
"Tidak! Kamu tidak perlu membukanya! Kamu boleh memelukku!"
Victor membuka kancing terakhir dan berkata sembari menyeringai. "Telanjur."
Valerie memalingkan muka saat dia membuka baju. Lalu ia buru-buru terbaring dan mengambil selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya tanpa peduli semakin gerah. "Kamu tidak boleh memelukku!"
Tawa rendah terdengar di belakangnya. Valerie menutup mata dengan erat dan hanya merasa pengap karena kepanasan oleh selimut. Namun ia merasa jauh lebih baik bertahan dari pada melihat sesuatu yang memalukan.
Hanya saja, usahanya sia-sia. Sesuatu menyelinap ke dalam selimut, sebuah tangan melingkari pinggang ke perutnya, dan dada telanjang bersuhu dingin menempel di punggungnya. Valerie menegang, namun suhu tubuhnya yang dingin membuatnya nyaman dan tidak bisa ia tolak.
"Aku tidak bohong, kan?" Suara magnetis terdengar jelas di telinganya. Nafasnya yang panas beresmbus ke telinga membuat Valerie merinding. "Selimut ini sangat menganggu. Bolehkan aku menyingkirkannya?"
Valerie mengangguk dan tidak berani membuka mata. Lalu selimut itu di singkirkan membuat Valerie bernafas lega karena rasa dingin yang menyerbu ke tubuhnya yang gerah.
Tangan yang sudah menyingkirkan selimut tak sengaja jatuh ke pahanya. Valerie gemetar dan semakin menegang. "Kenapa ... Kenapa kamu menyentuhnya. Singkirkan tanganmu ...."
Tangan itu berlama-lama di sana, dan bahkan membelainya dengan sengaja membuat Valerie semakin gemetar. Suhu badan orang di belakang yang di halangi kain tipis bajunya berangsur-angsur panas, Valerie menjadi berkeringat karena semakin kepanasan. Nafas hangat jatuh ke lehernya, suaranya yang rendah terdengar dari belakang. "Mengapa kamu tidak memakai celana piyamamu? Apakah kamu mengujiku?"
Wajah Valerie memerah. "Apa yang kamu katakan! Jangan bicara omong kosong! Aku hanya merasa gerah dan sengaja memakai pakaian ini!"
Victor tertawa membuat Valerie kesal. "Kamu sangat menyebalkan! Jangan memelukku! Tubuhmu terlalu panas!"
Victor menarik tangannya dan meletakkan kembali di pinggang Valerie untuk memeluknya lebih erat. Dagunya bertumpu di bahu wanita itu. "Jangan marah, nanti juga kamu akan terbiasa. Dan kamu akan mengalami sesuatu yang panas lebih dari ini."
__ADS_1
Valerie menutup mata dan tidak bergerak seperti mayat hidup untuk menolak mendengar sesuatu yang memalukan.
***
Keesokan paginya, Victor terbangun terlebih dahulu. Tubuh orang di pelukannya yang awalnya membelakangi, kini menghadapnya. Rambut halus Valerie menggelitik dagunya membuat Victor geli dan gatal.
Victor membuka mata. Sebelumnya, ia bisa melihat sedikit cahaya, namun sekarang apa yang lihat menjadi putih dan berkabut, dari pada hanya cahaya yang tidak jelas, ini terasa lebih baik.
Benar saja, matanya akan berubah karena ciuman itu.
Victor menunduk dan mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah Valerie. Tidak seperti kulit halus sebelumnya, bagian wajah yang terkena asma sulfat kini ada bekas luka dangkal dan tidak rata, ada juga sedikit koreng yang agak keras.
Victor mengerutkan kening. Semua ini terjadi karena menyelamatkannya. Valerie selalu mengeluh Jika merasakan rasa sakit sekecill pun, tidak heran dia menangis menyedihkan saat itu. Memikirkannya, entah kenapa Victor merasa kesal kepada dirinya sendiri.
Valerie terbangun oleh rasa sakit di daun telinganya. Ia membuka mata dengan kabur dan mendongak menatap orang di depannya.
"Bangun?"
"Apakah kamu menggigit telingaku?" tanya Valerie seraya menyentuh telinganya yang agak basah.
"Ya," balasnya tanpa bersalah.
Valerie melototinya. "Apakah kamu serangga? Mengapa menggigitku?!"
__ADS_1
"Karena kamu sangat bodoh."
Valerie menatapnya marah. "Apa masalahmu?!"
"Tidak ada. Aku hanya ingin menciummu."
Valerie menarik nafas untuk menekan kejengkelannya. "Tentu saja jawabanku tidak! Kamu telah menyebutku bodoh! Aku sangat kesal!"
"Baiklah. Aku minta maaf." Victor menarik tubuh wanita itu ke pelukannya.
Valerie tersipu saat bagian atas tubuhnya jatuh ke dada telanjang Victor yang keras dan berotot. "Itu tidak membuatku lebih baik!"
Victor menunduk dan menutupi bibir lembutnya yang mengerucut dengan bibirnya yang dingin. Bagaimana ia menciumnya, seolah memakan permen yang manis.
Victor menjauhkan wajahnya dan berbisik. "Apakah kekesalanmu sudah hilang, bodoh kecilku?"
Valerie tercengang dengan wajah memerah. Ia langsung mendorong dadanya dan berlari cepat ke kamar mandi.
Victor tertawa mendengar langkah kakinya menjauh, lalu di ikuti suara pintu kamar mandi yang terbanting menutup.
"Kamu sangat bodoh sehingga membuatku semakin ingin mencengkerammu ke dalam pelukanku."
***
__ADS_1
Makasih udah bertahan buat baca cerita ini walaupun up nya lama. Btw, aku dpt pekerjaan lagi, jadi upnya gak bisa tiap hari karena sibuk, makasih udah mau baca hehe.