
Ketiga anggota keluarga kecil pada saat ini tengah bersiap-siap. Valerie mengemas dua set pakaian untuk Lucher dan menjejalkan ke dalam tasnya. Sedangkan untuk Victor, ia mengambil pakaian kasual. Kemeja putih dan celana hitam panjang. Tentu saja pria itu terlihat lebih muda dan cerah saat memakai yang putih. Jika mengabaikan bekas luka di wajahnya, maka dia terlihat sangat tampan.
Walaupun tidak bisa melihat, Victor tahu bahwa pakaian bagian atas tubuhnya tidak sama seperti biasanya. Ekspresinya menjadi tidak senang. Tetapi, Valerie tidak peduli. Ia memandang penampilan pria itu dengan puas.
Valerie mengambil Sunblok atau tabir surya dan memakainya. Walaupun kulitnya sudah cerah, tetapi kecintaannya pada kecantikan tidak memungkinkan mencegah sinar matahari merusak kulit.
Setelah itu, Valerie mendatangi Victor dan berkata. "Sepertinya kamu tidak suka memakai pakaian ini? Tapi aku dan Lucher memakai kemeja putih saat ini, dan jika kamu memakainya juga, itu akan terlihat sangat cocok. Kamu terlihat lebih muda dan dewasa. Jika kamu memakai pakaian hitam, teman-temanku mungkin akan bertanya-tanya bagaimana aku menikah dengan lelaki tua." Valerie membual dan sengaja menggodanya.
Valerie tidak serius, karena Victor sama sekali tidak tua. Dia memiliki ketampanan, dan ketika wajahnya tidak lugas, dia memiliki kecerobohan dan kesombongan seperti remaja. Terlihat awet muda.
Alis Victor langsung mengerut saat mendengar kata-katanya. Ia berujar lugas. "Valerie, aku hanya lima tahun lebih tua darimu."
Valerie berusia dua puluh satu, dan Victor dua puluh enam tahun.
"Tapi itu cukup jauh. Saat kamu berusia tiga puluh tahun, aku berumur dua lima. Kamu sudah menjadi pria tua saat berusia lima puluh tahun, tapi aku yakin, aku masih cantik saat umurku menginjak empat puluh lima tahun." Valerie memeras sunblok ke ujung jarinya. Lalu ia membungkuk mendekati Victor dan mengoleskan ke wajahnya.
Victor agak tersentak saat merasakan sentuhannya yang tiba-tiba. Ia langsung menggenggam pergelangan tangan Valerie. "Apa yang kamu lakukan?"
"Aku mengoleskan tabir surya untuk. Matahari cukup cerah pagi ini, Dan akan semakin terik pada siang hari nanti. Jika kamu tidak mau memakainya untuk perawatan, aku akan tetap cantik, dan kamu sudah menjadi orang tua nanti," balas Valerie dengan candaan. Merasakan pergelangan tangannya yang sakit, ia mengernyit. "Victor, kamu membuat tanganku sakit."
Victor langsung melepaskannya dan mengernyit jijik. "Omong kosong."
Valerie cemberut dan memelototinya. Tetapi melihat dia tidak keberatan, Valerie melanjutkan dan terus mengoleskan krim putih itu ke wajahnya dengan ujung jari. Ketika ia mendekat, Valerie melihat bahwa kulit wajah di sisi kanannya tanpa bekas luka sangat baik. Karena dia sering tinggal di dalam ruangan, coraknya pucat, pori-porinya sedikit, alisnya tinggi, rongga matanya dalam, membuatnya terlihat luar biasa.
Victor bersandar di sofa. Ia bisa merasakan ujung jari yang agak panas menyentuh wajahnya. Kemudian, telapak tangannya uang lembut menggosok wajahnya. Victor menunduk.
__ADS_1
Ketika tangan Valerie menyentuh belas luka di sisi kiri wajah, Victor menegang dengan kejutan, ekspresi malasnya lenyap, dan bahkan alisnya menajam. Victor tahu bahwa tatapan Valerie jatuh pada bekas lukanya. Karena jaraknya dekat, ia bisa merasakan nafasnya yang hangat. Dengan ini, Valerie pasti melihat langsung bekas lukanya dari jarak sangat dekat.
Victor langsung teringat keluhan Valerie sebelumnya. Dia mengatakan bahwa bekas luka di wajahnya seperti serangga bengkok. Hanya dalam sekilas melihatnya, dia tidak nafsu makan sama sekali. Saat itu, Victor hanya ingin mencekik wanita itu. Dan ia memperlakukannya sebagai transparan. Tetapi pada saat ini ....
