Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 83


__ADS_3

"Alta, apakah kamu tahu apa yang kamu bicarakan?"


Alta memasukan kedua tangan ke dalam saku celananya dengan santai. Awalnya, ia hanya ingin bermain-main dengan putri tertua ini untuk waktu yang lama, namun mendengar keadaan sekarang, sepertinya kurang bagus. "Kamu punya uang sendiri, sedangkan aku mempunyai apa-apa untuk menghidupi anak itu. Jangan temui aku lagi atau meminta tanggung jawab."


Tiba-tiba Rea menjadi tidak mengenali pria yang di sebut pacar di depannya.


Di saat hatinya masih merenungi rasa sakit, Rea melihat Alta mengeluarkan ponsel dan mengklik gambar memperlihatkan sebuah foto telanjangnya. "Saat pertama kali di hutan itu, aku mengambil fotomu dan sampai saat ini masih menyimpannya. Aku butuh uang akhir-akhir ini, jika kamu ingin aku menghapusnya, tolong bayar aku."


Melihat beberapa foto itu, wajah Rea memucat. Ia langsung mengingat apa yang terjadi di hutan dengan Alta.


Flashback off


Rea menangis kembali. "Aku sudah putus dengannya."


"Apa?!" seru Valerie dan Archa terkejut.


Archa menggertakkan gigi. "Apakah dia tidak bertanggung jawab? Dia sangat kejam! Aku sudah pernah memintanya untuk menjagamu dengan baik, namun apa yang terjadi sekarang? Aku harus bertemu dengan dia untuk menghajarnya!"


"Tidak! Archa! Jangan pergi!" Memikirkan foto tidak senonoh itu lagi, Rea semakin tertekan.


Valerie menghela nafas. "Apakah kamu yakin untuk tidak melahirkan anak itu? Kami tidak dapat membantu memutuskan masalah sepenting ini. Tetapi, apapun keputusanmu, kami akan mendukung."


"Tidak. Aku tidak menginginkannya." Rea menutupi perutnya. Tidak peduli seberapa lemah dan bodoh dirinya, ia tidak mungkin bisa memelihara anak di perutnya.

__ADS_1


"Aku mengerti." Valerie tetap tenang. "Jika kamu membutuhkan, kami akan menemanimu ke rumah sakit."


"Ya. Aku juga dapat mengaturmu. Aku kenal seorang dekan, yang menjamin privasi yang baik," imbuh Archa yang sudah tenang.


"Valerie, Archa, aku sangat berterima kasih." Rea memandang keduanya penuh syukur. "Bisakah ... bisakah kalian membantuku menjaga rahasia?"


"Tentu saja."


"Aku juga tidak akan memberitahu siapapun. Tenang saja."


***


Ketika Valerie kembali ke rumah, langit sudah gelap.


"Ya." Valerie meletakkan tas dan bukunya. Lalu duduk di meja makan.


Di sisi meja lain, Victor makan perlahan dengan wajah tanpa ekspresi, terlihat suram. Ia mengangkat kepala untuk melihat sosok di hadapannya. "Mengapa begitu terlambat?"


Melihat wajahnya yang muram, Valerie tersenyum. "Ada yang harus aku lakukan hari ini, dan aku tidak punya waktu untuk kembali ke rumah tepat waktu. Aku akan membuatkanmu kue besok."


Victor mendengus akan bujukannya, tetapi ia tetap diam dan menikmati makanannya.


***

__ADS_1


Saat malam semakin gelap, di luar angin bertiup kencang, daun bambu bergoyang lembut, dan di sekitarnya sangat sunyi, hanya lampu kuning hangat menyala di dalam ruangan.


Victor berbaring di tempat tidur. Valerie sudah terbaring seperti biasanya. Beberapa saat kemudian, tubuh itu di pegang oleh tangannya yang besar.


Valerie membenamkan kepala di dadanya, namun matanya masih terbuka lebar sembari memikirkan tentang Rea.


Tiba-tiba, ia terpikir sesuatu dan bertanya. "Victor, jika aku hamil, maukah kamu mengizinkanku untuk melahirkan bayinya?"


Meskipun situasinya berbeda dengan Rea, Valerie ingin tahu apa yang di pikirkan Victor. Apakah dia menyukai anak-anak? Tapi ... dia memang mempunyai anak, sekarang Lucher adalah putranya. Namun, ini adalah bayi bukan anak sebesar itu.


"Huh, membosankan."


Berbeda dengan jawaban sendiri, kepalanya langsung berpikir untuk memiliki bayi. Sekarang, Victor tidak bisa melihatnya, tapi akan lebih menarik jika matanya lebih baik dan kembali melihat.


"Tidak apa-apa jika kamu tidak mempunyai bayi sekarang." Victor memegang lembut pipi orang di pelukannya. " Valerie, cium aku."


Valerie yang sudah mengantuk langsung mencium sudut bibirnya. "Selamat malam."


Sudut bibirnya mati rasa dan lembab, Victor merasa tidak puas. Ia ingin menggigit bibirnya dan merasakan dari mulutnya!


Ujung jari Victor mencubit pelan pipi Valerie. Keningnya berkerut, dan beberapa saat kemudian ia bertanya. "Valerie, kamu ingin memberiku bayi?"


"Aku hanya berkata jika!"

__ADS_1


"Bukan tidak mungkin jika kamu menginginkan seorang anak." Victor memeluk wanita itu erat dan berbisik. "Valerie, aku menginginkan seorang anak perempuan."


__ADS_2