
"Aku juga akan membantumu mendirikannya."
"Hah?" Valerie melirik Victor yang tidak memungkinkan untuk membantu. Ia merasa gembira saat Leon berisnisiatif membantunya, tetapi tetap merasa tidak enak. "Apakah tidak merepotkanku?"
"Tidak. Memang itu sudah menjadi tugas kami untuk membantu perempuan membangun tenda."
Valerie tersenyum hingga matanya melengkung indah. "Terima kasih banyak."
Leon yang melihatnya dari dekat, langsung memalingkan wajah dengan telinga memerah. "Ah ... sama-sama."
Valerie berbalik ke belakang dan berkata. "Victor, kamu dan Lucher berdiri dan menunggu sebentar. Aku dan temanku akan mendirikan tenda."
Victor mendengus dingin. "Terserah."
Valerie menatap ekspresinya yang tidak terlalu baik. Apakah dia kelelahan? Valerie mengalihkan pandangan dan menatap Leon. "Kalau begitu, ayo kita mulai."
Wajah Leon agak memerah. "Ba-iklah. Kamu ... jangan sampai terluka." Keduanya mulai membangun tenda bersama.
Lucher berdiri di sisi Victor. Ia mendongak melihat wajah ayahnya. Ia hanya merasa penampilannya semakin garang. Matanya berkedip-kedip.
Victor duduk di atas rumput dan bertanya. "Apakah dia tersenyum?"
Lucher ikut duduk. Wajahnya di penuhi kebingungan karena tidak mengerti pertanyaannya.
"Valerie, apakah dia tersenyum kepada pria itu?"
Lucher langsung mengerti. Ia menoleh ke arah Valerie yang tersenyum kepada Leon di tengah membangun tenda. Lalu ia mengangguk. "Tersenyum dan tertawa."
Ekspresinya tenggelam. "Apakah terlihat bahagia?"
Lucher memandang Valerie lagi dan berkata polos. "Ya."
"Oh." Mata Victor dingin. "Dia terlihat bahagia, tapi aku tidak."
"Putraku, menurutmu, jika ada seseorang yang membuat ayah tidak bahagia, apa yang harus di lakukan?" Victor menyipitkan matanya berbahaya.
Lucher berpikir serius. Wajah kecilnya terlihat lugas. "Itu harus di hukum."
Valerie yang tengah sibuk membangun tenda, sama sekali tidak memerhatikan diskusi ayah dan anak itu. "Apakah di pasang seperti ini?"
"Ya." Mendengar suaranya yang lembut, Leon merasa jantungnya tidak aman. "Sudah selesai."
Valerie menoleh ke belakang. Pria itu tengah duduk santai di rumput. Lalu Lucher, dia berlarian dengan kucingnya menakuti kambing di lereng. Ia hanya tersenyum geli.
Leon melirik lengan terbuka Valerie. Kulitnya terlihat putih dan bening. Ia langsung terpikir sesuatu. "Valerie, jika kamu membutuhkan obat nyamuk di malam hari, kamu bisa mencariku."
"Terima kasih. Tapi aku sudah membawa obat anti nyamuk."
__ADS_1
"Jika kamu butuh bantuan lain, tenda biru di sana adalah punyaku. Kamu bisa pergi ke sana."
"Baiklah. Sekali lagi terima kasih. Ini benar-benar merepotkanku."
Leon menggaruk tengkuknya malu. "Tidak merepotkan."
"Victor, tenda sudah siap. Mari kita bawa barang-barang dan masuk."
Victor menepuk-nepuk debu di tangannya dan berkata malas. "Kakiku mati rasa."
Valerie melihat kakinya yang panjang. "Bisakah kamu bangun?"
"Tidak. Kamu bantu aku."
Valerie tidak berpikir banyak dan langsung meraih tangannya. "Aku membantumu, bangunlah."
Victor meletakkan tangannya di bahu Valerie. Gravitasi tubuh tinggi menekan Valerie, dan ia hampir jatuh ke depan. "Ini sangat berat! Jangan terlalu bergantung padamu!"
Ujung hidungnya di penuhi aroma susu yang kuat. Victor jadi teringat rasa permen yang ia makan di mobil. Ia hanya berpikir, jika menggigit Valerie, apakah rasanya akan enak seperti itu?
Seluruh tubuhnya menekan Valerie tanpa bersalah. "Kakiku mati rasa, aku tidak mempunyai kekuatan untuk menahannya sendiri."
Valerie merasa pria ini sengaja. Ia melirik ke samping, wajahnya tanpa ekspresi sehingga ia tidak tahu apa yang di pikirkannya. Valerie hanya bisa menggertakkan gigi membantunya berjalan.
"Victor, buka sepatumu dan masuklah. Aku akan mencari Lucher." Valerie membuka tenda dan membiarkan Victor masuk.
Melihat Leon sudah selesai menyempurnakan tendanya, Valerie tersenyum. "Terima kasih, Leon. Kamu sangat baik."
Valerie menoleh dengan terkejut. Setelah Leon pergi, ia menghampiri Victor. Wajahnya tetap tanpa ekspresi dan kepalanya tertunduk. Mengapa dia marah? Apakah sakit?
