Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 84


__ADS_3

Di pagi hari, di sebuah ranjang bernuansa abu-abu, dua sosok saling melekat dan berpelukan menimbulkan rasa keintiman yang tak terlukiskan.


Pria yang memeluk tubuh orang di dadanya dengan erat, kini membuka mata dengan perlahan. Apa yang ia lihat pada awalnya, hanya putih dan kabur. Dalam beberapa detik kemudian, penglihatannya perlahan terfokus, kabut itu berangsur-angsur menghilang, dan dalam sekejap penglihatannya menjadi jernih.


Di bandingkan dengan sebelumnya, pada saat ini, apa yang ia lihat seperti ibarat kacamata yang tergores parah. Meskipun tidak jelas, tapi bisa melihat banyak hal.


Seolah sudah menduga ini, Victor tidak terkejut banyak. Ia menundukkan kepala dan melihat wajah putih kecil yang tergeletak di dadanya. Victor berkedip, masih saja tidak jelas melihat orang di depannya, tapi itu cukup melihat penampilan Valerie.


Alih-alih terkejut karena bisa melihat, Victor lebih terkejut melihat wajah Valerie.


Victor mendengar banyak pelayan mengatakan bahwa penampilan Valerie berkulit gelap dan bertubuh gendut, bahkan jika ia mendengar Valerie lebih kurus, Victor tidak berharap bahwa Valerie terlihat sangat baik. Bagaimanapun, ia buta, dan sebelumnya ia tidak peduli seberapa jelek Valerie, Victor tidak Isa melihatnya, jadi ia bisa bersamanya dengan nyaman.


Melihat lebih intens wajah orang di pelukannya, Victor berpikir bahwa dia sangat berbeda dan tidak ada hubungannya dengan kata 'jelek'.


Kulitnya sama sekali jauh dari kata gelap, tapi sebaliknya. Itu terlihat sangat putih seperti porselen, tidak heran saat ia mencubit wajahnya terasa begitu halus dan lembut


Hidungnya kecil dan lucu, bibirnya kemerahan dan sedikit terbuka memperlihatkan gigi putih. Victor tidak bisa menahan diri untuk menyentuh bibirnya yang lembut. Pandangannya terus ke bawah, kedua tangan Valerie di tempatkan di dada, ia mengambil satu tangannya yang ramping seolah tanpa tulang, Victor membungkus tangan itu dengan tangannya yang besar.


Mata Victor sedikit bersinar, dan bibirnya di tarik dengan senyuman senang. Dia benar-benar tidak jelek, justru sebaliknya.


Dalam tidurnya, Valerie merasa kesal karena tangannya seolah terjepit sesuatu. Wajahnya yang terkubur terbalik dengan kening berkerut.


Victor yang masih asik mengamatinya, tiba-tiba menemukan sedikit bekas luka di wajah Valerie. Tangannya melepaskan tangan Valerie, lalu ujung jarinya terulur untuk menyentuh bekas luka itu. Walaupun sudah pulih, tapi masih ada beberapa bintik hitam, dan itu terasa mengeras saat di sentuh. Ini adalah luka yang Valerie derita untuknya. Sangat pantas wanita ini menangis sedih hari itu.


Victor merasakan sedikit rasa bersalah, dan ia menunduk untuk mencium bekas luka itu dengan ringan.


"Diamlah ... Jangan membuat masalah ...." Suara rendah mengantuk itu memiliki nada yang lembut dan malas, membuat telinganya seolah di gelitik.

__ADS_1


Valerie mulai terbangun saat sesuatu yang menyentuh wajahnya, lalu di ikuti sentuhan lembut yang membuatnya gatal. Saat membuka mata, Valerie di hadapkan dengan sepasang mata gelap yang tersenyum.


Valerie berkedip beberapa kali, lalu berkata dengan menuduh. "Mengapa kamu menggangguku saat tidur?"


Victor mengangkat sebelah alis. Melihat lebih dekat depannya, ia masih bisa melihat wajah Valerie cukup jelas. "Aku mencoba membangunkanmu. Apakah kamu tidak ada kelas hari ini?"


"Ada," balasnya. Tiba-tiba pandangannya menetap pada wajah Victor dan mencondongkan tubuh ke arah pria itu seraya mengulurkan tangan menyentuh tepi rahangnya. "Victor ... bekas luka di bagian ini menghilang ...."