"Apakah itu menjijikkan?" Pertanyaan itu keluar dari mulutnya tanpa sadar.
Gerakan Valerie langsung berhenti, dan ia tahu apa maksudnya. Valerie melihat kembali bekas lukanya, dan itu belum pulih sepenuhnya. Masih ada sedikit nanah yang keluar membuat siapapun mual. Tetapi, Valerie sendiri sama sekali tidak merasakan jijik.
Tidak mendapatkan jawabannya, Victor mencibir. Ia akan mengatakan sesuatu, tetapi jawaban lembut Valerie berembus ke wajahnya. "Tidak."
Victor terkejut. Tiba-tiba ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Entah kenapa, hatinya di penuhi semacam kelegaan dan kegembiraan yang aneh ....
***
Matahari pagi bersinar cerah. Chelsea memegang sebuah nampan yang berusia sarapan yang di buatnya. Ketika ia berjalan ke hutan bambu, ia melihat Valerie memegang Lucher dengan satu tangan, dan Victor dengan tangan lainnya.
"Aku akan bermain dan melakukan perjalanan!" Lucher bergegas menjawab.
Wajah Chelsea lebih terkejut. Tangan yang memegang nampan menegang. "Perjalanan?"
Valerie melirik makanan yang di bawa Chelsea dan tersenyum. "Nona Chelsea datang lebih awal."
Chelsea menahan kejanggalannya dan bertanya lembut. "Kalian akan berjalan-jalan ke mana?"
"Kegiatan kampus," balas Valerie.
__ADS_1
"Sayang sekali, aku sudah menyiapkan sarapan untuk Victor ...."
Mengapa Victor bersedia bepergian dengan Valerie? Tatapan Chelsea jatuh pada Valerie. Melihat wajahnya lebih cantik dan mempesona dari hari ke hari, hatinya langsung tenggelam. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan sahabat prianya itu, dan mengapa dia menjadikan Valerie menjadi antagonis yang sangat cantik dan indah. Untungnya Victor buta. Secantik apapun dia, mata Victor akan tetap gelap.
Tetapi, bagaimana jika mata Victor pulih? Chelsea hanya merasa hatinya terganggu dan tenggorokannya tercekat.
"Bawa pergi kembali sarapan itu. Walaupun aku tidak akan bepergian hari ini, aku tetap tidak akan memakannya. Apakah kamu tidak melihat bahwa kami sedang terburu-buru?" kata Victor sedingin biasanya.
Chelsea mencengkeram nampan itu erat. Valerie yang menyaksikan hanya tersenyum dalam hati. Sepertinya ia tidak perlu repot-repot menghadapi wanita ini, karena ucapan Victor cukup untuk membuat Chelsea minder.
"Baiklah, Nona Chelsea. Maaf, sepertinya suamimu tidak bisa menerima sarapanku. Kami sedang terburu-buru. Terima kasih atas kebaikanmu." Valerie langsung berjalan membawa Lucher dan Victor melewati Chelsea.
Sampai mereka bertiga menghilang, ekspresi wajah Chelsea langsung retak. Ia melepaskan nampan itu sehingga jatuh ke tanah.
Prang.
Mangkuk langsing terbelah menjadi beberapa bagian, makanan dan cemilan di dalamnya berserakan. Seharusnya orang yang di sukai Valerie adalah Javier, tetapi mengapa dia terlihat tidak peduli?
Adapun Victor, awalnya Chelsea berpikir bahwa ia bisa membuatnya berubah. Lagi pula, orang buta dengan wajah cacat dan jelek selalu di kritik dan di hina sehingga dia hanya bisa diam di pojok, hatinya lebih rapuh dan dia merindukan perhatian orang lain. Pada saat itu, Chelsea berpikir terbaik untuk menjangkau, membantunya, menjaganya, merawatnya dengan lembut, dan dia pasti akan jatuh cinta pada dirinya.
Namun, saat ini Chelsea cukup menyadari bahwa Victor lebih sulit di dekati daripada yang ia kira. Sepertinya ia harus berjuang lebih keras untuk mengambil hatinya.
***
Aku bakal up tiap hari kalo ada halangan, karena aku udah gak kerja. Kalo mau tahu cerita aku di berhentikan kerja, baca aja cerpen aku yang berjudul '#Ramadhan: Hari kerja pertamaku!'😁 Ini cerita aku sendiri ya, bukan fiksi.
__ADS_1
___