Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 14


__ADS_3

Di halaman sebuah bangunan kecil, suara anak kecil memecah keheningan. Saat membuka pintu, angin malam menerobos masuk, daun bambu hijau terdengar saling bersaut gemericik.


Di bagian dalam ruangan, ada sosok tinggi di meja yang menyatu dengan kegelapan. Dia adalah Victor yang tengah makan malam tanpa menyalakan lampu.


Valerie segera menyalakan lampu, dan ruangan segera hidup karena tersinar cahaya lampu.


Lucher yang masih kesenangan karena sudah bermain, mendatangi Victor dengan senyum ceria di wajahnya. "Ayah! Aku baru saja bermain ayunan!"


Valerie tersenyum geli melihatnya begitu bahagia. Ia berjalan mendekat dan menatap Victor yang sudah memakan makanannya.


"Kenapa kamu tidak menunggu kami untuk makan bersama?"


"Ku kira kamu akan makan di sana."


Victor tidak tahu apa yang di rencanakan Valerie hari ini, karena ia tidak nyangka melihatnya pulang tanpa makan di bersama di vila.


Valerie meliriknya lekat. Di vila suasananya begitu harmonis, tetapi Victor makan di sini sendirian, di malam yang gelap. Ia pikir sedikit menyedihkan.


"Bagaimana mungkin aku akan meninggalkanmu makan sendirian? Terlalu menyedihkan."


"Kamu mengasihaniku?" Wajah Victor merosot. Ekspresinya menjadi sangat dingin. "Singkirkan simpatimu, karena aku yang malang bisa membunuhmu kapan saja."


Apa yang malang darinya? Ketika ia masih kecil, ia di culik sampai di temukan kembali. Semua orang mengatakan ia menyedihkan. Ketika dirinya mengambil alih kekuasaan Spare, orang yang menghina dan mengatakan ia miskin menjadi rendah hati dan takut padanya.


Valerie menjadi panik, hawa dingin menjalar ke punggungnya. Ia sepertinya melupakan Victor adalah pria suram dan berbahaya.


Suara Valerie melembut. "Maaf.. aku mengatakan hal salah. Kamu sama sekali tidak menyedihkan."


Victor bergeming dengan ekspresi dingin.


***


Malam semakin gelap, hanya bulan putih yang sedikit mencerahkan suasana di bawahnya.


Di kamar mandi, Valerie menatap dirinya sendiri di cermin. Ia tidak meragukan lagi bahwa ini bukan ilusi.


Di cermin, wajah bulatnya menjadi sedikit tirus, kulit gelapnya menjadi agak pucat, dan jerawat yang tumbuh di bagian kening dan pipinya lenyap.


Mata Valerie bersinar dengan senyum semringah. Ia segera mencari timbangan.


Setelah berdiri di timbangan, Valerie menarik nafas sebelum membuka matanya. Setelah siap, ia membuka mata dan terkejut melihat angka yang tertera di atas timbangan.

__ADS_1


Seratus empat puluh!


Ia kehilangan berat badan lima kati, jantungnya berdebar-debar karena kegembiraan. Apa yang terjadi? Kemarin ia tidak turun sekati pun.


Valerie tanpa sadar melirik Victor di samping tempat tidur. Ia ingin sekali berteriak memberitahunya tentang ini, namun mengingat temperamennya, ia tidak jadi.


Valerie duduk di sofa dan berpikir keras apa yang terjadi dengan berat badannya.


"Aku ingin meminum air." Suara magnetis pria itu tiba-tiba terdengar.


Valerie langsung berdiri. Ia mengambil cangkir dan menuangkan secangkir air hangat. Saat berbalik, sebuah pikiran luar biasa terlintas di benaknya.


Sepertinya berat badannya turun setiap kali berat badannya turun, itu pasti setelah Victor marah padanya. Valerie tercengang begitu memikirkan ini. Mungkin ini gila, tapi ia bisa mendengar nilai marahnya. Bukankah ini keberuntungannya?


Salah atau benarnya gagasan ini, ia hanya perlu memastikan.


"Airnya sudah siap."


Valerie berjalan sambil tersenyum. Namun ketika ia hendak datang ke Victor, ia tersandung kakinya sendiri. "Ah!"


Valerie terjatuh ke arah Victor, airnya tumpah memercik ke Victor.


"Valerie!" Victor berteriak marah setelah menangkap tubuhnya.


Valerie tidak menyangka akan jatuh ke pelukan Victor. Ia meletakkan tangannya di dada Victor dengan panik. "Ma-maaf! Aku.. aku tidak sengaja jatuh!"


