Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 58


__ADS_3

"Kenapa kamu membatalkan untuk meminta cuti pagi ini?" tanya Archa dengan rasa ingin tahu.


"Aku merasakan sakit perut selama menstruansi, dan aku merasa lebih baik saat ini."


"Itu karena kamu terlalu banyak makan sesuatu yang dingin. Lain kali jangan kamu harus mengontrolnya," tutur Rea.


"Baiklah, baiklah." Valerie mengangguk dan melambaikan tangan.


Archa menatap Valerie dengan serius dan mengernyit. Valerie yang merasakan tatapannya menoleh. "Kenapa?"


Archa menggelengkan kepala dan menghela nafas. "Kenapa aku merasa kamu semakin cantik. Apakah kamu memiliki rahasia?"


Pikiran Valerie langsung tertuju pada Victor. Dan ia hanya tersenyum ringan. "Tentu saja ada. Hanya saja, tidak semua wanita bisa memiliki rahasia itu."


Bahu Archa terkulai kecewa, begitupula Rea. Mereka bertanya bersamaan. "Mengapa?"


"Hmm ...." Valerie berpose berpikir dengan kepala miring. "Mungkin ... bisa di bilang ini sebuah keberuntungan seseorang sepertiku, atau sesuatu yang di takdirkan."


"Aneh sekali. Padahal, aku sangat ingin menjadi cantik sepertimu," kata Archa.


Ketika mereka masuk kelas, bel belum berbunyi. Banyak orang yang masih saling ngobrol dan tertawa. Pada saat ini, seorang pria mendatangi Valerie. Ia mendorong kaca matanya mencoba menyembunyikan wajah merahnya.


"Va-lerie ... "


Valerie menoleh. "Ya?"


"Tidak ada kelas Jum'at ini, dan kami mengundangmu untuk bermain dua hari di rumah pertanian yang telah di buka. Apakah kamu ingin berpartisipasi?" Pria itu mengalihkan pandangan dan menatap dua teman Valerie. "Kalian juga. Apakah akan ikut?"


"Apa yang menyenangkan di sana? Itu membosankan," celetuk Archa.


"Kata ketua regu, di sana kita bisa memancing, camping, menunggang kuda, dan lain-lain. Semua itu belum terlibat dalam kegiatan kelas, dan banyak orang yang tertarik untuk ikut."


"Menunggang kuda? Apakah ada seekor kuda di sana?" Archa mengangkat alis.


"Hanya ada dua ekor kuda. Kuda itu di rawat oleh ayah ketua regu, dan seseorang bisa menungganginya."


Archa menjadi tertarik. Ia menatap kedua temannya. "Valerie, Rea, apakah kalian akan ikut?"


"Jika kalian ikut, aku juga akan ikut," balas Re.


Valerie tersenyum. "Aku juga."


Pria itu terlihat sangat senang. "Kalian bisa mengajak yang lainnya ke sana. Pengawas mengatakan bahwa ada banyak tenda dan bisa untuk banyak orang untuk berkemah."

__ADS_1


***


"Victor, aku akan keluar bermain pada hari Jum'at. Dan aku akan kembali pada akhir pekan."


Pada malam hari, Valerie langsung memberitahu pria itu. Victor yang bersandar di kursi, berkata acuh tak acuh. "Keluar saja. Aku tidak tertarik untuk mengetahuinya."


Valerie cemberut. "Aku meminta izinmu."


Beberapa detik kemudian, sepertinya Victor menyadari sesuatu. Ia mengerutkan kening. "Valerie? Apakah kamu akan bermalam di luar?"


"Aku baru saja mengatakannya. Aku akan kembali akhir pekan, dan tentu saja akan bermalam di luar selama dua atau tiga hari. Mengapa?"


Ekspresi Victor langsung berubah. Agak suram. "Valerie, tidak baik menginap dan bermain di luar."


Valerie mengernyit. "Aku tidak akan melakukan sesuatu yang buruk, ini hanya pesta kelas."


Pada saat ini, Lucher masuk dengan kucing di tangannya. Ia berniat mengucapkan selamat malam. Tapi, ayahnya tiba-tiba memanggil. "Lucher?"


Lucher menatap ayahnya dengan sepasang mata polos. "Ya?"


"Kemarilah."


Lucher berjalan ke arah Victor dengan patuh. "Ya, ayah?"


Mata Lucher langsung berbinar. "Apakah kita akan bermain?"


Victor mengangkat sudut mulutnya dengan kesuraman yang sudah menghilang entah kemana. Dengan ketertarikan di wajahnya, dagunya menunjuk ke arah Valerie. "Kamu bisa bertanya padanya."


Mata Valerie langsung terbelalak. Ia langsung mengerti maksudnya. Apakah pria ini ingin ia membawa Lucher ke sana?


