
Suasana di meja makan benar-benar tegang dan membeku.
Jian menggertakkan gigi. "Tidak ada tempat untukmu di sini."
Victor mencibir tidak setuju. "Aku dan Valerie adalah suami istri, jadi aku akan tinggal di kamarnya."
Wajah Jian semakin memerah dan biru karena marah.
Valerie menarik lengan Victor dengan cemas dan berbisik. "Jangan bicara lagi."
Riana menghela nafas dalam-dalam dan berkata. "Sudah, sudah. Jangan bertengkar lagi. Aku takut makan siangnya akan mendingin."
Jian selalu mematuhi perkataan istrinya, jadi dia hanya menahan amarahnya dan dia diam untuk bersiap makan.
Suasana kembali tenang. Pelayan meletakkan sarapan di atas meja sampai penuh. Berbagai makanan enak tercium baunya, namun penciuman Victor hanya menangkap kue kesukaannya.
Valerie menambahkan makanan ke piring Victor dan Lucher. Lalu ia berbisik kepada Victor. "Apa yang ingin kamu makan lagi? Ada banyak jenis makanan."
Valerie menyebut satu persatu.
Suaranya yang lembut memasuki telinga membuatnya gatal. Victor mengencangkan kepalan tangannya yang memegang sendok. "Aku ingin kue."
"Ah." Valerie melirik kue yang di buatnya di meja. "Baiklah."
Sembari menyajikan kue untuk suaminya itu, Valerie menatap Victor lekat. "Victor? Apakah berat badanmu turun akhir-akhir ini?" Tampaknya sedikit berbeda dan lebih tirus.
"Lapar." Victor mendengus.
"Ha?" Valerie menatapnya heran. Apakah keluarga Spare tidak memberinya makan?
Di seberang, Jian menatap mereka dengan sorot sedih dan marah karena putrinya merawat pria buta itu. Apalagi, putrinya tidak pernah melayaninya seperti itu, mengapa dia memberikannya kepada pria buta ini?
"Putriku, ayah ingin makan ayam yang di dekatmu, apakah kamu mau menyajikannya untuk ayah?
"Baiklah." Valerie langsung mengambilnya dan menaruhnya di mangkuk Jian. "Apalagi yang ingin ayah makan?"
Amarah Jian sedikit mereda. Ia berkata lembut. "Tidak lagi. Sekarang makanlah, jangan hanya sibuk mengurus orang lain."
Kata 'orang lain' secara sengaja si tujukan kepada Victor.
Sedangkan Victor mencibir. Lalu ia berkata kepada Valerie. "Aku ingin makan ikan."
"Oke. Tunggu sebentar, aku akan mengambil tulang ikannya terlebih dahulu."
Victor melengkungkan bibirnya, sedangkan wajah Jian terdistorsi.
***
Di malam hari, ketika Aska kembali ke rumahnya setelah bermain dengan teman-temannya di luar. Namun, ia di kejutkan dengan dua orang asing yang tengah berkumpul dengan kedua orang tuanya. Melihat anak kecil yang duduk di pangkuan ibunya, lalu pria jelek di sofa tidak jauh, Aska tertegun.
__ADS_1
Mengapa pria ini datang ke rumahku?
"Ayah, ibu, aku kembali." Aska duduk begitu saja di sofa kosong. Ia memandang Victor di sisi berlawanan dan bertanya kepada Riana. "Di mana kakak?"
Riana tersenyum. "Kakakmu ada di dapur. Dia sedang membuat kue."
"Nenek, aku juga ingin kue ...."
Riana menyentuh kepalanya terlihat penuh kasih sayang. "Baiklah, tunggu sebentar lagi. Kamu akan memakannya nanti."
Lucher mengangguk.
Aska menatap kosong keduanya. "Ibu, kenapa ibu membiarkan anak ini memanggil ibu nenek? Dia bukan anak kakakku. Kita tidak tahu dari wanita mana dia di lahirkan, kenapa ibu menerimanya begitu saja?"
Riana mengukurkan tangan dan mencubit lengan putranya. "Kenapa kamu mengatakan itu di depan anak-anak?"
"Aw!" Aska menjauh karena cubitannya hingga terlepas. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."
Awalnya Riana tidak menerima anak ini, bagaimanapun pada awalnya pernikahan putrinya dengan Victor tidak di setujui. Namun, karena fakta bahwa putrinya sudah menerima Victor, apalagi anak ini tidak bersalah, dan Riana tidak bisa membenci anak yang lucu dan manis
Aska menatap marah pada kakak iparnya. Dari ujung kepala sampai kaki, ia merasa pria ini tidak layak untuk kakaknya. Apalagi kakaknya sudah menjadi cantik, dan pria ini jelek dan sangat tidak cocok. Ia sangat kesal.
Aska berada di baris yang sama dengan Jian, sama-sama membenci pria itu.
Saat Valerie keluar dari dapur, ia melihat pemandangan ini. Ayah dan adik lelakinya menatap suaminya dengan pandangan muram, suasana tidak mengenakkan.