Wajah Valerie sangat dekat di depannya, dan mulutnya yang merah muda terbuka dengan terkejut. Victor hanya berpikir itu terlihat sangat enak hingga ia ingin menggigitnya dengan rakus. Berpikir begitu, bibirnya jatuh di dagu Valerie dan menggigitnya.


"Ah!" ringisnya kesakitan. Mata Valerie terbelalak dan menutupi dahinya yang terbawah oleh air liur Victor. "Victor! Kamu ... !"


Aroma susu samar seolah menempel di ujung lidah. Victor mengangkat pandangan ke arah Valerie, mengapa rasanya sangat enak?


"Jika kamu menyentuh wajahku lagi, aku akan menggigitmu lebih kuat." Victor menyeringai.


Victor menatap punggungnya yang semakin kabur dengan senyuman di matanya.


***


Saat keluar dari kamar mandi, Valerie melihat pria itu masih duduk santai. Karena masih kesal, Valerie tidak bertanya atau mengucapkan apapun yang biasanya ia ucapkan.


Berjalan ke arah lemari, Valerie membukanya dan mengambil gaun biru tua. Biasanya ia berganti pakaian di kamar, karena bagaimanapun Victor tidak bisa melihat, jadi ia tidak perlu khawatir.


Valerie membuka satu persatu kancing piyama. Setelah itu, dia berniat melepas celana, tapi gerakannya berhenti saat merasa pandangan panas di belakangnya.


Valerie menoleh dengan penasaran, dan langsung bersitatap dengan mata gelap Victor yang tak berdasar. Walau ia tahu Victor tidak bisa melihat, tetapi mengapa Valerie merasa matanya selalu tertuju padanya?

__ADS_1


Valerie menjadi ragu saat akan melepas pakaian. Melupakan rasa kesalnya, lalu ia bertanya. "Apakah kamu tidak pergi ke kamar mandi?"


Victor menyipit kan mata berbahaya dan menjawab malas. "Tidak perlu terburu-buru."


Bagaimana mungkin dirinya melewatkan sesuatu yang indah ini? Karena tidak berada terlalu dekat, pandangannya masih kabur, tapi itu tidak mencegahnya melihat tubuh telanjang Valerie yang ramping dan putih. Terutama saat Valerie berbalik memperlihatkan dadanya yang setengah terbuka, itu hanya membuat sesuatu menegang di sana. Tiba-tiba ada panas yang menyerang anggota tubuhnya. Victor menurunkan pandangan dengan wajah kurang baik. "Valerie, kamu membuatku terganggu."


"Kapan aku mengganggumu?" Valerie berbalik dengan bingung. Gaun biru tua sudah melekat di tubuh, lalu ia berjalan ke arah Victor dan membalikan badan memunggungi. "Aku tidak bisa menarik resletingnya. Bisakah kamu membantuku?"


Dalam jarak dekat, matanya menangkap punggung terbuka yang sangat putih, itu hanya membuat tubuhnya semakin panas. Victor berkata sedih. "Valerie, apakah kamu akan benar-benar pergi kuliah hari ini?"


"Ya, aku akan pergi. Cepat bantu, aku harus pergi sarapan." Valerie menangkap tangan Victor dan meletakkan di punggungnya.


Secara tidak sengaja, tangannya menyentuh kulit yang halus. Victor menatap punggung indah di hadapannya. Matanya melihat ke bawah, pinggangnya yang ramping bisa ia lihat bentuknya dengan jelas.


"Victor? Ayolah!" desak Valerie.


Victor menenangkan ekspresinya dan menarik resleting itu.


Valerie menoleh dengan wajah tersenyum dan mencium pipinya serta memuji. "Kamu sangat baik. Terima kasih."


Victor menggertakkan gigi saat sesuatu yang lembut menyentuh pipinya hingga membuat api semakin besar.


"Valerie, aku ingin kamu menciummu di sini. " Menunjukkan bibirnya sendiri, Victor hanya merasa ingin menciumnya dengan rakus saat ini.


"Hm? Tidak. Aku sedang terburu-buru. Cepatlah segera mandi."


Victor bangkit dan berjalan ke kamar mandi dengan eskpresi sedih. Wanita ini benar-benar jahat, dia acuh tak acuh setelah menyalakan api. Victor hanya bisa memadamkannya di kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2