hanya di wajah, namun pinggang dan perut. Victor mengerutkan kening.
Setelah menyelesaikannya, Valerie mengingatkan. "Jangan menyentuh bagian yang sudah di olesi salep nanti."
Valerie meletakkan salep dan hendak mencuci tangan, namun tiba-tiba Victor berkata. "Tubuh dan tanganku juga."
"Hah? Tubuhmu?" Valerie bingung.
"Kenapa tidak?"
Victor merasa nyaman saat Valerie mengolesinya obat. Ia tersenyum. "Apakah kamu ingin aku sebagai orang buta mengolesinya sendiri?"
Victor membuka satu persatu kancingnya memperlihatkan dadanya yang lebar.
Valerie menarik nafas dalam-dalam dan merutuk. Pria ini!
Valerie mencoba setenang mungkin. Ia mengambil salep kembali dan mendekat. Valerie mengulurkan tangan. Saat ujung jarinya menyentuh dadanya yang dingin, Valerie gemetar. Ia menahan malu, apalagi kontak keduanya begitu dekat.
Victor sedikit mengeraskan rahang karena sentuhannya. Ia merasa semakin gatal saat jari lembut itu mengusap dadanya. "Kenapa gerakanmu sangat lemah?"
Valerie yang tengah gugup, langsung merasa kesal. "Berhentilah berbicara."
Victor mengangkat alis dengan acuh tak acuh.
Saat Valerie mengambil salep lagi. Detik berikutnya, ia tak sengaja menyentuh titik sensitifnya.
Victor mendengus rendah dengan tubuh menegang.
Valerie sangat takut sehingga menarik kembali tangannya. "Ap-akah aku menyakitimu?"
"Tidak." Victor berkata lugas. "Apakah kamu tahu bahwa tempat yang kamu sentuh merupakan titik sensitif pria? Apakah kamu menggodaku?"
Valerie memerah dan memelototinya. "Siapa yang menggodamu! Kamu sendiri yang memintaku mengoleskan obat padamu!"
"Aku memang memintanya, lalu mengapa kamu menyentuhnya di sana?"
"Ak-u.. aku tidak sengaja!" sanggah Valerie keras dengan wajah semakin memerah.
"Oh, ya?"
"Berhentilah menggodaku!" cetus Valerie. Ia meletakkan salep itu di tangan pria itu. "Oleskan sendiri! Aku akan keluar sebentar!"
Tanpa menunggu jawabannya, Valerie langsung melenggang pergi keluar.
Victor yang di tinggalkan, menggenggam salep itu erat. Sudut mulutnya melengkung. "Apakah aku menggodanya?"
Di bangsal hening itu, suara tawa rendah dan magnetis pria itu terdengar jelas.
__ADS_1