
Di pesta, perjamuan makan sudah di mulai. Sebagai protagonis di pesta ulang tahun itu, Nuella dan Javier berdansa sebagai pembukaan pesta di tengah aula. Mereka berdua sangat serasi, sehingga hampir menarik atensi semua orang yang hadir.
Berbeda dengan wajah berseri-seri Nuella dan Javier, saat Valerie masuk ke sana, wajahnya sangat panik dan pucat. Ia menarik seorang pelayan dan bertanya. "Di mana pengurus rumah tangga?"
Pelayan itu sedikit terkejut dengan kehadiran Valerie. Lalu ia pulih dan berkata dingin. "Pengurus rumah tangga sedang berbicara dengan Nyonya Tua di aula samping."
Tanpa berbicara lagi, Valerie segera pergi dengan langkah cepat. Hanya butuh waktu sebentar untuk menemukan pengurus rumah tangga itu. Dia sedang melaporkan sesuatu kepada Gracia.
"Paman."
Panggilan Valerie membuat keduanya menoleh.
"Baru saja Victor pingsan, aku memintamu untuk datang ke sana dan membawanya ke rumah sakit."
"Ada apa?" Gracia mengernyit.
Valerie mencoba menenangkan nafasnya. Ia mencoba menekan kepanikan dan menatap Gracia. "Ibu, sesuatu terjadi pada Victor. Saat dia memakan kue, dia tiba-tiba pingsan. Ada banyak bintik-bintik merah di wajah dan kulitnya. Sepertinya dia alergi serbuk sari lagi."
Pandangan Valerie tertuju kembali pada pengurus rumah tangga. "Paman cepatlah."
"Baik."
"Tunggu." Gracia menghentikan pengurus itu. "Saat ini pesta sudah di mulai, dan tamu sudah sangat penuh. Jangan terlalu menarik perhatian, dan jangan sampai mereka tahu agar tidak mempengaruhi perjamuan."
"Baik." Dia dengan cepat pergi.
Valerie melirik Gracia yang tenang, hatinya merasa kesal. Putranya pingsan, namun dia terlihat santai dan bebas. Lalu dia berkata untuk tidak mempengaruhi perjamuan. Dia benar-benar menganggap perjamuan lebih penting daripada nyawa putranya sendiri. Mungkin yang paling penting baginya adalah tentang pesta Javier yang akan terpengaruh. Gracia terlalu memihak.
Melihat eskpresi panik dan tegang Valerie, Gracia berkata ringan. "Jangan khawatir. Ini bukan pertama kalinya Victor mengalami ini. Ketika dia masih kecil, dia sangat sering menderita alergi serbuk sari."
Tetap saja, Valerie tidak bisa tenang mendengar itu.
"Apakah kue yang di makan Victor kue buatanmu?"
Valerie mengangguk kaku. "Ya."
__ADS_1
Ekspresi Gracia tidak berubah. "Apakah kamu menambah serbuk sari ke bahan kue?"
Valerie terkejut. "Tidak! Aku sudah tahu bahwa Victor alergi terhadap serbuk sari, bagaimana mungkin aku akan menambahkan ini?"
Ia juga merasa sangat bingung. Kue itu benar-benar di buat olehnya, tapi kenapa alergi Victor terjadi ketika dia memakan kue itu? Padahal, tidak ada yang aneh. Ia mana mungkin menambah serbuk sari untuk menyakiti Victor.
Gracia menatap Valerie. Walaupun matanya tidak berbohong, tapi ia belum bisa mempercayai ucapan Valerie sepenuhnya. "Baiklah. Kalau begitu, sekarang kamu pergi ke rumah sakit untuk merawat Victor. Jika ada waktu, aku akan berkunjung nanti."
"Apakah ibu tidak akan pergi sekarang.."
"Kamu tahu bahwa perjamuan ini baru saja di mulai. Banyak tamu yang pasti akan menemui ibu sebentar lagi. Ibu tidak bisa pergi." Gracia menekan kata-katanya. Suaranya melembut. "Jika kamu mempunyai masalah serius, hubungi ibu nanti."
Valerie menghela nafas dalam-dalam. "Baik. Aku pergi dulu, Bu."
***
Di rumah sakit, Victor sama sekali belum bangun. Bintik-bintik merah di wajahnya belum mereda, kulitnya pucat, dan bintik itu sangat mencolok. Dokter berkata bahwa bintik di wajah Victor tidak akan menghilang setidaknya selama seminggu.
"Kapan ayah akan bangun?" Mata Lucher penuh air mata.