"Apakah kita benar-benar akan bermain?" Lucher menatap Valerie dengan mata seperti bintang-bintang. Bersinar dan cerah. "Kapan kita akan pergi? Bisakah aku membawa Brownie? Atau apakah kita harus membawa banyak banyak enak?"


Valerie belum mengatakan apapun, tetapi pria kecil itu sudah membicarakan apa yang harus di bawa. Ia tidak tahan dengan keantusiasannya.


"Aku tidak pernah keluar untuk bermain, dan aku melihat anak-anak di TV ... itu sangat menyenangkan." Wajahnya yang gembul penuh senyuman bahagia.


Valerie benar-benar tidak tahan untuk menolak Matanya sangat lembut dan hangat. "Baiklah. Aku akan mengajakmu bermain dan berjalan-jalan pada hari Jum'at."


Lucher tertawa senang. Lalu menatap ayahnya. "Apakah ayah akan pergi juga?"


Valerie menggelengkan kepala pelan. Itu adalah kegiatan kelompok, dan lumayan banyak orang yang berpatisipasi. Victor selalu enggan untuk keluar, mendengar pertanyaan Lucher, ia bisa menebak jawaban pria itu. Dia tidak akan mengikuti kegiatan seperti itu. Menurut temperamennya, itu pasti akan membosankan.


Valerie akan memberitahu Lucher, tetapi suara Victor langsung datang. "Aku akan pergi juga."

__ADS_1


Valerie sangat terkejut hingga mulutnya tercengang. "Kamu ... kamu akan pergi juga?"


"Sepertinya kamu sangat terkejut." Victor tertawa. "Aku harus mengikuti seseorang yang berniat menjauh pada malam hari, sehingga dia memiliki tempat untuk kembali."


Valerie mencoba tenang dan berkata. "Akan ada banyak orang yang hadir saat itu."


"Oh," jawab Victor tampak malas.


Valerie tidak tahu harus berkata apa lagi agar pria ini mundur. Bukan itu karena merepotkan, tetapi keadaan yang tidak memungkinkan. "Victor, tidak ada seorang pun yang membawa anggota keluarga mereka untuk berpatisipasi."


Victor tergerak. Mendengar kata 'keluarga' dari mulut Valerie, terdengar halus dan menyenangkan ataupun wajahnya masih tanpa ekspresi. Berpikir sesuatu, bibir tipisnya terangkat, nadanya suram. "Valerie, sepertinya kamu takut di permalukan jika membawamu."


Valerie sudah menduga pikiran buruknya. Ia berkata tanpa daya. "Bukan begitu, aku hanya khawatir kamu tidak menyukai banyak orang dan merasa risih."


"Itu bisa aku kendalikan."


Valerie ingin berkata lagi, tetapi lihat wajah tegas Victor, ia akhirnya menyerah dan hanya bisa setuju. "Baiklah, kamu boleh ikut."


Sudut mulut Victor terangkat. Walaupun masih tanpa ekspresi, ada kelegaan dan kegembiraan di matanya yang tanpa fokus.


***


Pada hari Jum'at yang paling di tunggu-tunggu, cuaca terlihat sangat bagus. Matahari cerah dengan awan yang mengambang di langit biru. Cahaya kuning tersebar di hutan bambu dan melewati dedaunan membentuk titik-titik cahaya di tanah.


Ketika Valerie membuka mata, pria di sebelahnya sudah bangun terlebih dahulu. "Pagi."


Sangat jarang dia mengucapkan selamat pagi dengan inisiatifnya sendiri. Terlebih lagi, wajahnya terlihat lebih cerah. Valerie tersenyum. "Pagi."


"Mengapa baru bangun?" Suara imut dengan keluhan tiba-tiba datang dari arah pintu.


Valerie menoleh dan melihat Lucher sudah bersiap dengan ransel kuning kecil dan Brownie di pelukannya. Valerie tidak tahu harus menangis atau tertawa. "Kamu sudah bersiap sepagi ini?"


Senyum di wajah bulatnya sangat cerah. Ia berkata malu-malu. "Aku bangun pagi untuk berkemas."


Valerie turun dari tempat tidur dan mendekatinya. Ia mengangkat ransel di belakangnya. Agak berat, tidak tau apa isinya. Valerie membuka resleting dan melihat isinya. Ada mobil-mobilan, cemilan berupa permen, biskuit, dan mainan lainnya.


Valerie tertawa geli. "Mengapa kamu membawa banyak mainan? Jangan membawa mainan ini, karena di sana sudah banyak mainan yang lain."


Mata Lucher bersinar. "Benarkah?"


"Ya."


Lucher langsung mengeluarkan setengah mainannya. Valerie menggeleng lucu dan berjalan ke kamar mandi untuk bersiap-siap.

__ADS_1


__ADS_2