
Pada saat Valerie tahu akan diadakannya perjamuan, ia menyiapkan gaun khusus untuknya dan Victor. sebenarnya, Valerie kurang tertarik untuk datang ke perjamuan, tetapi mengingat ada plot yang menarik, Valerie berubah pikiran untuk ikut.
Di perjamuan nanti, ada orang yang berniat melukai Javier, tapi Nuella melindunginya hingga terluka. Karena itulah, Javier semakin mencintai Nuella, ia sangat memanjakannya.
Pada saat ini, ia memakai pakaian khusus di tubuhnya yang lebih langsing. Untuk make up, Valerie hanya menerapkannya setipis mungkin, karena tanpa riasan pun wajahnya sudah cantik. Di sofa, Victor sudah siap dengan mengenakkan setelah hitamnya.
"Victor, aku sudah siap."
Pria itu berdiri dari sofa dan mengulurkan tangan. Valerie memegang tangan itu untuk menuntunnya.
"Sepertinya kamu sangat senang akan menghadiri perjamuan itu."
"Tentu saja," jawab Valerie seraya tersenyum.
Victor menyipitkan mata. "Apa yang membuatmu senang?"
"Ada sesuatu yang menarik." Valerie terkikik.
Pria itu mengerutkan alisnya. "Apa yang menarik?"
"Aku tidak bisa memberitahumu," elaknya main-main.
"Lalu, apakah aku menarik bagiku?"
__ADS_1
Valerie menatap wajahnya yang tanpa ekspresi. Ia tidak bisa menahan senyum. "Keberadaanmu melenyapkan ketertarikanku kepada sesuatu yang lain."
Langkah Victor langsung berhenti. Ia menunduk dengan wajah mengarah pada Valerie. Suaranya rendah dan magnetis. "Kalau begitu, jangan melihat orang lain selain aku."
Valerie menatapnya tercengang. "Bagaimana mungkin aku melakukan itu? Aku punya mata, terserah hal apapun ku lihat."
"Kamu menyinggungku sebagai orang buta yang tak bisa melihat apapun."
Valerie tersenyum penuh kesabaran. Ia menarik nafas untuk menemukan kekesalannya. "Baiklah. Maafkan aku."
Victor terdiam. Keduanya melanjutkan langkah bersama-sama. Tiba-tiba, Victor berkata. "Jika seandainya aku bisa melihat kembali dunia suatu saat nanti, hal pertama yang ingin aku lihat adalah dirimu."
Valerie hanya merasa wajahnya panas dengan jantung berdegup kencang.
Chelsea terus menerus melihat ke arah pintu aula dengan tatapan fokus. Perjamuan akan segera di mulai, dan pria itu belum juga masuk. Bagaimana pun, ia harus berada di sisinya sebelum sesuatu terjadi.
Ketiak Gracia lewat, ia melihat Chelsea yang berdiri di pojok. Ia langsung menghampirinya. "Kenapa kamu bersembunyi di sini?"
Chelsea menoleh dengan terkejut. Ia tersenyum kaku. "Aku ...."
Gracia mengira dia sangat malu di tengah keramaian yang sesak ini. Ia menarik tangannya. "Jangan khawatir. Ayo ikut denganku."
Chelsea mengigit bibirnya dan berdiri diam. Kepalanya berpikir keras untuk menemukan cara berada di sisi Victor nanti.
__ADS_1
"Ada apa denganmu?" tanya Gracia dengan heran karena Chelsea tidak mengikutinya.
Sebelum Chelsea menjawab, ia melihat orang yang di harapkan masuk. Ia langsung lega karena takut pria itu tidak datang. Saat matanya tertuju pada Valerie, hatinya menegang dengan kecemasan yang merambat. Hanya beberapa hari tidak melihat, Chelsea hanya merasa dia semakin cantik dan bersinar.
Bukan hanya Chelsea, tapi Gracia pun melihat mereka. "Aku merasa menantuku semakin cantik."
Seolah tersengat sesuatu, Chelsea mengepalkan tinjunya erat. Ucapan Gracia hanya membuat hatinya semakin cemas. Mungkin, sahabatnya membuat wajah Valerie cantik hanya keberuntungan sesaat. Memikirkan akhir yang tragis untuk wanita itu, ketidaknyamanan di hatinya memudar.
Suara para tamu di sekitarnya ricuh.
"Apakah itu Victor?"
"Siapa lagi? Di antara orang kaya seperti kita, hanya dia satu-satunya yang cacat dan buta. Selain itu, di bandingkan dengan Tuan Javier, itu terlalu jauh. Sepertinya, Victor sama sekali tidak malu dengan penampilan dirinya sendiri, ini hanya menjadi lelucon di perjamuan."
Beberapa orang tertawa mendengar ucapan salah satu tamu itu.
"Sudah lama aku tidak melihat pria kejam itu. Sangat mengejutkan ia bisa hadir. Bekas luka jelek di wajahnya benar-benar menghalangi pemandangan."
"Lalu, di mana istrinya yang gendut dan jelek?"
"Entahlah. Aku hanya melihat wanita cantik di sampingnya. Jangan bilang, wanita itu adalah istrinya?!"
"Sulit di percaya! Aku tidak menyangka Victor yang jelek bersampingan dengan wanita secantik itu."
__ADS_1
Banyak putri cantik dari berbagai keluarga kaya. Tapi, tidak ada wanita yang semenarik Valerie. Dari awal ia masuk pintu, semua orang terkesima menatapnya. Dia berdiri di samping Victor yang sama-sama mencolok akan lukanya, tentu saja kombinasi itu sangat kontras.