Valerie mengangkat Lucher untuk duduk di samping tempat tidur.
Lucher menatap lekat bintik-bintik merah di wajah ayahnya. Lalu menatap Valerie sedih. "Apakah itu sakit?"
"Tidak. Itu akan baik-baik saja." Valerie mencubit lembut pipinya. "Apakah Lucher haus?"
Lucher mengangguk. "Aku sedikit haus."
"Kalau begitu, aku akan menuangkanmu air."
Valerie menurunkan Lucher. Lalu ia beranjak dan menuangkan segelas air hangat. Saat ia menoleh, ia melihat bibir Victor terlihat kering.
Setelah memberi gelas itu kepada Lucher, Valerie mengambil kapas dengan sebuah wadah kecil berisi air. Lalu ia mendekat ke tepat Victor terbaring. Setelah kapas di rendam sebentar, Valerie mencondongkan tubuhnya ke depan dan membungkuk. Dengan lembut dan hati-hati ia menyeka bibir pucatnya dengan kapas.
Karena jaraknya yang dekat, Valerie bisa melihat fitur wajahnya yang lembut. Bintik merah itu sama sekali tidak menghalanginya. Setelah di seka, bibir tipisnya menjadi berwarna agak terang. Bentuk bibirnya sangat indah sehingga membuat orang ingin menciumnya.
__ADS_1
Tatapan Valerie beralih pada buku matanya yang tebal dan agak panjang. Sangat di sayangkan, dia adalah pria yang buta. Dia memiliki mata yang indah, namun tidak berguna.
Tiba-tiba mata itu terbuka. Bagian dalamnya gelap gulita. Sangat dalam tanpa dasar.
Saat bertemu dengan mata tanpa fokus itu, Valerie tersentak dan melonjak ketakutan. Dengan cepat ia berdiri tegak. "Vi-tor.. kamu, apakah kamu bangun?"
Mendengar itu, Lucher mendekat dengan gembira. "Apakah ayah sudah bangun?!"
Victor sedikit mengernyit. Yang ia ingat, ia pingsan tidak lama setelah memakan kue yang di buat Valerie.
Tidak mendapat jawabannya, Valerie merasa cemas. "Victor.. apakah kamu merasakan tidak nyaman? Apakah masih gatal?"
Victor memejamkan matanya. Walaupun matanya sudah tidak gatal, tapi wajah dan tubuhnya yang gatal. Ia mengulurkan tangan untuk menggaruk.
Valerie dengan cepat mencegah tangannya. "Jangan! Kamu tidak bisa menggaruknya. Wajahmu sudah seperti itu, apakah kamu ingin meninggalkan bekas luka yang banyak?"
"Apa pedulimu?! Aku tidak butuh!" sentak Victor dengan suara dingin.
Victor menepis tangan Valerie dengan keras. Karena menggunakan terlalu banyak tenaga, tangan Valerie terbentur tepi lemari di sebelahnya.
Valerie di kejutkan oleh rasa sakit. Matanya langsung memerah berkaca-kaca. Ia mencoba tenang dan menstabilkan suaranya. "Baiklah, kalau begitu aku tidak akan menghentikanmu! Garuk saja semaumu!"
Valerie menutupi punggung tangannya yang memerah. Ia menarik nafas dalam-dalam. Suaranya melemah. "Aku memang orang yang membuat kue itu, tapi aku bersumpah bahwa aku tidak menambah apa pun ke dalamnya. Aku tidak tahu mengapa kue itu berpengaruh pada alergimu, tapi perlu kamu ketahui bahwa aku tidak pernah berniat menyakitimu."
Victor berbaring diam seolah tidak pernah mendengar kata-katanya.
Valerie menahan sakit yang berdenyut. Ia menggosok punggung tangannya. Melihatnya tetap diam, Valerie menjelaskan lagi. "Jika aku memang mempunyai niat untuk menyakitimu, aku tidak akan sebodoh itu untuk melakukan cara itu."
"Kamu memang bodoh."
Mendengar ejekannya, Valerie tertawa marah. "Apa gunanya aku menyakitimu?"
Ekspresi Victor tetap dingin. Ia menoleh ke arah Valerie dan berkata hampa. "Apakah kamu lupa bahwa sebelumnya kamu pernah menggunakan trik dengan memberi keponakanku obat bius? Mungkin saja kamu melakukan trik itu lagi untuk membuatku mati sehingga kamu bisa bersama Javier."
Valerie terkejut. Ia langsung teringat ketika pertama kali datang ke dunia ini.
__ADS_1