Valerie menatap Victor yang basah karena air yang ia tumpahkan. Wajah dan dadanya basah. Tadi dia berteriak marah, namun kenapa tidak ada nilai marah?


"Gamuk sekali!" Victor mendengus. Ia mencengkeram tangan Valerie di kedua sisi pinggangnya. "Kamu sangat gemuk! Tidak heran kamu begitu kikuk saat membawa air."


Valerie melotot marah.


"Kenapa kamu belum beranjak?! Apakah kamu akan menghancurkanku?!" Aroma vanilla Valerie tercium jelas di hidungnya. Sesuatu di dadanya sangat lembut, alisnya menegang. Wajahnya yang terciprat air tidak berekspresi bagus. "Apakah kamu mau mati?!"


Valerie menggerakkan gigi. Kenapa dia sangat jahat?!


Valerie dengan sengaja tidak berdiri. Ia memegang cangkir dengan satu tangan dan memeluk pinggang Victor dengan tangan lainnya. Tubuhnya duduk di atas kaki Victor.


Ia berkata sedih. "Maaf, aku tidak bisa berdiri. Aku merasa kakiku lembut."


"Valerie!"

__ADS_1


"Nilai marah: 10."


Valerie yang awalnya terkejut, langsung berbinar. Bibirnya melengkung. Wajah Victor yang sangat suram tidak membuatnya takut, malah senang.


Valerie memeluk pinggangnya dan berpura-pura menyedihkan. "Baiklah, baiklah! Aku akan berdiri.. jangan marah."


Valerie segera melepas tangannya di pinggang Victor dan berdiri. "Pakaianmu basah, aku akan mencarikan pakaian untukmu."


Valerie menyimpan cangkir dan berjalan ke arah lemari mengambil piyama hitam lainnya. Lalu ia berlari ke kamar mandi untuk mengambil handuk kering. Dering di benaknya masih berbunyi, dan itu pertanda bahwa Victor masih marah.


Valerie berjalan mendekat dan berkata. "Rambutmu basah. Aku akan menyekanya."


Ia meletakkan handuk di rambut Victor, lalu menyekanya dengan lembut. Walaupun ia senang dengan kemarahannya karena ingin memastikan gagasan sebelumnya, namun sangat menyakitkan. "Victor, aku tidak sengaja. Kamu jangan marah padaku, oke?"


"Aku tidak marah."


Bohong! Valerie mengutuk diam-diam.


Setelah selesai, ia mengambil air kembali. Ia menyerahkannya ke tangan Victor. Valerie meringis dan menatapnya agak memohon. "Victor, apakah kamu masih marah padaku? Tolong.. jangan marah lagi.."


Victor bersandar di tempat tidur dan memegang cangkir itu. Mendengar suaranya agak lemah ia menyipitkan matanya. Walaupun buta, tapi tanpa sadar membuat orang gemetar. "Kamu memercikan air ke tubuh dan wajahku. Kamu seharusnya tahu itu menyakitkan."


Victor menyesap air dengan santai.


Suara Valerie lebih lembut dan berbisik. "Maaf, maaf. Besok aku akan membuatkanmu kue sebagai kompensasi, oke?"


Tanpa menjawab, Victor meletakkan cangkir di samping dan berbaring bersiap tidur.


"Nilai marah: 0."


Valerie tertawa diam-diam. Melihatnya menutup mata, Valerie segara pergi mencari timbangan. Namun, saat angka timbangan sama dengan sebelumnya, Valerie tidak berkecil hati. Ia yakin, besok pasti berat badannya akan menurun!


***


Seperti yang Valerie harapkan, keesokan harinya saat ia menimbang, berat badannya benar-benar turun menjadi seratus tiga puluh lima.


Hatinya bersemangat dan gembira karena tebakannya tidak salah. Valerie menatap lengannya, dan itu lebih pucat dan agak cerah.


Walaupun ia harus menderita karena sakit di kepalanya, namun itu tergantikan dengan kecantikannya.


Valerie berdiri di depan cermin dan mengamati wajahnya dari satu sisi ke sisi. Walaupun pipinya masih agak bulat, namun dagunya sedikit lebih tajam, matanya tidak lagi terjepit, namun agak lebih besar dan cerah.

__ADS_1


Saat ini ia memakai baju longgar, dan ia terlihat lebih kurus secara keseluruhan.


Setelah mandi, ia dalam suasana hati yang baik. Valerie mengaplikasikan produk perawatan kulit. Seperti kebiasaannya dulu, ia selalu merawat tubuh dan kulitnya dengan hati-hati. Karena wajah cantik sangat nyaman di lihat. Dan sekarang, ia harus lebih menjaga dan merawat dirinya sendiri.


__ADS_2