Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 19


__ADS_3

Sebagai anak orang kaya di keluarga Spare, seharusnya Lucher mendapatkan apa yang di inginkan, namun Valerie mengetahui bahwa si kecil tidak memilik mainan selain Brownie. Bahkan, ayunan di halaman telah menjadi permainannya yang langka.


Setelah keluar dari toko makanan penutup, Valerie langsung membawa keduanya ke toko mainan.


Valerie meminta Victor untuk menunggu di pagar pintu luar, lalu ia dan Lucher masuk.


Valerie menoleh ke arah Lucher yang tengah menatap seorang anak lain yang membelit orang tuanya untuk membeli mainan.


Masing-masing orang tua mereka mengambil mobil yang si sukai anak itu, dan pergi ke pembayaran.


Lucher menatap mereka penuh kerinduan.


Valerie berjongkok dan bertanya lembut. "Apakah kamu menyukainya?"


Lucher mengangguk antusias.


Valerie memanggil seorang petugas toko mainan, ia menunjuk ke tumpukan mainan di depannya dan berkata. "Saya ingin membeli semua mainan ini, dan tolong kirim ke rumahku."


Lucher mendongak dengan terkejut. Mata besarnya berbinar. "Membelinya untukku?"


Valerie menyentuh kepala kecilnya. "Ya, aku membeli semuanya untukmu. Lucher berperilaku baik dan patuh hari ini, jadi aku menghadiahkannya untukmu."


Ujung telinga memerah. Bibir Lucher agak mengerucut. "Aku berperilaku baik setiap hari."


Valerie terkekeh. "Aku tahu."


Setelah meninggalkan toko mainan, Valerie menarik Lucher berjalan kembali ke Victor. Pria itu bergeming seperti patung hidup.


Valerie tersenyum jahil. Ia melepaskan pegangan Lucher dan memberi kode untuk tidak bersuara. Lucher mengangguk patuh dengan rasa ingin tahu.


Valerie menyentuh tangannya dengan wajah berhadapan dengan pria itu. Tapi, dia sama sekali tidak menolak sentuhannya. Valerie merasa heran.


"Valerie, kamu semakin berani," kata Victor tiba-tiba.


Bibir Valerie mengerucut. "Bagaimana kamu tahu itu aku?"


Ia tidak menjawab, namun bibir tipis Victor sedikit melengkung. Ada aroma susu familier yang mencapai hidungnya, bagaimana mungkin ia tidak tahu?


Valerie memegang masing-masing tangan mereka kembali melanjutkan perjalan. Saat melewati toko pakaian pria, Valerie melirik ke dalamnya. Setelah berpikir sejenak, ia membawa Victor masuk.


"Selamat datang si toko kami," sambut penjual toko itu.

__ADS_1


Valerie menunjuk ke sebuah pakaian yang di kenakan patung model. "Apakah baju itu sesuai dengan ukurannya?"


Petugas itu menatap Victor yang tinggi di samping Valerie. Dia memiliki temperamen dingin dan ada bekas luka di wajanya. Tanpa sadar ia gemetar dan berkata cepat. "Ba-iklah. Harap tunggu."


"Kamu akan membeli pakaian untukku?" Victor mengangkat alis. "Aku tidak tahu bagaimana cara memakai pakaian biasa."


Valerie mengulum senyum dan berpura-pura. "Siapa bilang aku membelikannya untukmu? Aku hanya memintamu untuk mencobanya."


Victor langsung menebak bahwa pakaian itu untuk Javier, dan wanita ini dengan terang-terangan memintanya untuk mencoba pakaian Javier?


"Nilai marah: 10."


Ekspresi Victor merosot. Ia mencibir dengan dingin. "Aku tidak mau mencobanya!"


Valerie tercengang. Bel langsung berdering di benaknya. Rasa sakit menghantam kepalanya. melihat wajahnya yang tenggelam, ia buru-buru berkata. "Aku hanya bercanda, jangan marah. Pakaian ini aku belikan untuk hadiah ulang tahunmu.."


Valerie bergegas mengambil pakaian yang di serahkan petugas. Ia membuka satu-persatu kancingnya dan menyerahkannya kepada Victor. "Cobalah. Aku pikir kamu akan terlihat bagus memakai pakaian ini."


"Nilai marah: 0."


Valerie mendesah lega.


Kedinginan di ekspresi Victor agak berkurang. Ia berkata perlahan. "Siapa yang menginginkan hadiah ulang tahun? Dan apakah aku memintamu untuk menyenangkaku?"


Victor sedikit cemberut di bibir tipisnya. Namun ia mengambil pakaian itu dan berkata. "Penglihatanmu kurang bagus."