"Kue sudah siap." Valerie mendekat dan meletakkan kue di atas meja kopi. Aroma kue yang kuat menyebar di udara, sangat harum.
"Ini milikku." Victor tiba-tiba berkata.
Ayah dan putra itu menatap Victor dengan terperangah marah. "Tidak tahu malu!"
Victor mendengus dingin.
Valerie merasa pusing melihat pertengkaran mereka. Ia membujuk Victor. "Aku akan membuatkan kue hanya untuk dirimu sendiri nanti, kue yang saat ini untuk semua orang bersama-sama."
Victor tidak berkata apapun, tapi ekspresinya tidak keberatan.
"Sayang, jangan terlalu memerdulikannya! Jangan repot-repot membujuknya jika dia tidak ingin makan!" kata Jian keras.
"Aku ingin makan," ujar Victor malas. Lalu ia berkata kepada Valerie. "Potong kuenya."
Jian sepertinya memukul kapas. Wajahnya sangat tidak mengenakkan.
***
Pada malam hari, Jian dengan enggan meminta pelayan menyiapkan kamar kosong dan membersihkannya untuk Victor, namun Victor menolaknya dan tetap bersikeras untuk tidur dengan Valerie.
Jian ingin memisahkannya, namun tidak sempat marah karena istrinya menariknya pergi.
__ADS_1
Pada siang hari sebelumnya, Victor menelepon seseorang untuk mengirim pakaiannya dan Lucher ke rumah ini, jadi dia tidak khawatir.
Saat Valerie melihat Lucher selesai mandi dan berganti piyama, ia menyuruhnya tidur cepat. Lucher berbaring dengan patuh. Valerie menyentuh kepalanya dan berkata lembut. "Kami ada di kamar sebelah, jika kamu merasa takut, datang saja ke sana."
Lucher cemberut. Lalu ia berkata serius. "Aku tidak takut, dan aku bukan pengecut."
Valerie tersenyum hangat. "Aku tahu, Lucher adalah anak yang hebat."
Valerie mencium dahinya. "Selamat malam."
Lucher sangat terkejut dan malu. Ia di cium lagi!
Telinganya memerah. Lucher menyembunyikan dirinya di dalam selimut. Saat ia merasa langkahnya sudah menjauh dan keluar, mata Lucher berkedip-kedip.
Ia merasa.. dia seperti seorang ibu. Saat melihat televisi sebelumnya, ia selalu melihat seorang ibu mencium dahi anaknya dan berkata selamat malam
Mata Lucher terbuka lebar. Ia menyentuh dahinya dengan malu-malu dan menutup matanya dengan suasana hati yang baik.
***
Saat Valerie kembali ke kamar, ia melihat Victor sudah mandi dan memakai piyama. Ia berjalan ke lemari dan mengambil selimut. "Bantal dan selimutnya tidak di bawa, gunakan milikku saja. Ini bersih dan selalu di jemur oleh pembantuku, tidak ada bau."
Valerie meletakkannya di tempat tidur.
"Ya." Indra penciumannya menangkap aroma Valerie lebih banyak di ruangan ini. Aroma favoritnya. "Aku ingin tidur."
"Baiklah. Aku akan mematikan lampunya."
Valerie mematikan lampunya dengan di gantikan lampu kuning hangat agar tidak terlalu gelap.
Seperti biasa, Victor berbaring lurus di tempat tidur. Begitu tubuhnya sepenuhnya tertidur, ia merasa kasurnya sangat empuk sehingga tubuhnya seolah tenggelam. Bahkan selimutnya, terasa sangat lembut.
Wanita ini sepertinya sangat suka tidur di tempat yang empuk.
Setelah beberapa saat, Victor merasakan gerakan Valerie menempatkan selimut di tengah untuk membagi ruang keduanya. Jika sebelumnya, Victor akan setuju karena berjaga-jaga jika Valerie memanfaatkannya. Namun tidak sekarang.
Victor mencibir. "Kenapa kamu meletakkan selimutnya di tengah? Menurutmu apakah cuaca terlalu dingin?"
"Aku khawatir jika aku tidur di tengah malam, aku akan berpindah ke sisimu. Kamu pasti menduga aku memanfaatkanmu."
"Oh." Victor menutup mata dan tidak berbicara lagi.
***
Di tengah malam, suasana sangat sunyi. Mendengar nafas teratur di sampingnya, Victor membuka matanya. Ia menendang selimut di tengah dengan kakinya. Lalu ia berpindah tubuh ke sisi Valerie.
Hanya dalam beberapa saat, tubuh hangat meluncur ke dadanya. Victor mengangkat alis dengan bibir melengkung. Ia bisa merasakan nafas hangat wanita ini menembus menuju kulitnya. Lembut dan gatal.
Victor mengambil selimut Valerie dan menutupi keduanya. Suara magnetis rendah terdengar di keheningan. "Kali ini murah untukmu."
__ADS_1
Victor mengulurkan tangan dan memeluk tubuh Valerie dengan erat. Ia hanya merasakan tubuhnya lebih lembut dari kasur ini.
Dia dengan nyaman membenamkan kepalanya di bahu Valerie dan menutup mata tertidur.