
Pada pagi menjelang siang, Valerie pergi ke rumah sakit bersama Victor untuk memeriksa kembali luka di wajahnya. Tadinya, ia akan sendiri, namun pria itu bersikeras untuk ikut, jadi dengan pasrah Valerie membiarkannya. Walaupun beberapa hari ini lukanya sudah lebih baik, tetap saja ia membutuhkan kepastian dokter.
"Saya tidak tahu obat apa yang Anda gunakan, yang pasti itu pasti bukan obat dari rumah sakit ini. Luka Anda sembuh dengan cepat, bahkan bekasnya kemungkinan akan menghilang, jadi sudah jelas luka di wajah Anda tidak perlu melakukan operasi atau cengkok kulit untuk menghilangkan bekas luka," terang dokter itu dengan ekspresi heran.
Valerie tersenyum dan melirik Victor dengan mata cerah. "Baiklah, terima kasih."
Dengan suasana hati yang baik, Valerie mengajak Victor berjalan-jalan setelah pulang dari rumah sakit itu. Victor bisa merasakan suasana hatinya, jadi ia setuju saja saat mengajaknya ke suatu tempat.
"Tempat apa yang ingin kamu kunjungi?" tanya Valerie dengan semangat.
"Kamu yang berisnisiatif, kamu juga yang menentukan."
"Tapi, aku ingin pergi ke tempat yang kamu inginkan."
Victor terdiam beberapa detik, lalu berkata pelan. "Aku tidak punya tempat yang ingin ku datangi. Lagi pula, seindah apapun tempatnya, aku tidak bisa melihat."
Valerie cemberut di bibirnya yang tertutup masker. "Aku tahu."
Ia menatap sopir dan berujar. "Pergi ke taman mana saja."
"Baik, Nyonya."
__ADS_1
Asalkan itu taman, pasti tempatnya terasa tenang dan indah. Valerie menoleh untuk melihat jalanan lewat jendela mobil. Entah kenapa, ia menjadi tidak mood saat Victor mengatakan itu. Apalagi nada tenangnya seolah kebutaan yang ia alami merupakan sesuatu yang biasa saja dan tidak berharap untuk sembuh.
Tadinya, ia mengajaknya ke manapun yang di inginkannya pergi karena Valerie menganggap ini kencan mereka berdua. Tapi ... Suasana saat ini sepertinya tidak memungkinkan. Apa boleh buat? Ia telanjur mengatakannya kepada sopir.
***
Entah dari mana sopir keluarga Spare mengetahui taman sebagus ini, yang pasti Valerie puas dan tidak menyesal. Keduanya duduk di sebuah kursi panjang yang menghadap sebuah kolam air pancur. Tidak banyak orang di sekitar, justru bisa di katakan cukup sepi.
Valerie melirik Victor yang terdiam seperti patung. Pria itu duduk tegak dengan wajah lurus ke depan, matanya tertutup beberapa helai rambut depannya, sesekali ada angin ringan yang menerbangkan rambut itu sehingga mata abunya terlihat jelas.
Wajahnya yang tanpa ekspresi membuat siapapun tidak bisa menebak pikirannya, termasuk Valerie. Yang awalnya hanya lirikan, tatapan Valerie menjadi terus terpaku padanya, dan tentu saja sembari mengamati lekuk wajah pria itu yang enak di pandang, apalagi wajah Victor yang utuh menghadapnya sehingga Valerie menganggap bekas luka itu tidak pernah ada.
"Untuk apa kamu menatapku?"
"Tatapanmu terlalu panas, tapi aku tidak mengatakan tidak boleh. Yang kamu lihat wajahku yang tanpa luka, kan? Jadi tatap saja aku sampai kamu puas."
Valerie menjadi tidak mood kembali, ucapannya selalu membuat Valerie tidak nyaman seperti yang di mobil sebelum nya. Ia mengalihkan pandangan menatap air mancur yang indah, tapi saat ini suasana hatinya menurun.
"Kenapa kamu selalu mengungkit kekuranganmu dengan santai dan tenang?" tanya Valerie pelan tanpa menatapnya.
Victor menoleh ke arahnya. "Apakah kamu terganggu?"
__ADS_1
Valerie ikut menoleh dan menghadap wajahnya. "Tentu saja."
"Kalau begitu aku tidak akan mengatakannya lagi." Nada suara Victor semalas biasanya.
"Aku yakin lukamu akan sembuh suatu saat ini," kata Valerie dengan tulus. "Begitu pula matamu yang akan melihat kembali."
Victor terdiam seolah tertegun. Lalu detik berikutnya ia terkekeh dengan suara lembut. "Apa yang membuatmu yakin?"
"Hatiku," balas Valerie. "Hatiku yang mengatakan itu."
Valerie menatap wajahnya Lamat. Ia melihat sudut mulut Victor terangkat menjadi senyuman samar. Entah kenapa itu terlihat penuh arti. Lalu, tiba-tiba senyumannya menjadi penuh kelicikan dan sedikit godaan?
Cahaya samar memenuhi penglihatannya. Victor tersenyum dan berucap. "Kalau begitu, kamu harus mau jika aku meminta ciuman."
Valerie langsung tersipu dengan mata membulat. "Apa hubungannya?!"
Victor memiringkan kepala ke arahnya. "Hatimu yang mengatakan, dan dirimu yang melakukan."
Valerie mengernyit bingung. "Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan ...."
Sebelum Valerie berpikir lebih jauh, tiba-tiba wajah orang di depannya mendekat. Sebuah ciuman jatuh di bibirnya melalui masker.
__ADS_1
Deg