Valerie tersenyum sabar.


"Di mana ruang berganti pakaian?


Petugas yang masih termangu mendengar obrolan keduanya langsung pulih. Ia segera menjawab. "Ruang pas ada si sebelah sini. Tolong ikuti saya."


Victor berdiri diam. Valerie mengulurkan tangan dan meraih lengan pria itu dan menariknya ke ruang pas.


Valerie membawanya masuk ke dalam. "Aku menunggumu di luar. Panggilah aku jika sudah berpakaian."


Tanpa menunggu jawabannya, Valerie langsung keluar dan menutup pintu.


Petugas yang sedari tadi melayani baru menyadari bahwa pria itu buta. Ia merasa lebih terkejut.


Valerie dan Lucher duduk di sofa, dan menunggu Victor dengan santai.

__ADS_1


"Lucher, jika ayahmu keluar, kamu harus memujinya, oke?" Valerie mencubit pipinya yang gembul dengan lembut.


Lucher menatap Valerie dengan mata berkedip-kedip. Lalu ia tersenyum lebar. "Ayahku sudah pasti yang paling tampan!"


Valerie tertawa. Mencoba menggodanya. "Lalu, bagaimana dengan penampilanku?"


Alis Lucher berkerut kencang. Ekapresinya terlihat kesusahan. Setelah beberapa saat, ia berkata malu. "Tidak terlihat bagus. Aku adalah anak baik dan tidak berbohong."


Senyum di wajah Valerie luntur. Aku lupa bahwa aku masih jelek.


Valerie merasa sedih. Dulu ia di anggap peri yang cantik di depan anak-anak.


Sekarang timbangannya seratus dua puluh kati, dan Victor marah beberapa saat lalu, besok pasti menurun menjadi seratus dua puluh. Ia masih di bilang gemuk.


Di bandingkan dengan kulit Lucher saat ini, kulitnya masih agak gelap dan kekuningan. Namun ia yakin besok kulitnya akan lebih baik.


Mendengar ucapan jujur Lucher, Valerie hanya berharap dan lebih semangat untuk menjadi cantik!


Pada saat ini pintu tiba-tiba terbuka.


Melihat pria itu melangkah keluar dengan kaki panjang di celana hitam, Valerie mendongak dengan ekspresi tertegun.


Ini pertama kalinya Valerie melihat Victor memakai pakaian selain warna hitam, yaitu kemeja putih. Ciri wajahnya cantik, sudah pasti jika bekas luka itu tidak ada, wajahnya bersinar tampan.


Valerie berdiri dan berjalan mendekat.


Victor masih mengenakan topi, dagunya sedikit terangkat, dua kancing di garis leher kemejanya tidak di kancingkan menampilkan jakun yang seksi dan menonjol. Butuh waktu lama Valerie pulih dari pesonanya.


Victor mendinginkan wajahnya. Ia mengulurkan tangan mencoba membuka kancing dan berkata jijik. "Ternyata kamu benar-benar tidak memiliki penglihatan baik untuk memilih pakaian."


Valerie dengan cepat maju dan menahan tangannya. "Jangan di lepas!"


Gerakan Victoe berhenti. Valerie tersenyum lembut, tulus dan memujinya dengan suara rendah. "Aku sama sekali tidak memiliki penglihatan buruk, buktinya pakaian yang kamu kenakan sangat bagus. Kamu sangat tampan."


Lucher segera turun dari sofa dan berkata dengan suara lucu. "Ayah sangat tampan! Lebih tampan dariku!"


Melihat ekspresinya mereda, Valerie mengulurkan tangan untuk merapikan kemajanya yang kusut, dan merapikan bagian kerahnya. "Aku tahu pakaianmu di buat khusus. Ini memang tidak terlalu bagus jika di bandingkan dengan semua pakaianmu. Jadi, jika kamu tidak menyukainya, lupakan saja."


Lucher menyiapkan hadiah untuk ayahnya sendiri, sebagai istri nominalnya, Valerie tidak menyiapkan apapun. Dan ia tidak tahu hadiah apa yang harus di berikan. Saat ini ia sudah menunjukkan niatnya dengan membelikannya kemeja ini, jika dia memang tidak menyukainya, Valerie merasa tidak masalah.


"Fondasiku bagus, dan aku akan bagus dalam segala hal yang aku kenakan," ucap Victor percaya diri, namun tidak ada ekspresi apapun di wajahnya. "Karena kamu memberikannya untukku, aku akan menerimanya."

__ADS_1


"Baiklah. Ambilah jika memang kamu menyukainya."


Valerie sudah terbiasa dengan kepribadiannya yang tidak bisa di prediksi. Ia hanya tersenyum.


__ADS_2