Valerie mengulurkan tangan dan menyentuh dahinya. Tidak ada demam. "Victor? Apakah kamu merasa tidak nyaman?"
"Tidak."
Lalu mengapa? Valerie bingung. Ia akan menarik tangannya, tetapi Victor meraihnya dan berkata. "Sebelumnya putraku berkata orang yang berperilaku kurang baik, maka harus di hukum."
"... apa?" Valerie menatapnya kosong.
Victor menarik wanita itu ke dalam pelukannya dengan tangan melingkar di pinggang. Nadanya suram. "Kamu baru saja tersenyum pada pria itu."
Valerie menghantam dadanya yang keras. Setelah membeku beberapa saat, ia sama sekali tidak menolak. Hanya saja terkejut mendengar kata-katanya. "Bagaimana kamu tahu?"
Victor membenamkan wajahnya di sisi leher Valerie. Suaranya dingin. "Kamu juga tertawa bahagia."
"Aku harus berterima kasih padanya karena dia telah membantuku. Bahkan jika aku tersenyum, itu hanya kesopanan." Valerie menghela nafas tanpa daya. Tangannya sakit karena terperangkap. "Victor, cengkeramanmu menyakitkan."
"Tidka hanya itu, kamu juga memujinya ...." Lengan yang melingkar di pinggang Valerie mengencang. "Bahkan di depan wajahku."
__ADS_1
Valerie tercengang. Jadi dia marah karena ini?
"Valerie, kamu tidak di perbolehkan memuji pria lain di depanku." Suaranya teredam karena terkubur di leher Valerie. "Jangan pula di belakangku."
"Victor, mengapa kamu sangat lucu?" Valerie tidak bisa menahan tawa. "Agar adil, kamu juga tidak bisa memuji wanita lain di depanku, oke?"
"Hmm." Victor hanya bersenandung.
"Kalau begitu jangan marah lagi." Valerie di peluk erat, dan ia sama sekali tidak meronta. Mengenai tingkah lakunya baru-baru ini yang sering memeluknya, ia sudah terbiasa. Tapi sekarang cuacanya panas, di tambah pelukannya yang panas membuatnya seolah terbakar. "Lepaskan. Aku akan mencari Lucher."
"Nilai marah: 0."
Mata Valerie melengkung seperti bulan sabit.
***
"Valerie! Sini!"
Ketika Valerie datang ke restoran, suasana sudah penuh dan memadat. Ia memegang Victor dan Lucher membawanya ke meja Archa. Ketiga anggota keluarga ini menarik perhatian semua orang lagi.
"Kamu suka makan apa? Aku akan membawanya untukmu."
Archa melirik Victor, dan merasa malu. Tidak hanya penampilannya, tapi Archa pernah mendengar tentang Victor dari ayahnya sejak lama. Dengan nada setengah tabu, ayahnya mengatakan bahwa Victor memiliki kemampuan hebat selama bisnis, kejam, dan berdarah dingin. Melihat kondisi sekarang, ia tidak tahu apakah harus bersyukur atau mengasihani.
"Aku tidak ingin merepotkanku. Biar aku saja yang mengambilnya," tolak Valerie halus. Ke manatap Lucher. "Apa yang ingin kamu makan?"
"Aku ingin makan kue!"
"Victor, tunggu sebentar. Aku akan mengambil makanan dengan Lucher." Valerie menarik tangan Lucher dan berjalan ke area makanan.
Begitu Valerie pergi, orang-orang memandang Victor lebih berani. Tetapi yang di pandang terlihat malas dan santai, seolah tidak menyadari, atau tidak peduli.
Valerie membawa banyak udang dan kepiting yang lezat ke meja. "Victor, aku akan mengupas untukmu dan makanlah."
Archa yang sedari tadi diam memerhatikan langsung tercengang. Ia sudah cukup terkejut dengan Valerie yang membawa pria ini ke sini. Dan sekarang, dia begitu perhatian sampai-sampai dia mengupasnya.
Mengapa ia memiliki ilusi bahwa Valerie sangat menyukai Victor?
Valerie yang memiliki Javier di mulutnya setiap hari, tampaknya sekarang hanya ada Victor di matanya.
***
Gak lupa 'kan, like part sebelumnya? Kalo lupa, aku kapok ngasih Double up😾
_&
**Eh aku mau kasih tahu sesuatu.
__ADS_1
Sebenarnya alur dari cerita ini nggk 100% ide dari pikiranku sendiri. Aku pernah baca cerita yang bagus bgt dan menarik, dan itu cerita terjemahan cina. Aku kepikiran buat cerita ini dari cerita itu sendiri, dan mksd 'nilai marah' dan keajaiban Valerie bisa cantik itu aku ambil dari cerita itu. Tapi aku sama sekali gak copy kok, aku lebih baik gak jadi penulis kalo gitu. Setiap kata dari cerita ini aku yang ketik 100%, dan aku cuma terinspirasi dari cerita itu aja.
Aku gak tahu, apakah itu plagiat? Gimana menurut pikiran kalian? Jika itu emang plagiat, aku bakal hapus cerita ini**.